Kabar Terkini

Sentilan Mormon di Atas Panggung


Bagaimana jadinya apabila pencipta animasi South Park bergabung dengan pencipta drama musikal Avenue Q dan menuliskan tentang sebuah aliran keagamaan? Jadilah drama musikal lucu dan menghibur, The Book of Mormon.

Mormon sendiri adalah sebuah aliran yang berkembang dari agama Kristen yang dikenal lewat semangat mereka menyebarkan ajaran agama mereka secara terbuka bahkan mereka secara aktif mengarahkan para pemuda yang baru lulus sekolah menengah untuk pergi menyebarkan ajaran mereka. Tema inilah yang diangkat dalam The Book of Mormon, namun dengan pengemasan para pencipta, karya ini menjadi sedemikian lucu dan hidup bahkan nyaris terjerumus dalam skala menghina. Apabila kisah ini diputar di Indonesia, bisa jadi pasal penistaan agama akan dilayangkan oleh berbagai pihak. Namun patut diacungi jempol bahwa tiga orang penulis, komponis Trey Parker, Robert Lopez dan Matt Stone mampu mengemas kisah ini dengan begitu meyakinkan sehingga kelucuan yang hadir dari keluguan dan ‘ketaatan’ beragama menjadi sangat menghibur namun juga begitu menyentuh.

Kisah ini bercerita tentang sepasang pemuda lulusan terbaik dan terburuk dari kursus keagamaan yang besar di Salt Lake City – markas utama Mormon –  dengan mimpi menjadi misionaris ditugaskan malah ke tempat yang tidak mereka duga, ke sebuah desa di Uganda yang ditimpa peperangan, kelaparan dan AIDS. Mimpi besar untuk menyiarkan ajaran agama menjadi begitu menantang dan penuh lika-liku, terlebih dengan keluguan mereka menjadikan situasi begitu menarik. Namun secara cerdik, penulis mampu meramu bagaimana anak-anak muda ini berjuang dalam keyakinan dan keraguan mereka untuk menjalankan misi mereka.

Diperdanakan di Broadway tahun 2011 dan di West End di tahun 2013, drama musikal ini memang masuk ke ranah musikal dewasa dengan bertabur istilah dewasa, namun di balik itu memberikan warna dan juga kejujuran dalam lakon dua babak ini. Dengan musik yang menggabungkan corak Afrika dan Amerika, lakon yang memenangkan 9 Tony Award ini menjadi begitu bergariah dan kontras. Meski demikian, lakon ini punya kedalaman yang membuat penonton juga berefleksi di balik tawa mereka.

Pertunjukan semalam dimotori dengan akting dan nyanyian menawan dari Brian Sears sebagai Elder Cunningham dan Oliver Ormson sebagai Elder Price. Alexandra Ncubi sebagai Nabulungi dan Richard Lloyd-King sebagai Mafala Hatimbi juga tampil dengan solid. Namun kekuatan dari keseluruhan ini adalah setiap cast yang terpilih untuk produksi di Teater Prince of Wales ini. Hampir keseluruhan drama ini menyentil dan berpotensi menyinggung para pengikut Mormonisme, namun kecerdikan penulis dalam menggarap cerita dan musik justru mampu menghadirkan kejenakaan dari sentilan tersebut dan selalu dikemas dengan luar biasa berimbang.

Sebuah produksi yang wajib tonton bagi penggemar drama satir dan pecinta drama musikal.

the-book-of-mormon1

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: