Kabar Terkini

PKIna 2016: Mencari Makna di Balik Suara

Fahmi Mursyid dkk beraksi di panggung

Pekan Komponis Indonesia (PKIna) kembali diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Di tahun 2016 ini tema besar yang diangkat oleh Komite Musik DKJ periode 2016-2018 adalah ‘Musik Eksperimental Elektronik’. Senin malam ini adalah malam pertama dari Pekan Komponis Indonesia yang berlangsung selama tiga hari yang memadukan konser karya-karya komponis muda, pameran organologi, masterclass dan juga diskusi Meja Bundar Musik yang kesemuanya dihidupkan bersama-sama tahun ini. Tahun-tahun sebelumnya, acara-acara yang cukup padat ini selalu terpisah-pisah penyelenggaraannya namun tahun ini PKIna menjadi titik awal kegiatan Komite Musik DKJ periode baru ini.

Limapuluh dua calon peserta diseleksi oleh Komite Musik dan terpilih enam komponis muda yang tampil dalam konser dua malam ini. Di malam pertama Senin ini, tiga orang komponis diketengahkan: Fahmi Mursyid (bandung), Hery Budiawan (Jakarta), dan Harry Haryono (Sukabumi). Ketiganya mengeksplorasi electro accoustic music dan mengeksplorasi bebunyian yang disajikan lewat berbagai macam peralatan elektronik.

Malam ini menjadi bukti perjalanan tiga orang komponis muda dalam mencari makna di balik sesuara yang tercipta dan terolah dalam perangkat-perangkat listrik dan bagaimana konsep penciptaan dan keberanian dalam menjelajah dunia suara diketengahkan ke publik yang memadati Teater Kecil – Taman Ismail Marzuki. Ketiganya berangkat dari ide instrumen musik tradisi Indonesia dan meraciknya dalam balutan elektronik.

Komponis Fahmi Mursyid dari Bandung menjadi yang pertama mengisi panggung. Mengetengahkan karya bertajuk Eklektik Tropikal yang merupakan pengejawantahan eksplorasinya terhadap bunyi-bunyian dan alat musik tradisi, tiga orang musisi berdiri di atas panggung berbekal laptop dan instrumen daerah dan gitar listrik. Memulai dengan suasana magis dengan eksplorasi bebunyian dan rekaman ambiance alam dan kicauan burung yang asri,  Fahmi kemudian mengolah irama hiphop yang sarat bebunyian techno dan berpadu dengan kayuhan pada gitar dan warna-warni instrumen tradisi seperti seruling, dan panflute.

Berbekal musik konkrit yang berupa rekaman hidup keseharian yang tak beraturan, Fahmi kemudian membubuhinya kebakuan ritme populer. Kesan yang kuat yang tercipta di awal kemudian berbaur dalam kenyamanan telinga, sehingga unsur kebaruan sedikit demi sedikit ditinggalkan. Di namun di sisi lain, perpaduan ini menjadi perkenalan yang baik akan eksplorasi elektronik yang mengingatkan pada buaian pop New Age yang lazim di dekad 1990-an.

Fahmi Mursyid dkk beraksi di panggung

Fahmi Mursyid dkk beraksi di panggung

Hery Budiawan asal Jakarta membawa penonton sedikit lebih jauh dalam semerbak eksplorasi. Berbekal kuartet rebi yang adalah rebab dengan ruang resonansi sebuah rebana dan seorang vokalis yang menyanyikan syair dalam bahasa Minang, Hery Budiawan dibantu rekannya mengolah aspek elektronis dalam karya bertajuk A C & H yang menggali kepiluan alam. Ia sendiri mengatakan bahwa akustik menjadi raja dalam karyanya. Hery dengan apik menyusun struktur karya yang dimotori oleh gesekan kuartet rebi dan vokalis yang bernyanyi pilu.

Delay dan proses audio akustik kemudian diterapkan atas sesuara yang dihasilkan oleh musisi yang kemudian menciptakan ruang dalam tata suara surround yang juga berbalas dengan suara akustik yang dihasilkan langsung oleh penyanyi dan pemain rebi. Desah vokal berbalas rintihan alat musik theremin yang dimainkan oleh Hery. Di kala akhir Hery menciptakan sebuah stagnansi yang cukup panjang dari pergerakan karya, seakan pengembangan tiada lagi ada. Namun secara cerdik, di saat itulah ia menghentakkan penonton dengan gemertak begitu keras yang ia ciptakan untuk memecah kebuntuan, sebelum akhirnya sesuara meredup dan meninggalkan suara alami. Olahan komponis yang cerdik.

pekan-komponis-indonesia-2016-2

Heri Budiawan dan kuartet rebi, vokal dan elektronik

 

Harry Haryono asal Sukabumi bisa jadi mengetengahkan minimalisme dan berjuang untuk menciptakan efek yang maksimal. Berbekal komputer dan tongkat Wii remote, komponis ini bersama rekannya yang seorang aktor menghadirkan aspek teatrikal yang sesungguhnya terencana dengan baik. Asep, sang rekan, menjadi sumber sesuara dan bebunyian. Bebunyian desah, dengik, cicit, gumaman tak bermakna, nafas dan decak Asep yang berkombinasi dengan gerak teatrikal yang bagaikan pantomim dimanipulasi Harry lewat gerak tubuhnya yang terkoneksi dengan Wii remote yang adalah alat permainan yang videogame yang mampu mendeteksi gerak. Lewat tombol dan gerak pada Wii remote yang kemudian menjadi setir atas proses suara yang dilakukan oleh komputer yang berjarak 4 meter di belakangnya. Keduanya bereaksi satu dengan yang lain, sehingga aksi kontrapuntal yang saling berbalas hadir dalam permainan keduanya dalam karya berjudul Di Pojok Di Lebok yang menggambarkan interaksi informasi yang kekinian yang semakin rumit membingungkan.

Satu bilah angklung pun dibawa mewarnai panggung, terolah dan tereksplorasi tapi juga menjadi simbol pernyataan politis dari Harry yang mencoba melepaskan diri dari belenggu tradisi. eksplorasi derik suara angklung yang ditarik berujung pada pengrusakan alat musik tradisi ini hingga berkeping-keping. Hingga akhir keduanya memanipulasi suara pecahan bilah angklung dan serpih-serpihannya. Pernyataan ini adalah sebuah keberanian tersendiri yang patut dicatat. Sayangnya, beberapa kali manipulasi suara di awal terhenti dikarenakan persoalan teknis Wii remote yang agaknya mempengaruhi lalu lintas pementasan karya. Meski dipadu pengembangan dan konsep yang kuat, akhirnya pementasan sedikit banyak terasa terpatah dan berkutat pada eksplorasi teknikal peralatan dan interaksi kedua seniman di atas panggung.

pekan-komponis-indonesia-2016-3

Aksi Wii Remote Harry dan aktor Asep

Satu catatan yang pasti malam ini adalah kembalinya dunia musik elektronik di atas panggung yang dikurasi Dewan Kesenian Jakarta. Eksplorasi memang tidak pernah akan berhenti dan musik elektronik akustik mampu membuka cakrawala lain dan pemahaman yang berbeda akan musik dan makna dari musik itu sendiri.  Karya berdurasi dua puluh menit bukanlah sebuah karya pendek, namun juga menjadi tantangan untuk mengetengahkan sebuah sajian yang paripurna. Ketiga komponis muda malam ini telah berhasil mencari makna dan warnanya sendiri, namun apakah sudah mengetengahkan sajian yang hidup dan utuh di hadapan penonton? Sebuah jawab yang hanya dapat dijawab sang komponis dan penonton yang hadir malam itu.

~Pekan Komponis Indonesia berlanjut Selasa dan Rabu 5-6 Oktober di Taman Ismail Marzuki. Gratis. (ulasan hari kedua di sini, ulasan hari ketiga di sini)

pekan-komponis-indonesia-2016-4

About mikebm (1184 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. PKIna 2016: Ruang, Asumsi dan Eksistensi – A Musical Promenade
  2. PKIna 2016: Membungkus Ide dalam Diskursus – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: