Kabar Terkini

The Last Night of the Proms: Pertunjukan Keadidayaan


~ oleh Kinnata Nikko

Last Night of the Proms menutup rangkaian acara BBC Prom 2016, yang didedikasikan untuk perayaan 400 tahun kematian penggubah sandiwara kenamaan, William Shakespeare. Sebagaimana dituturkan David Pickard, Direktur BBC Proms, karya yang menjadi highlight di antaranya adalah, Mendelssohn, Tchaikovsky, Jonathan Dove, Faure, Berlioz. Di samping itu, dedikasi ditujukan untuk peringatan Erik Satie (150 tahun), Henri Dutilleux (100 tahun), dan tahun wafatnya David Bowie dan Pierre Boulez (1 tahun). Cello menjadi instrumen sorotan utama untuk Proms tahun ini, dengan penampilan total 10 konserto cello dan multiple-cello Proms Chamber Music concert yang dipimpin oleh Guy Johnston. Selain itu, Olimpiade dunia 2016 di Brazil juga menginspirasi tatanan karya dan pilihan artis, di antaranya diva Juan Diego Florez, seorang Peru, yang menyuguhkan karya-karya komponis dunia dan Amerika Selatan.

Rangkaian ‘The Last Night’ Sabtu kemarin dimulai dengan komponis muda Tom Harrod ‘Raze’, yang digubah spesial untuk the Last Night of the Proms 2016 dan dibawakan oleh BBC Proms Youth Ensemble. Segenap karya yang ditampilkan mempunyai spektrum emosi yang sangat luas, dari kegembiraan, kemegahan, indahnya melodi, indahnya pilu, sedih, jenaka, hingga nostalgia. Terasa sekali unsur globalisasi dengan karya-karya dan pemusik dari penjuru dunia. Ketakjuban atas performa tenor Juan Diego Florez tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ia tampil apa adanya sebagai dirinya sendiri dengan indah mempesona, membawakan musik lokal Amerika Selatan, Rule Britannia, maupun karya-karya musik opera yang sangat teknikal dari Rossini, Donizetti, dan Offenbach. Hanya segelintir soloist vokal yang bisa membawakan karya musik opera tersebut dengan sempurna dan effortless.

Serenade to Music menjadi salah satu highlight unik malam ini di mana karya pemirsa dapat menikmati cuplikan pembukaan babak ke-5 dari drama The Merchant of Venice karya Shakespeare yang sangat amat indah dan penuh cinta. Karya ini penuh dengan mimpi-mimpi sensualitas, merangsang para kritik menjuluki cuplikan tersebut, yang didominasi dengan solo biola, ini sebagai salah satu karya terindah sepanjang masa. Michael Kennedy, kritikus dan penulis biografi Vaughan Williams merestui, “ Karya ini seluruhnya keperakan dan secemerlang cahaya bulan.”

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Fantasia on British Sea-Songs karya Henry Wood yang memproyeksikan kilas-kilas dinamika suatu bangsa besar dalam konteks patriotisme, dibuka dengan ‘The Saucy Arethusa’, dilanjutkan dengan kepedihan ditinggal mati saudara kandung lirik ‘Tom Bowling’, jenaka parodi ‘Jack’s the Lad’, kekalahan perang ‘Skye Boat Song’, dan ditutup dengan kemegahan kejayaan, dan kemenangan lewat gubahan Thomas Arne (arr. Malcolm Sargent) ‘Rule Britannia’. Bulu kuduk penulis merinding ketika seluruh penonton di aula bernyanyi bersama ‘Land of Hope and Glory’ dalam Pomp and Circumstance March No. 1 dalam D mayor karangan Elgar (1901).

 “Land of Hope and Glory
Mother of the Free.
How shall we extol thee
Who are born of thee?
Wider still and wider
Shall thy bounds be set;
God, who made thee mighty,
Make thee mightier yet”
~ Benson (1862 – 1925)

Sebagai epilog, lagu kebangsaan ‘God Save the Queen’ arasemen Benjamin Britten tahun 1961, yang dinyanyikan secara khusuk dan sakral dilanjutkan dengan ‘Auld Lang Syne’ arransemen Thorpe Davie tahun 1979 yang dinyanyikan dengan semangat persaudaraan, dan kilas balik atas kenangan indah rangkaian acara Prom 2016 yang berlangsung selama tidak kurang dari 8 pekan yang seru, dramatis, menyentuh, menggugah dan mentransformasi.

Terasa sekali unsur patriotisme, perdamaian dan persaudaraan dunia yang disampaikan dengan gemilang oleh rangkaian acara Proms dan juga oleh segenap audiens. Beragam bendera dari pelosok dunia berkibar di arena dan galeri di tengah gegap gempita tour-de-force orkestra dan penonton. Royal Albert Hall, dan di empat tempat negeri Britania Raya, dan seluruh dunia bernyanyi bersama dalam the Last Night of the Proms. Genap sudah! Tidak ada show of power dalam kontek kenegaraan, politik dan militer yang dapat melebihi kesuksesan BBC Symphony Orchestra malam ini yang dipimpin oleh konduktor karismatik Sakari Oramo. Sebuah negara adidaya adalah negara yang mampu menghargai dan menunjukkan keadiddayaannya dengan merangkul semua pemegang kepentingan, suka dan lara.

Malam ini, ‘ibu pertiwi’ menunjukkan bahwa beliau masih layak mendapat predikat ‘Great Britain’ ditengah argumentasi pengamat ekonomi dan politik terhadap pengerdilan the United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland (Inggris Raya)  menuju ‘Little England’ ditengah Brexit, moderasi ekonomi, dan perpecahan internal bangsa.

Kapan saatnya bangsa kita bisa bersatu dalam karya, mengabaikan segala perpecahan, konflik, dan bersinergi bersama memecahkan masalah kebangsaan, dan menunjukkan kepada dunia ke ‘Indonesia Raya’-an kita? Indonesia Raya bergantung kepada Anda dan saya, kita semua. Apakah Anda sanggup? Apakah Anda mau?

psp_3761

Suasana The Last Night of the Proms 2016 (sumber: Royal Albert Hall)

~ Kinnata Nikko menyelesaikan pendidikan keguruan musik di Sekolah Musik YPM dan kini baru saja menyelesaikan pendidikan paskasarjana Ilmu Keuangan di Imperial College London

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: