Kabar Terkini

PKIna 2016: Ruang, Asumsi dan Eksistensi


Bunyi dan cahaya menciptakan ruang di mana pengalaman visual berbaur bersama pengalaman aural mengeja dimensi hingga ke batas-batasnya. Dalam keterpaduan pengalaman inilah kehadiran sosok manusia tercipta. Di atas jerat-jerat tanya yang berbaur, merombak dan merekonstruksi, eksistensi hadir dalam kenisbian.

pekan-komponis-2016-5

Dylan Amirio mengekspresikan perasaannya

Karya Dylan Amirio We like to disappear mengetengahkan perjuangan batinnya dalam mencari sekaligus menafikkan diri. Tercipta dalam 3 bagian, Dylan yang asal Jakarta memadu electronic dance music (EDM) dengan citra proyeksi di layar. Lantunan nada dan melodi yang mengangkat perjuangan mengundur diri dari kehidupan, sekedar menghilang walau dalam sesaat. Dalam balutan vokalnya sendiri, Dylan dan karyanya mengingatkan penulis akan balada band Coldplay yang timbul dan tenggelam dalam nuansa yang tercipta. Keluguan pun tergambar dalam jejak-jejak visual yang bertabur di layar, menciptakan kontradiksi yang erat berkait. Sebuah persoalan eksistensi berjawab dalam jejak gelagat Squidward dan Spongebob yang hadir tersorot di latar, begitu seronok dan bahkan bebal. Menarik bahwa jawab tidak hadir dalam musik yang disajikan, melainkan lewat visual, sedang musik hanya memberi tanya yang tiada berhenti.

pekan-komponis-2016-7Escalating Wanderlust membawa penonton ke nuansa psychedelic dengan suguhan warna dan simetri dalam sajian visual yang mempesona. Tidak jarang penonton serasa berayun kanan dan kiri menikmati alunan musik yang beraturan, berbalut warna yang membilas seluruh penampil. Suara vokal kemudian bersanding dalam ucapan basmalah, rekaman macet kota Malang yang menghimpit. Gitarlele, gitar mini, kemudian menjadi harmoni yang memberi warna. Sejenak penulis dibawa kembali ke kegirangan generasi kembang di mana fantasi bercengkrama dalam realita dengan electronic music populer yang membuai. Inilah karya Muhammad Fadhil Wafy asal Malang yang menanyakan tentang eksistensi dan jati diri dalam meditasi. Meski demikian, keheningan dalam diam yang dicoba diraih tidak pula hadir secara penuh. Hanya ruang antara yang hadir, antara mimpi dan kenyataan dalam tiga lagu yang mereka bawakan malam Rabu kemarin.

pekan-komponis-2016-6Komponis muda Patrick Gunawan Hartono dalam karyanya yang disuguhkan malam ini menjadi sumber tanya sekaligus tantangan bagi para komponis yang hadir di malam kedua Pekan Komponis Indonesia (PKIna) 2016 ini. Sedikit berbeda dibanding malam pertama (ulasan di sini), di hari kedua ini hampir seluruh komponis menggunakan proyeksi visual sebagai medium mereka. Di karyanya, Patrick menanyakan asumsi keterhubungan visual dengan audio dalam sebuah pertunjukan, sebuah tanya yang ia tujukan bukan hanya pada khalayak musik elektroakustik, namun juga kepada kawan-kawan sejawatnya yang tampil malam itu. Dalam karyanya, ia menjelajah batas interelasi antara visual yang ditonton dengan pengalaman bunyi yang didengarkan, juga meniti di antara kenyamanan dan kebisingan. Struktur-struktur kompleks di layar berkelindan dengan bunyi yang nyaris memekakkan telinga. Pendengar pun dibawa kepada batas-batas aural maupun visual.

Patrick juga mengangkat bebunyian pembuatan bonang dalam karyanya yang berjudul Noise to Signal, dengan manipulasi dan proses suara palu di atas bilah kuningan yang hendak dibentuk menjadi gamelan, sebuah pengembangan dari karya yang pernah ia tampilkan di tahun 2013 di Salihara, kali ini dengan visual dan pengembangan yang lebih berkarakter dan memanfaatkan dimensi ruang dengan surround. Tanpa tersadar, komponis yang baru saja menyelesaikan pendidikan di Belanda ini mampu menghadirkan pulsasi musik dalam karyanya yang membimbing penonton hingga akhir. Dalam kondisi paling chaos sekalipun, pulsasi musikal tersebut masih terasa dengan kuat.

pekan-komponis-2016-8Malam ini pun ditutup dengan kehadiran Otto Sidharta, anggota Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta yang malam itu hadir bersama dengan vokalis Nyak Ina “Ubiet” Raseuki. Tampil secara impromptu, Otto Sidharta mengolah suara yang dinyanyikan dan disebutkan Ubiet dengan perangkatnya di atas meja dan mengeksplorasi setiap sudut ruangan dengan fasilitas surround. Dengan sigap, ia merespon kalimat dan bebunyian dari Ubiet menjadi musik. Ubiet pun dengan sigap membalas sehingga dialog tidak lagi dalam tataran penyedia bunyi dan pengolah bunyi, tapi naik ke tataran dialog musikal yang luwes di antara keduanya. Dalam karya ini sungguh didapati dengan jelas musikalitas seorang komponis senior yang pernah hadir sebagai komponis muda dalam Pekan Komponis di tahun 1979 dan kini menjadi kurator. Meski dikatakan spontan, duet Otto dan Ubiet mampu menyajikan sebuah tata bangun musikal yang padat, jelas dan proporsional. Meski proses suara terkesan konvensional, namun efek musikal yang dirasakan sangat optimal.

Pertunjukan malam ini menutup rangkaian pertunjukan dari komponis-komponis muda dalam Pekan Komponis Indonesia. Tanpa disadari ketiga komponis muda telah membangun sebuah ruang baru di mana bebunyian dan visual menjadi bagian dari ruang tersebut, ruang baru di mana asumsi didobrak dan eksistensi didefinisikan kembali lewat kekaryaan. Malam ini juga menjadi pernyataan bahwa keberagaman musik elektronik adalah nyata dan hadir di tengah-tengah kita. Dan dalam keberagaman karya dan ekspresi itulah musik elektronik terbangun di tengah derap ibukota.

~ Pekan Komponis Indonesia berlanjut dengan workshop komposisi dengan Antonius Priyanto dan diskusi Meja Bundar Musik esok hari Rabu.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on PKIna 2016: Ruang, Asumsi dan Eksistensi

  1. saya masih suka bertanya tanya

1 Trackback / Pingback

  1. PKIna 2016: Membungkus Ide dalam Diskursus – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: