Kabar Terkini

Akustik dan Tempo


Tempo seringkali menjadi perbincangan klasik dalam interpretasi musik: seberapa cepat atau lambatkah yang diperlukan dalam membina musik? Dalam perbincangan dengan kawan-kawan musisi di Jakarta, sering kali penulis mendapatkan tatapan penuh tanya ketika penulis mengemukakan bahwa pemilihan tempo bergantung pada akustik gedung, seakan sebuah keanehan. Dalam tulisan ini, mari kita sedikit selidiki relasi tempo dengan akustik.

Dalam khasanah musik klasik, tempo seringkali digambarkan dalam rupa tanda, baik dalam bentuk kata-kata penunjuk maupun penggunaan metrik seperti jumlah ketukan dalam bar. Namun hingga kini dapat kita temukan begitu banyak interpretasi akan tanda tempo tersebut, memberikan warna yang sedemikian beragam dalam spektrum. Namun menyelidiki akustik dapat membawa jawab tersendiri dalam menilik tempo dan menentukan seberapa derajat dalam spektrum tersebut yang ingin dipilih.

Ruang sendiri memiliki definisinya sendiri. Sebagaimana dalam tulisan saya di tahun 2009 tentang akustik, setiap ruang akustik memiliki responsnya sendiri-sendiri dalam menanggapi warna suara dan kejernihan. Beberapa ruang memiliki reverb yang cukup panjang, sedang beberapa memiliki kepekaan decay yang cepat yang bahkan dapat mengganggu kualitas suara yang berkumandang di dalamnya. Lantas apa hubungannya dengan tempo?

Tempo bukan hanya sekedar persoalan seberapa cepat musik harus dilantunkan, namun juga berhubungan dengan bagaimana kecepatan lantunan tersebut mampu mempengaruhi makna yang ditangkap oleh pemirsa. Dalam hal ini perlu disadari dengan sangat bahwa musik yang didengar oleh pemusik, tidak tentu musik yang didengar oleh penonton yang duduk puluhan meter jauhnya dari penonton.

Memang paling mudah bagi musisi untuk menyalahkan kualitas akustik gedung maupun mungkin kepakaran seorang sound engineer di belakang alat mereka, kontrol mereka sangat minimal mungkin dalam pemilihan auditorium yang dapat mereka gunakan. Dan kemudian, musisi seringkali bermuram durja dengan keadaan akustik gedung yang mereka hadapi.

Namun pada kenyataannya, pemilihan kecepatan musik yang dimainkan dapat menjadi jalan keluar terhadap dilema akustik yang dihadapi. Setiap karya memang seringkali ditulis dengan sebuah konsep akustik di kepala sang pencipta, suatu hal yang bisa diselidik namun seringkali juga tidak dapat dijawab serta definitif. Seringkali sedikit perubahan pada tempo dapat membantu penyampaian sebuah karya.

Perbincangan perubahan tempo yang bergantung pada ruang akustik seringkali menjadi sebuah diskusi yang seakan tabu, terutama apabila dihadapkan dengan diskusi romantis akan proses kreatif seorang musisi. Seringkali adalah pandangan umum bahwa seorang musisi memilih tempo dan kecepatan karya berdasarkan wahyu ilahi yang turun atas para musisi, sehingga mereka dapat menentukan kecepatan musik yang mereka mainkan. Dan wahyu ilahi ini seakan bersifat menetap dan tidak dapat dinegosiasikan, tempo kemudian juga menjadi sebuah diskusi yang sakral dan menghapus pandangan pragmatis akan tempo.

Tempo adalah sebuah imaji dan permainan persepsi dalam musik dan tidak dapat dipungkiri bahwa penonton memegang peranan yang luar biasa istimewa dalam permainan persepsi ini. Yang menjadi penting adalah persepsi ini menjadi milik sepenuhnya penonton. Seringkali diskusi dalam menentukan tempo dan pendekatan musik berpaling jauh dari penonton. Dalam hal ini pandangan romantis seorang seniman yang seorang diri menentukan setiap aspek artistik begitu lekat, mulai dari komponis hingga musisi yang menjadi interpreter, tapi acap aspek penonton terlantar dalam permainan persepsi ini.

Memikirkan penonton dan persepsi serta permainan ruang dan suara berarti juga mempertimbangkan bagaimana suara bereaksi dengan ruang dan bagaimana hasil reaksi tersebut bersentuhan dengan persepsi pendengar. Tempo yang lebih lambat dan bahkan nada yang lebih pendek dapat menjadi sebuah solusi akan sebuah pendekatan musik dalam ruangan yang banjir gaung. Demikian pula dengan karakteristik akustik yang lain yang kemudian juga dapat mempengaruhi pertimbangan artistik

Di sini, sensitivitas seorang musisi juga fleksibilitasnya dalam menanggapi perbedaan ekspektasi menjadi hal yang utama. Musisi pun kini dapat pula memikirkan bagaimana suara ini dapat diterima dengan baik oleh penonton di bangku masing-masing, setelah dibubuhi properti akustik dalam ruangan tersebut.

Tulisan ini bukanlah menafikkan pentingnya pemahaman sang musisi akan tempo. Namun tentunya, pengertian yang definitif akan tempo sangatlah dapat diperdebatkan dan kini ada satu elemen lain yang perlu dijawab, yakni persepsi penonton. Apakah tempo adalah hal sakral? Seringkali jawabnya adalah tidak. Kini bergantung pada bagaimana banyak elemen tersebut melebur dalam pemahaman akan bagaimana musik tersampaikan, baik sebagai teks maupun sebagai pemahaman musik sebagai sebuah pengalaman termediasi.

Tempo dan akustik? Relasinya ternyata sangat erat sekali.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: