Kabar Terkini

Rolls-Roycenya Orkestra, Berlin Philharmonic


Mesin Rolls-Royce berdengung lembut, inilah salah satu mesin andalan dalam dunia otomotif. Mesinnya yang sunyi dan minim getaran menyimpan tenaga torsi yang luar biasa. Hening dan stabil menjadi karakteristiknya sebelum menggerung hebat melepaskan potensi yang tersimpan dalam pergerakan komponen-komponennya. Letupan mesin yang bertubi tidak mengubah keajegan mesin, tetap terjaga dan tanpa gelitik, sebelum akhirnya melesat tanpa jejak.

Berlin Philharmonic Orchestra yang hadir malam ini di panggung Royal Albert Hall dalam rangkaian BBC Prom menunjukkan hal yang persis sama. Berlin Philharmonic yang didapuk sebagai salah satu orkestra terbaik dunia menunjukkan kelasnya dalam tournya ke panggung Proms di London kali ini. Penampilan mereka kali ini bersama direktur musik mereka, Simon Rattle mengangkat karya Gustav Mahler Symphony no.7 yang mengetengahkan intrikasi mesin sebuah orkestra. Penulisan Mahler yang selalu mendetail seakan menjabarkan dengan seksama cetak biru komponen mesin yang rumit. Hanya orkestra yang mumpuni saja yang dapat menyatukan cetak biru tersebut hingga menjadi mesin yang utuh dan berfungsi penuh.

Berlin Philharmonic sungguh menghidupi reputasinya. Seksi geseknya adalah sebuah mesin musik romantik yang sempurna, warnanya yang tebal dan hangat mampu meliuk dengan bebas. Sesekali menggerung keras, sesekali berbisik halus, sesekali bernyanyi dengan lantang, semuanya tanpa kehilangan garis legato dan fluiditasnya, sebuah karakter yang diidentikkan oleh kritikus musik dengan suara Wilhelm Fürtwangler, direktur musik orkes ini di tahun 1930-an yang membekas hingga sekarang. Namun Simon Rattle juga menambah karakteristik kecemerlangan yang lain, seksi tiup kayunya terasa matang dan ranum, padu sebagai satu segmen yang kuat dan saling berkait erat dengan warna seksi gesek. Seksi tiup logamnya bisa jadi mengundang decak kagum dan iri karena fungsinya sebagai unit yang padu dan kompak sekaligus kuat bersinar tanpa kehilangan kemampuannya berinteraksi penuh dengan warna seksi orkestra yang lain. Sungguh orkestra ini semalam tampil dalam performanya yang sempurna, bagai mesin Rolls-Royce yang menderu lembut sebelum menggeram halus melepaskan tenaga penuh.

Simon Rattle pun berperan sebagai pelumas kualitas wahid yang merekatkan orkestra ini. Gerak orkestra dalam tonalitas yang progresif di bagian pertama dieksekusi dengan meyakinkan, mengingatkan penulis pada pergerakan musik Richard Wagner yang tiada henti dalam sebuah kesatuan yang nyata. Energi yang tersampaikan dalam bagian ketiga juga menyiratkan hal yang serupa. Bagian kedua dan keempat bertajuk Musik malam bersenandung lirih menyanyikan garis melodi dengan merdu. Instrumen gesek yang hangat mengembang bersambung sapa dengan seksi tiup dengan padu, sebuah perwujudan ekspresi yang mendalam dari orkestra berpadu pergerakan harmoni yang pekat membungkus. Musik pun seakan berhembus bagai satu nafas yang tiada terputus. Bagian kelima sebagai penutup, seksi tiup logam unjuk gigi dengan kematangan yang mempesona lewat garis dan lekuk musikal yang padu dan tersusun indah. Sayangnya pada bagian terakhir ini Rattle nampak kewalahan menjahit keutuhan bagian sehingga kefasihan tutur agak terganggu dalam fase-fase rondo yang datang silih berganti bertabur dentang lonceng yang bersahutan.

Konser pun dibuka dengan berani. Karya Pierre Boulez Eclat dibawakan presisi sempurna, seakan Rattle menelanjangi orkestra ini hingga tulang-belulangnya. Limabelas instrumen dipilih untuk mengetengahkan sebuah esai musikal. Meski berjudul ‘Letupan’ karya ini seakan tidak mengetengahkan letupan sama sekali. Justru keheningan dan aproporsi yang diketengahkan di mana instrumen saling independen satu dengan yang lain. Karya ini sendiri adalah sebuah deklarasi dari Berlin Phil akan peran direktur musik Simon Rattle kini yang memperkenalkan musik baru dalam repertoire orkestra ini. Di tangan Rattle, orkestra ibu kota Jerman ini ditantang untuk menanggalkan jubah orkes romantiknya dan menjelajah langsung ke dalam dunia transparansi ensemble modern, sebuah tantangan yang dijawab dengan paripurna. Kini orkestra ini telah berhasil mengembangkan transparansi suara dan netralitas musik.

Malam ini Royal Albert Hall penuh sesak menyambut orkestra yang hadir dua hari (Jumat dan Sabtu) minggu ini. Namun Berlin Philharmonic memang tidak mengecewakan terutama bagi mereka yang tumbuh dengan suara khas orkestra di dalam rekaman berlabel kuning ini. Bagai mesin Rolls-Royce yang menggerung lembut tanpa getaran, Berlin Philharmonic semalam mewujud sebagai orkestra romantik bertenaga, sebuah puncak dalam pencapaian artistik orkestral.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: