Kabar Terkini

Misa B minor dan Bach


B minor memiliki kesenduan yang pekat. Namun dalam tangga nada inilah Johann Sebastian Bach yang terobsesi dengan numerologi menciptakan salah satu karya besarnya yang berani. Misa B minor adalah karya monumentalnya yang diinspirasi oleh rangkaian ordinarium misa gereja Lutheran di mana ia bekerja sebagai organis dan kepala musik.

Bach sendiri mengambil langkah berani untuk mengangkat teks Latin yang diperdebatkan oleh banyak kalangan Gereja Protestan Lutheran kala itu karena terlalu lekat dengan bahasa tata ibadah yang digunakan oleh Gereja Katolik Roma yang beroposisi dengan gereja Lutheran yang subur di Jerman sesudah reformasi gereja kencang berhembus di abad 16. Seorang Bach yang taat dan agamis di Gereja Lutheran ternyata berani angkat suara dalam kontestasi kultural yang disebabkan oleh perpecahan gereja dan mengambil langkah yang agaknya berseberangan dengan lazimnya gereja Protestan pada masanya yang berjuang untuk mendirikan identitas kultural dan kekhasannya yang berbeda dari otoritas Vatikan. Karya berdurasi 2 jam lebih ini dikerjakan selama paling tidak 35 tahun dan mengalami beberapa kali revisi hingga akhirnya selesai tahun 1749, setahun sebelum sang komponis wafat.

Malam ini giliran ensemble barok Prancis Les Arts Florisants yang bermarkas di Caen yang hadir di panggung Royal Albert Hall malam kemarin. Pendiri sekaligus konduktor utama William Christie yang hadir di podium sebagai pemimpin ensemble sekaligus pemain continuo. Les Arts Florisants sendiri hadir dengan formasi lengkap paduan suara dan orkestra barok dengan ukuran yang cukup besar untuk karya Bach yang juga tidak kalah megah. Katherine Watson sebagai soprano dan countertenor Tim Mead hadir di atas panggung bersama tenor Reinou van Mechelen dan bariton André Morsch. Keempatnya tampil dengan meyakinkan dan menawarkan pendekatan yang hidup untuk karya ini.

William Christie sendiri secara berbeda mengambil pendekatan yang lain atas karya pemuncak komponis besar ini. Di saat banyak interpreter membawakan menekankan aspek ritmis dari karya barok dan beberapa mengangkat keseimbangan aspek bobot romantik, Christie justru mengambil jalan yang berbeda. Aspek kalimat legato yang mengalun dan bersambung dari satu suara ke suara yang lain menjadi kekhasan interpretasi malam ini. Alunan kalimat itupun berlandaskan lapisan musikal yang mengalun ringan dan bertabur kemilau jernih nada-nada dari instrumen kuno yang digawangi pemain-pemain dari Prancis ini. Bagi mereka yang menantikan hentakan ataupun ayunan tarian dalam karya Bach ini, mereka hadir dalam konser yang salah. Hanya para solois bersama beberapa solois orkestra yang berani memberi ayunan lebih dalam beberapa nomor solo mereka. Namun demikian, semuanya masih terjaga dalam pendekatan yang anggun dan terjaga dengan kepekaan membentuk kalimat panjang dalam keindahan motifik yang halus terjaga.

Dalam gedung konser Royal Albert Hall, aspek ketenangan batin kini menjadi lekat dalam karya ini dan membawa dimensi spiritual dalam karya yang diperdebatkan para ahli sebagai sebuah karya profan yang terinspirasi dari sebuah dialog religius dan bukan karya religius murni. Ya, bilamana rangkaian teks misa ini sebenarnya bisa dibacakan tanpa harus dinyanyikan selama 2 jam. Tidak praktis dalam ibadah, belum lagi ditambah unsur lain yang memang menjadi hal utama ibadah misa, bisa jadi ibadah berlangsung lebih dari 3.5 jam di hari Minggu. Jujur saja, ketika Bach masih hidup karya Misa B minor ini tidak pernah ditampilkan secara utuh dan digunakan sebagai musik ibadah. Tidak heran beberapa musikolog mengambil kesimpulan bahwa karya ini adalah karya pertunjukan dan bukan karya untuk peribadatan.

Di saat banyak interpretasi menekankan pada aspek gairah dan dinamis seorang J.S. Bach terutama dalam praktek instrumen musik kuno Eropa, sentuhan William Christie membawa kembali ekspresi seorang komponis yang polos dan lugu namun dengan kompleksitas musikal yang begitu mendalam, menekankan kembali spiritualitas dari karya ini. Les Arts Florisants pun bukan hadir menekankan aspek pertunjukan dari karya ini, namun lebih kepada ekspresi batin. Sebuah interpretasi yang sungguh menarik.

les arts florisants2

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: