Kabar Terkini

Kocak dan Musikal, Sajian dari Total Perkusi

Total Perkusi dalam formasi lengkap

Kalau Anda bertanya instrumentalis apakah yang gayanya seru dan kocak? Setelah menonton pertunjukan malam ini di Teater Salihara dalam Salihara International Performing-Arts Festival 2016, jawaban tentunya ada di depan mata. Pemain perkusi nampaknya punya selera humor yang menarik dan membuat pertunjukan menjadi hidup.

Total Perkusi hadir dengan konser bertajuk ‘Percusound’ yang asyik dan menghibur Sabtu malam ini. Turun dengan delapan orang pemain, Total Perkusi bukan hanya berhasil membagikan musik perkusi yang menarik, tapi juga menjelajah musik kontemporer lewat permainan mereka yang apik. Didukung oleh Ryan Saputro, Andre Phan, Gagah Pacutantra, Rialgi Dilanuar, Aga Virgandho Tri Atmaja, Tomy Vernando Felani, Alfin Straini dan Muhammad Ainul Haq, malam ini Total Perkusi menghadirkan sepuluh karya perkusi di hadapan para penonton yang hadir malam kemarin.

Dibuka dengan karya The Magician karya Julie Davilla, Total Perkusi agak lambat panas, dengan penyesuaian akustik dan timing antar pemain yang terjadi. Diselingi dengan permainan virtuosik juga musikal dari solo seperti karya White Knuckle Stroll karya Cangelosi yang dimainkan Alfin Satriani juga karya Bharatayudha ciptaan Bayu Citra Raharja oleh Ryan Saputro di atas marimba. Permainan marimba yang akrobatik dari Rialgi Dilanuar dan M. Ainul Haq dengan transkripsi Flight of the Bumblebee dari Rimsky-Korsakov membuat tontonan menjadi menarik. Keduanya seakan bergantian menjelajah papan nada marimba dengan berlari, bertukar posisi bersilangan lengan. Permainan duo Octabones dari Alfin Satriani dan Rialgi Dilanuar juga begitu mempesona dengan kontrol teknik yang luar biasa dan disertai sentuhan musikalitas yang manis.

Karya Tony Maryana berjudul Awi Kosrek tergarap dengan cantik mengandalkan permaian Alfin, Aga dan Rialgi yang duduk bersila berhadapan menabuh ritmis potongan bambu. Nuansa musik latin terdengar dari permainan karya komponis Malaysia Chong Kee Yong Music for Jimi yang mengandalkan trio Ryan, Tomy dan Ainul Haq yang dinamis sembari berinteraksi dengan olahan elektroakustik distorsi gitaris legendaris Jimi Hendrix sebagai lantunan utama karya yang terproyeksi lewat speaker stereo di sisi kiri dan kanan panggung.

Trio Total Perkusi memainkan karya elektroakustik dan perkusi Cong Kee Yong

Trio Total Perkusi memainkan karya elektroakustik dan perkusi Cong Kee Yong

Mega Senja karya Ryan Saputro, The Way Out gubahan Andre Phan dan Suite for Solo Drum Set and Percussion Ensemble ciptaan David Mancini  menjadi suguhan ketika delapan perkusionis berbakat ini bermain bersama. Nampak bahwa kedelapannya mampu menciptakan suguhan yang menarik dengan permainan musik kamar yang apik dan kompak. Permainan pun begitu mengalir meski ada tantangan dari akustik teater black box yang mampu mengubah balans permainan perkusi antara melodi dan pengiring. Meski demikian, antusiasme permainan terpancar dengan kuat dalam permainan kesemuanya.

Total Perkusi yang asal Jogja ini mampu menghadirkan suasana yang santai dan bahkan jenaka lewat permainan dan interaksi mereka dengan penonton. Kecerdikan bermain kata dan bahkan celotehan singkat yang terkesan lugu menjadi pemicu lekatnya aksi mereka di atas panggung dengan hati para pemirsa yang hadir di Salihara. Nyata lewat permainan kemarin bahwa Total Perkusi sebagai sebuah kelompok dan juga komunitas pemain perkusi di Jogja mampu menghadirkan kualitas permainan musik juga hiburan yang memikat lewat aksi talenta para musisi perkusi Indonesia yang hadir di pentas.

Sajian kemarin sungguh pantas untuk dinikmati sambil melewatkan malam Minggu, bukti bahwa Indonesia adalah gudangnya perkusi, keluarga alat musik yang lekat dengan tradisi musik di kepulauan Nusantara. Percusound adalah salah satu cermin dari hidupnya perkusi di Indonesia.

total-perkusi-jogja-2

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: