Kabar Terkini

Kegelisahan Bruckner: Organis atau Komponis


Anton Bruckner di sepanjang hidupnya berjuang melawan identitas profesional sebagai seorang organis. Meski instrumennya kerap berjuluk rajanya instrumen dan ia adalah salah satu organis dengan reputasi cemerlang, ia ingin lebih dikenal sebagai seorang komponis dibanding seorang organis. Bertahun ia mencoba melawan imaji tersebut dan dalam karyanya Symphony no.3 yang ditampilkan malam ini, tergambar dengan jelas bagaimana ia perlahan mengejar mimpinya tersebut.

Adalah permainan Staatskapelle Dresden di bawah arahan konduktor Christian Thielemann yang menjadikan proses perlawanan dan perjuangan seorang Anton Bruckner begitu nyata. Dalam bagian pertama, komposisi berangkat dari imaji sebuah organ raksasa dengan instrumen tiup logam maupun kayu yang rigid namun terjalin dalam lantunan melodi yang meluluhkan hati dan bersahut dengan dinamis dengan diapason pada instrumen gesek yang menyapu. Bruckner yang berada dalam zona nyaman dan kokoh sebagai organis perlahan tumbuh menjauh lewat bagian demi bagian simfoni. Di sisi lain, ide pengembangannya semakin menunjukkan keresahan yang semakin menjadi dalam dirinya. Perlahan Dresden Staatskapelle menjelma sebagai sebuah orkestra utuh dan bukan lagi sebuah representasi organ pipa, dengan permainan yang menguji batas-batas permainan orkestra. Simfoni yang didedikasikan bagi Richard Wagner ini perlahan menanggalkan kesederhanaan, berkembang semakin kompleks dan rumit.

Christian Thielemann sendiri lewat kepemimpinannya seakan memberi ruang orkestra untuk tumbuh berkembang. Ia memberi impuls dan emosi pada setiap titik krusial musik sekaligus menuntut orkestra bermain dengan insting dan kebersamaan yang terukur dan intens.

Konser sendiri dibuka dengan Piano Concerto no.21 dari Wolfgang Amadeus Mozart dengan pianis Daniil Trifonov. Dengan kadenza karangannya sendiri, Trifonov hadir memberikan sentuhan personal pada salah satu karya konserto piano populer dari komponis kelahiran Salzburg ini. Permainannya cemerlang dan hidup dengan spontanitas yang seakan membuncah dan bertabur virtuositas, namun agaknya spontanitas tersebut tidak selamanya mampu tertampung dengan baik dalam wadah permainan orkestral. Warna orkestra yang penuh sebenarnya memberi nafas pada permainan secara utuh, namun ketiadaan interaksi permainan musik kamar antar Thielemann, Trifonov dan orkes kota Dresden ini menjadikan permainan kurang meyakinkan. Entri dan permainan warna yang sungguh jelas dalam konserto Mozart yang cenderung transparan seakan menelanjangi orkestra dengan solois di panggung. Sungguh sayang, namun demikian Promenaders memang terkenal sebagai kelompok yang hangat, mereka tetap bersorak dan Trifonov pun tetap membawakan sebuah encore untuk menutup babak pertama.

Tiga kali dalam minggu ini Mozart bersanding dengan Bruckner di rangkaian Proms. Namun dalam dua kesempatan penulis menyaksikannya, tergambar bagaimana ada ketimpangan dalam penggarapan karya komponis yang lebih populer tersebut. Nampaknya bagi orkestra Jerman, termasuk Dresden Staatskapelle, karya Bruckner jauh lebih menantang dan sungguh memang terlihat lebih difokuskan dalam penggarapan dan pemaknaan. Nampaknya mimpi seorang Bruckner untuk dikenal sebagai komponis sungguh telah terwujud.

dresden-staatskapelle2

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: