Kabar Terkini

Apa Urusan Promenade dengan Musik?


A Musical Promenade adalah nama majalah daring ini, sebuah nama yang janggal dan jarang terdengar dalam bahasa Inggris. Apakah artinya dan apakah relevansinya dengan dunia musik di Indonesia?

‘Promenade’ dalam kamus Merriam-Webster diartikan kegiatan berjalan-jalan di tempat publik untuk kesenangan. Promenade sendiri secara historis lahir di kalangan aristokrat di Eropa dan kemudian di abad 18 juga menjadi kebiasaan kalangan kelas menengah di banyak tempat publik yang saat itu baru bermunculan. Promenade adalah sebuah kegiatan berjalan-jalan santai, menikmati lingkungan sambil menghabiskan waktu berbincang dan bersenda gurau yang kala itu. Taman-taman umum pun bermunculan di kala itu untuk mengakomodasi kebiasaan baru ini, bahkan taman umum baru dinamakan ‘pleasure garden’ juga bermunculan di mana taman-taman itu juga menyediakan tempat untuk bersantai sembari diiringi musik hidup dan bahkan pameran lukisan. Berjalan santai bukan lagi sekedar kegiatan tanpa tujuan, namun juga menjadi sebuah kegiatan untuk menikmati seni dan juga dihibur.

Picture No. 10034707a

Berjalan santai juga menjadi sarana untuk bersosialisasi. Hadir di tempat umum berarti juga hadir untuk berkumpul dengan kawan, berbincang dan bersenda gurau. Namun di tempat seperti ini pula makna ‘publik’ lahir, di mana kelas menengah baru bukan hanya mencoba mengemulasi kehidupan aristokrat tapi juga berdiskusi dan bertukar pikiran. ‘Promenade’ bukan hanya meluangkan waktu untuk kesenangan namun juga untuk membangun sosialitas di sekeliling mereka. Ya, ‘promenade’ memang lahir dari kelas atas dan diikuti kelas menengah namun tidak berhenti di sana. Jalan santai kini menjadi milik semua orang di mana ada aspek sosial dan juga kultural di dalamnya.

Di Indonesia, tradisi berjalan santai dan menikmati waktu juga lahir di kalangan aristokrat dan juga warga Belanda. Dapat dilihat bagaimana taman kota menjadi bagian desain perkotaan di Hindia Belanda yang dapat dengan mudah kita jumpai di banyak kawasan pemukiman yang dibangun pemerintah kolonial kala itu. Jalan-jalan santai tersebut kemudian menurun ke banyak kalangan kelas menengah dan priyayi modern sejak awal abad 20 dan semakin berkembang setelah kemerdekaan meskipun sering tidak diikuti dengan perkembangan kawasan pedestrian dan jalur hijau.

Meski demikian dalam konteks Jakarta, banyak ruang publik alternatif lain yang diciptakan, seperti acara Jakarta Fair dan beberapa ruang lain seperti Ancol dengan berbagai macam hiburan kulturalnya. Tidak dapat disangkal, pusat perbelanjaan kini juga menjadi ruang berpromenade, melihat-lihat toko sambil menikmati suasana, dari menonton bioskop, pertunjukan di atas panggung bahkan melihat lukisan dan pop art yang  bermunculan di sudut mal yang mengundang untuk sekedar dijadikan obyek selfie semata. Kebiasaan untuk berpromenade ada di Indonesia, tapi jarang ditelusuri hingga akarnya, sekedar jalan-jalan pun punya maknanya tersendiri.

Mendengarkan dan menikmati seni termasuk musik, sebagaimana arti dari A Musical Promenade, tidak harus menjadi sebuah kegiatan yang terlalu memberatkan. Menikmati musik dalam santai adalah hal yang memungkinkan seakan berjalan menikmati satu karya dan yang lain bergantian, seperti jalan-jalan sore di mal ataupun di taman sembari melongok toko-toko unik maupun bunga-bunga indah yang bermekaran. Menikmati musik seni yang semula adalah kegiatan terbatas, kini menjadi hak semua orang sembari menciptakan ruang kemasyarakatan (publicness) di mana opini, ide dan demokrasi hidup bergeliat.

A Musical Promenade hadir untuk memperluas akses musik seni untuk didengarkan, dinikmati, dipahami dan didiskusikan dengan serius maupun santai. Sebagaimana muatan budaya yang dahulu terbatas kini meretas, lingkup musik seni dalam Promenade pun juga meluas. Promenade adalah sebuah upaya membentuk perputaran ide alternatif di luar sangkar kehidupan yang kurang berpihak pada banyak kehidupan lain. Inilah arti ‘promenade’ dalam nama majalah daring ini. Semoga kami pun semakin mampu menghidupi mimpi tersebut.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: