Kabar Terkini

Perjalanan Musik Pascal & Ami Roge

Pascal Roge and Ami Roge rehearse before a performance of composers Debussy, Chaminade and Ravel during the second 'It's All About Piano!' festival at Institut Francais on April 6, 2014 in London, United Kingdom. (Photo by Amy T. Zielinski)

~ oleh Sudirman Leman selaku penyelenggara

Luar biasa, profesional, virtuos, intelektual dan kompak adalah kata-kata untuk menggambarkan permainan pasangan pianis Pascal dan Ami Rogé yang digelar di empat daerah di Indonesia – Ubud dan Legian Bali, Jakarta dan Surabaya pada minggu kedua dan ketiga bulan September lalu.

Pascal Rogé pernah menjadi murid pendidik legendaris Julius Katchen dan Nadia Boulanger dan masuk Conservatory Paris di usia 12 tahun. Sebagai salah satu interpreter crème de la crème karya para komponis romantik Perancis  yang pernah berkonser sekitar sembilan puluh kali setiap tahunnya, ia belakangan intensif bermain dengan Ami Roge, pianis berbakat berdarah Indonesia-Jepang lulusan The Julliard School yang menjadi pasangan hidupnya.

Pada tur konser di Indonesia ini, mereka menyesuaikan program untuk setiap kota. Begitu banyak karya yang dimainkan dan reportase yang dapat ditulis, saya memilih untuk bercerita dan mengulas salah satu konser.

Penampilan perdana diadakan di Ballroom Padma Resort Ubud, Bali (10/09). Ruang yang dapat menampung hampir seratus penonton adalah tempat yang hampir sempurna untuk pertunjukan piano klasik, baik dari sisi ukuran, desain ruang dan akustik. Acara dibuka dengan penampilan beberapa murid pilihan Gitanada School of Music dari Jakarta. Penampilan yang rapi dan musikal selama kurang lebih 15 menit diberikan musisi-musisi muda ini, disambut hangat oleh para penonton yang sangat apresiatif.

“Music around the World” adalah tema yang diangkat pasangan Rogé, dimulai dengan suita Balinese Ceremonial Dances karya komponis Kanada Colin McPhee yang belakangan mulai sering dimainkan di Indonesia. Diaransemen untuk satu piano empat tangan oleh Pascal dan Ami, suasana tradisi Bali terasa kental melalui melodi, ritme kotekan dan imitasi suara Gong di ketiga bagian suita yang masing-masing menggambarkan gerakan ciri khas musik tradisional Bali – Pamungkah, Gambangan, Tabuh Telu.

Selanjutnya, repertoar kontras karya Erik Satie Gymnopedie no.1 membawa alunan lambat, magis, penuh warna, menghanyutkan penonton ke suasana meditatif namun segera dibangunkan dengan musik tarian energik Can-Can Grand Mondain dan terus dialihkan pada keanggunan, godaan, virtuositas Hungarian Dances Johannes Brahms. Rasa penasaran yang dipacu adrenalin membuat penonton menanti suguhan berikutnya. Tensi ini dengan cerdik diredakan melalui permainan solo Pascal pada karya komponis Jepang Takashi Yoshimatsu, Christmas at Midnight, didedikasikan untuk sang pianis dan memiliki arti personal. Tebaran bulir-bulir not cantik mengisi ruang konser, permainan transparan mengingatkan pada Erik Satie diramu dengan sentuhan harmoni modern. Perjalanan ke Jepang ditutup melalui Hana, aransemen indah musik rakyat Jepang tentang bunga Sakura karya Ichiro Nagahara. Perpaduan harmoni, alunan melodi, kromatik, dekorasi motif pada not-not tinggi  cepat akrab di telinga penonton, secara mudah memberikan gambaran indahnya bunga-bunga ini pada musim semi.

Bunyi-bunyi oriental dilanjutkan pada Laideronette, Imperatrice des Pagodes (Laideronette, putri Pagoda), yang bercerita mengenai putri buruk rupa yang terdampar di pulau Pagoda dengan teman setianya, seekor ular hijau besar. Dianggap merupakan sosok unik, ia dijadikan seorang putri oleh penduduk Pagoda yang merupakan figur-figur porselen hidup. Laideronette akhirnya menikahi sang ular dan masing-masing berubah menjadi seorang putri yang cantik dan pangeran tampan.

Kejutan terjadi pada karya komponis wanita senior Indonesia Trisutji Kamal – opera “Gunung Agung”. Karya megah dua babak yang merupakan sebuah drama percintaan, terinpirasi dari suasana Karangasem Bali, mengadopsi motif-motif dan frase gamelan kebyar dan kecak dimainkan dengan agung, ekspresif dan musikalisasi matang. Sambutan penonton bersahut-sahutan setelah kedua pianis memainkan tremolo chord terakhir. Sayang hanya babak pertama yang dapat dimainkan pada kesempatan ini.

Clair de lune (cahaya bulan) dari Claude Debussy di kesunyian Ubud, mungkin adalah karya paling romantis pada malam itu. Layaknya Gymnopedie karya ini dimainkan agak bebas mengutamakan resonansi dan frase-frase sempurna. Ambience ini ditutup dengan Prelude Ce qu’a vu le vent d’Ouest menggambarkan suasana badai dan angin menderu-deru, sebuah karya yang mengingatkan kita pada virtuositas pianis Franz Liszt, permainan yang mengesankan.

Gemuruh badai Debussy diredam dengan dua tari ceria karya komponis Ceko Antonin Dvorak Slavonic Dances op.46. Furiant adalah tarian slavik temperamental layaknya bara api dengan aksen dan hentakan-hentakan berbasis ketukan dua. Tarian komedi sirkus Skočná bertempo cepat menyusul dengan kontras ketukan on-off beat, not-not cepat dan penutup yang jenaka.

Perjalanan musik berbagai negara ini berakhir di Spanyol – Malaguena dan Feria dari Rhapsodie Espagnole karya Maurice Ravel. Malaguena berlatar musik tarian temperamental Fandango dan Feria adalah festival penutup, keduanya ditulis oleh Ravel dengan teknik, warna yang luar biasa dan berselera tinggi. Tekstur suara kastanyet, harpa, cimbal terdengar begitu jelas tanpa masalah tehnik dari pasangan pianis yang memang pantas dianggap sebagai pianis kelas dunia ini.

Penonton langsung memberikan tepukan standing ovation di akhir acara. Takjub menagih encore. Konser pun ditutup dengan satu waltz pendek dari komponis Francis Poulenc. Satu hal penting perlu dicatat adalah bagaimana Pascal dan Ami memberikan interpretasi orisinal, melalui kekuatan musik mengiring penonton menjadi tamu di rumah imajiner mereka yang penuh dengan cerita. Hal yang semakin jarang didengar dalam pertunjukan musisi klasik hari ini.

Konser Jakarta menghadirkan daftar karya yang lebih “berat” seperti dua buah Capriccio dari Francis Poulenc, komposisi kompleks La Valse dari Maurice Ravel, bagian ketiga dari suita terkenal “La Mer” karya Debussy dan Jeux de Plein Air: Cache-Cache Mitoula karya Germaine Tailleferre. Duo Keyboard Concerto BWV 1060 dari Johann Sebastian Bach juga ditampilkan sangat apik di atas tuts piano Blüthner bersama kuartet musisi muda Indonesia yang terdiri dari Dave Nathanael (biolin), Lidya Evania Lukito (biolin), Stefani Leoni (biola) dan Rachman Noor (cello). Di Surabaya sang maestro/a tampil dengan String Orchestra of Surabaya membawakan suita Le Carnaval des Animaux dari Camille Saint-Saëns.

~ Sudirman Leman adalah seorang gitaris handal dan Direktur Gitanada School of Music yang berperan sebagai penyelenggara dari rangkaian konser ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: