Kabar Terkini

Streaming Mengukir Hijau

File photo dated 11/06/14 of the Spotify App an Apple iPad, as award-winning Ed Sheeran has supported the levels of payments made to artists by streaming service Spotify and pointed the finger at record labels for poor returns.

Industri musik menandakan perkembangan yang menggembirakan untuk pertama kalinya dan mengukir hijau. Sebagian besar dari prestasi tersebut disebabkan oleh berkembangnya pangsa pasar streaming musik di dunia (berita bloomberg). Menurut data Bloomberg, pasar streaming tumbuh 57% di paruh pertama tahun ini dan kini menguasai hampir separuh dari nilai penjualan musik dengan nilai 1.6miliar dolar AS.

Dimotori Spotify dan Apple Music, bisnis streaming kini menjadi segmen yang cukup menggiurkan. Belum lagi dengan dukungan dari Youtube. Meski demikian pertanyaan besar masih nyata, yakni apakah sungguh bisnis musik telah kembali ke kapasitasnya semula?

Pendapatan penjualan musik hingga kini masih di angka 7 miliar dollar AS, separuh dari puncaknya di awal era dot com di tahun 1999 ketika distribusi fisik masih menjadi primadona. Penjualan media fisik pun terus menurun hingga 14% di tahun ini, meneruskan trend yang mereka alami.

Namun dalam banyak kesempatan, banyak seniman belum melihat dampak finansial nyata dari kegiatan streaming seperti Spotify dan Youtube. Pendapatan yang mereka dapatkan masih sangat jauh berbeda dibanding ketika rekaman fisik masih berjaya. Persoalan ini pun juga menjadi pertanyaan, seberapa besarkah sesungguhnya royalti yang dibayarkan kepada seniman dalam skema perusahaan streaming ini? Usut punya usut masih sangat rendah dan cenderung merugikan label dan terlebih musisi.

Menurut artikel Guardian, Spotify membayarkan sekitar $o,006-$0,008 kepada label dan penerbit untuk setiap lagu yang dimainkan. Namun dengan perjanjian dengan seniman di kisaran 20% seringkali hanya mendapatkan $0.0011 per pemutaran lagu atau setara Rp14,50. Jumlah yang terbilang cukup kecil bahkan untuk musisi Indonesia. Hingga apabila asumsi kita membayangkan musisi duo untuk mendapatkan penghasilan masing-masing Rp2.5 juta, setidaknya dibutuhkan 350 ribu kali pemutaran lagu.

Masih mungkinkah bergantung pada penjualan fisik, atau seberapa cerdas dan cepatkah musisi Indonesia perlahan berayun ke ranah streaming? Ini adalah pertanyaan yang harus segera dijawab. Dan untuk kemudian advokasi persentase pendapatan dalam streaming, apakah sungguh sudah berpihak pada musisi? Ataukah seniman pun harus mengambil streaming sebagai alternatif investasi wajib yang harus mereka ikuti kalau tidak mau ketinggalan kereta, meskipun jauh dari menguntungkan untuk mereka?

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: