Kabar Terkini

PKIna 2016: Membungkus Ide dalam Diskursus


Pekan Komponis Indonesia (PKIna) 2016 di hari ketiga ini ditutup dengan manis. Dua hari sudah publik Jakarta dihembusi dengan pertunjukan dan pameran organologi yang mengambil tempat di Teater Kecil – Taman Ismail Marzuki. Kini, di hari terakhir Dewan Kesenian Jakarta mengajak penonton untuk membangun ide dan diskursus dalam tema Musik Eksperimental Elektronik yang diangkat malam ini.

Komposisi dari enam komponis telah disajikan dua hari kemarin (ulasan di sini dan di sini) dan pameran organologi dari empat orang pencipta, Ihsanul Fikri dengan instrumen Artmosf, Lintang Raditya dengan kreasinya Chaos Box, Ozsa Erlangga hadir dengan Cowong Sura dan Novan Yogi Hernando Maupula dengan Reka Genta ciptaannya. Kesemuanya menawarkan sebuah opsi tersendiri akan kemungkinan musik yang dapat terciptakan lewat instrumen mereka yang berbasis elektronik dan mendobrak sekat-sekat kekaryaan yang ada saat ini.

Hari terakhir dari rangkaian acara tiga hari ini dibuka dengan lokakarya dari komponis, konduktor dan juga dosen komposisi dari Universitas Pelita Harapan Antonius Priyanto yang membahas tentang penggunaan Puredata dalam pengolahan suara elektroakustik. Diadakan di foyer Teater Jakarta, acara di sore hari itu dihadiri setidaknya 40 orang muda yang ingin tahu mengenai musik elektroakustik dan peralatan V-Spectra dan V-Composer berbasis open source yang digunakan oleh pemateri dalam presentasi hari ini. Antonius sendiri mengatakan bahwa kehadirannya hanya sebagai pemicu bagi hadirin untuk menjelajah lebih banyak kemungkinan elektroakustik dan menyadari bahwa materi ini bukanlah materi lengkap kuliah yang seharusnya dibawakan setidaknya dalam 2 semester ini.

Penutup dari rangkaian acara ini adalah Meja Bundar Musik yang mengangkat tema yang sama. Meja Bundar Musik kali ini adalah kali yang kedua setelah diadakan pertama kali tahun lalu. Meja Bundar Musik adalah sebuah acara diskusi musik yang unik dan mengundang perdebatan yang hidup. Mengangkat fenomena musik eksperimental elektronik, diskusi dibangun lewat presentasi dari dua orang pembicara etnomusikolog Citra Aryandari dan komponis Otto Sidharta.

Citra Aryandari menyikapi aspek sosiologis dan kacamata budaya dari fenomena electronic dance music (EDM) di Jogja yang hadir sebagai fenomena budaya yang kini semakin menyeruak dan sungguh hadir sebagai fenomena musikal yang patut diapresiasi dan dicermati. Citra kemudian membedah aspek ruang budaya di mana EDM bertumbuh dan membentuk identitasnya tersendiri dalam ruangnya masing-masing yang terlepas dari ikatan norma-norma konvensional yang terlebih dahulu ada di masyarakat. Ia sendiri menentang penyeragaman ruang budaya yang hadir dalam masyarakat yang melihat fenomena EDM di berbagai daerah di Indonesia yang tercermin dalam dangdut Banyumasan, dangdut Karawang dan musik EDM kedaerahan sebagai fenomena subversif terhadap ruang budaya ‘adiluhung’. Etnomusikolog ini justru mengajak berbagai pihak untuk mencermati lewat kacamata kreatif akademik dan turut merangkul musik tersebut sebagai bagian dari kekayaan budaya dan musik Indonesia.

Ihsanul Fikri dan instrumen ciptaannya Artmosf

Ihsanul Fikri dan inovasinya Artmosf yang mampu mendeteksi gerak dan menjadikannya bunyi dalam Pameran Organologi

Otto Sidharta kemudian menyelami aspek historis dari perkembangan musik elektronik itu sendiri dan kemudian melihat aspek kekaryaan dan sikap musisi dan komponis terhadap kekaryaannya. Komponis ini mengkritisi dikotomi yang terjadi antara musik serius dan populer, meskipun pada dasarnya ia tetap mempertahankan dikotomi tersebut. Sekalipun demikian, ia mengamini bahwa aspek ‘eksperimental’ yang menjadi tajuk pekan ini bukan terletak pada bebunyian seperti apa yang dihasilkan, melainkan pada langkah eksperimentasi dan eksplorasi apakah yang dilakukan oleh para komponis muda yang hadir dan terkurasi pada pertunjukan selama dua hari lalu. Ia juga mencatat eratnya perkembangan musik dengan teknologi yang hadir pada saat itu dan pentingnya langkah hati-hati inovator dalam mengembangkan instrumen kedaerahan yang ada. Otto sendiri menekankan pentingnya sikap seorang komponis dalam berkarya tanpa harus khawatir akan stigma dan kotak-kotak definisi. Menurutnya, komponis harus terus mencipta dan biarkan musikolog yang mengambil peran untuk memahami dan menetapkan kaidah definisi keilmuan atas karya-karya yang dihasilkan.

Keterbukaan dalam memandang fenomena musik dan juga dalam berkarya merupakan aktivitas kreatif. Kacamata tersebut seharusnya dibangun atas keterbukaan dan juga apresiasi kekaryaan. Meja Bundar Musik melengkapi keseluruhan sajian dari PKIna 2016 tahun ini dengan menghadirkan diskursus sebagai kesimpulan atas acara selama tiga hari ini dan juga bekal di esok hari. Dengan ini PKIna bukan lagi sekedar asyiknya pertunjukan semata, namun juga sarana membangun pemahaman kolektif akan beragam fenomena musik.  Inilah makanan yang penting bagi banyak insan musik, suatu diskusi yang sepantasnya lebih kerap terjadi di dalam ruang bermusik kita.

Iklan
About mikebm (1238 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: