Kabar Terkini

Ketika Akhir Zaman Menggema


Tiga ratus lima puluh suara muda menyanyi dengan lantang, mengangkat kengerian di saat kiamat. Sangkakala pun berbunyi nyaring bersahutan dari atas panggung dan kiri dan kanan ruangan, meraungkan kengerian di akhir zaman. Inilah drama yang diangkat Giuseppe Verdi dalam karya Messa de Requiem yang ditulisnya tahun 1874.

Orchestra of the Age of Enlightenment yang tampil dengan format besar kali ini mengawal paduan suara masal BBC Proms Youth Choir membawakan karya monumental ini. Dipimpin konduktor Marin Alsop, orkestra yang khas dengan instrumen musik masa romantik ini tanpa rintihan yang terlampau melodramatik, mampu mengetengahkan kualitas karya dalam lekuk liuk yang dinamis tanpa kehilangan kelirihan. Dengan barisan tiup logam yang terdengar benderang dipadu dengan seksi gesek yang sayu namun menggelegak disambung barisan tiup kayu yang kokoh dan padat. BBC Proms Youth Choir sendiri dipimpin oleh Simon Halsey menjadi sajian utama yang berkarakter dari bisikan yang menghantui hingga seruan yang menggelegar. Dengan sajian yang penuh kepekaan, setiap kata dan nada dinyanyikan dengan penuh makna dan penghayatan sehingga musik sedemikian hidup dan menyentuh.

Keempat solois pun juga tampil istimewa. Soprano Tamara Wilson dengan kontrol penuh menyajikan karya dengan lirih tanpa beban dengan resonansi penuh yang membuat seluruh Royal Albert Hall terkesima. Mezzosoprano Alisa Kolosova hadir dengan warna suara yang lirih dan fleksibel, memberi warna yang cerah pada warna solo namun secara istimewa menjadi perekat dalam ensemble keempat solois. Tenor Dimitri Pitas yang menggantikan Michael Fabiano yang mendadak berhalangan mampu menyajikan karakter pada musik sedangkan bass Morris Robinson dengan gelagat panggung yang lepas memproyeksikan karya lewat suaranya yang dalam dengan sentuhan kelembutan tersendiri. Keempatnya mampu mengimbangi paduan suara yang berjumlah ratusan orang tersebut.

Marin Alsop sebagai seorang konduktor juga menampilkan otoritas penuh dalam menyusun ide-ide musikal yang sedemikian meyakinkan. Musik mengalir penuh dengan tenaga namun tidak kehilangan kontrol sedikitpun pada rupa-rupa kehalusan budi. Requiem ini terasa ringkas dan padat dengan helaan rubati yang minimal namun ia tetap memberikan ruang yang cukup untuk meraih momentum musik. Paduan suara dan solois pun ia bentuk dengan hangat dan padu, bukti kepekaanya pada instrumen suara manusia. Dalam kesempatan lain ia menjadi motor orkestra yang seakan tiada berhenti bergerak. Otoritas konduktor asal AS ini tampak dengan sangat kuat, beberapa penonton yang tidak mengetahui dirinya akan mengira lewat bahwa ia adalah seorang konduktor laki-laki. Tidak heran, ia adalah salah satu konduktor perempuan pertama yang mampu menembus kancah pengabaan di Eropa dan Amerika yang sangat didominasi kaum pria. Kualitasnya kepemimpinannya semalam adalah kelas wahid.

Menjelang Last Night of the Proms yang menutup festival musik tahunan ini, Proms 74 adalah rangkaian penghujung Proms tahun ini. Setelah mengetengahkan Requiem karya Faure pada Proms 2, barisan orkestra yang sama menutup dengan Requiem karya Verdi yang bergolak meneriakkan kengerian kiamat. Sebagai seorang komponis opera romantik ulung, Verdi tidak menyianyiakan sedikitpun teks religius ini dan mengembangkannya dengan ketelitian yang sempurna. Verdi sendiri sebagai seorang agnostik memilih untuk menggubah Requiem ini untuk mengenang kawan sesama komponis, Cherubini, dan tidak mengembangkannya sebagai sebuah komposisi musik yang melambangkan keimanan, melainkan sebagai sebuah komposisi yang menekankan drama lewat intrikasi musik dan lebih cocok berada di panggung gedung konser dan bukan di dalam gereja.

Sebuah sajian yang memukau hari ini untuk menutup rangkaian Proms sebelum memasuki acara Last Night of the Proms malam ini yang penuh dengan kemeriahan. Pertunjukan yang asyik dan berharga untuk disaksikan malam ini.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: