Kabar Terkini

Sudahkah Sekolah Anda Menciptakan Audiens?


Sekolah musik sudah sedemikian banyak, juga kelompok musik amatir, terlebih paduan suara bertaburan di mana-mana. Tapi banyak dari penyelenggara masih kesulitan mencari penonton untuk mengisi pertunjukan. Celahnya di mana?

Setelah berdiskusi dengan teman-teman musisi dan pelajar musik di London akhir pekan lalu, didapati bahwa banyak penyelenggara konser berjibaku untuk mencari peonton dan mengisi bangku-bangku. Gedung konser lebih banyak kosong ketika pertunjukan berlangsung, padahal tidak sedikit penyelenggara berafiliasi langsung dengan sekolah musik ternama.

Yang perlu untuk disadari adalah menciptakan audiens adalah sebuah proses. Tidak serta-merta penonton akan datang untuk menonton pertunjukan yang Anda selenggarakan dalam satu malam. Kesadaran ini perlu dibangun oleh kedua belah pihak, baik dari sisi musisi maupun penyelenggara.

Dari sisi penyelenggara yang banyak berafiliasi dengan institusi pendidikan, perlu dilihat secara seksama budaya semacam apa yang dibentuk di institusi pendidikan musik tersebut. Banyak institusi pendidikan maupun kelompok musik amatir berhasil dalam melakukan tugas utama mereka yakni memberikan pendidikan musik maupun menjadi wadah bermusik para pecinta musik, namun tidak tentu bahwa mereka dibentuk untuk menjadi apresiator musik. Ya, tidak banyak sekolah musik maupun paduan suara yang mampu membentuk sikap apresiatif seni ini di kalangan siswa maupun anggota mereka. Alhasil, mereka pun tidak terbiasa untuk menonton dan mengapresiasi pertunjukan.

Dari sisi pemusik sendiri perlu disadari bahwa membentuk audiens yang setia butuh waktu dan usaha yang tidak sedikit. Berbagai proses kreatif pun hadir dalam menyusun acara baik dari program yang diadakan hingga bagaimana penataan ruang pertunjukan dan pemasaran yang mampu menarik penonton. Pelanggan tidak datang begitu saja, karena musik seni sayangnya bukanlah sebuah produk komoditas yang akan mendatangkan penonton apabila lapak dibuka. Kesabaran dalam menata program maupun terus berkreasi untuk menarik penonton adalah suatu hal yang diperlukan.

Prajna Indrawati dalam diskusi yang lalu mengungkap bahwa untuk menyelenggarakan resital butuh tenaga yang tidak sedikit. Musisi pun dituntut bukan saja untuk bermain tapi juga mengatur segalanya supaya berjalan beres. Memang hanya musisi super yang mampu melakukan segalanya sendiri, memikirkan artistik tapi juga mengorganisir acara dengan rapih termasuk juga memikirkan bagaimana agar mampu menarik penonton dan mengisi bangku.

Menciptakan audiens sesungguhnya berbeda dengan mengisi bangku penonton. Menciptakan audiens berarti membentuk apresiasi penonton dan semangat ingin tahu mereka untuk ikut serta menyaksikan sebuah pertunjukan seni. Menciptakan audiens tentunya butuh waktu dan usaha yang tidak sedikit, sebagaimana membangun sebuah jejaring yang kuat. Banyak upaya cerdik yang dapat dilakukan yang sebenarnya dapat ditarik dari bagaimana sebuah startup mampu membangun basis pelanggan mereka yang dapat diterapkan dalam dunia seni pertunjukan, namun tidak semua dapat serta-merta diterapkan mentah-mentah.

Adalah penting bahwa sekolah musik dan institusi lain bekerja aktif untuk menciptakan audiens yang terbuka dan siap mengapresiasi lebih banyak pertunjukan. Hal ini bisa dilakukan dengan mengajak peserta didik untuk menyaksikan pertunjukan musik secara langsung, mengapreasiasinya secara langsung. Minat mereka harus ditumbuhkan bukan hanya untuk memainkan alat musik atau menyanyi, tetapi juga untuk menyaksikan pertunjukan.

Kegagalan organisasi musik dan institusi pendidikan di masa lalu untuk memciptakan audiens dampaknya terasa sekarang. Hanya sedikit organisasi yang berhasil membangun audiens, akibatnya kini kita kekurangan audiens namun perlahan terasa bahwa ada oversupply pemusik dan pertunjukan yang kosong tanpa penonton. Dunia pertunjukan tidak mampu hidup apabila hanya mengandalkan penonton dari keluarga dan teman terdekat. Kita masih mengenal bagaimana seseorang hanya menonton pertunjukan apabila ada penampil yang duduk di bangku pemain atau istilahnya ‘menonton teman’. Ini hanyalah apresiasi pada lingkar awal yang masih sempit. Musisi pun juga harus bersabar dan mengambil langkah dengan cerdik untuk membangun dan memperluas cakupan audiens tersebut.

Sudah saatnya institusi pendidikan musik maupun kelompok amatir musik bukan hanya bergerak untuk menciptakan musisi saja tapi juga menciptakan penikmat yang antusias dan juga cerdas. Tidak semua mereka yang belajar musik akan menjadi musisi terkenal, namun mereka yang belajar musik selalu punya potensi untuk menjadi audiens yang baik. Sekarang mereka bisa jadi murid, namun besok mereka bisa jadi bukan hanya musisi tingkat dunia, tapi juga penonton yang apresiatif akan perkembangan seni.

Sudahkah Anda menciptakan audiens?

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: