Kabar Terkini

Kelana Al Suwardi di Ruang Antara


Berada di ruang antara, seakan melayang dalam renung dan juga dalam pergerakan yang tak kunjung berunjung, musik seakan mengalir tanpa awal dan akhir. Dalam pergerakan yang seakan menghipnotis penonton, membawa penonton masuk ke relung-relung tak sadar, mencipta ruang antara. Hipnosis dan ketenangan membalut irama lembut yang menghanyutkan, musik menghantar penonton bergerak bersama musik yang ragawi sembari menyelami dunia di antara sadar dan bawah sadar, bergulat dalam kesaruan harmoni dan laras. Antara inovasi modernitas dan juga ikatan tradisi yang mengakar, pergelaran kemarin menjadi sebuah petualangan di ruang antara.

Berkelana dalam Planet Harmonik adalah judul dari karya magis ini. Sebagaimana judulnya, komposisi mengajak penonton berkelana yang terkadang tak tentu arah namun kesemuanya dikemas dalam sebuah karya musikal yang berkarakter dan memikat. Sang komponis Aloysius Suwardi membangun karya ini lewat menyelami akar budayanya dalam seni karawitan Jawa dan menciptakan instrumen-instrumen baru yang memperkaya khasanah bebunyian instrumen pukul dan bahkan menciptakan sebuah interpretasi baru dari gamelan.

Mengambil penalaan Phytagoras music of the sphere, Suwardi menciptakan sebuah set instrumen unik dengan karakter yang sangat berbeda dari gamelan biasa, menyajikannya dalam rekonstruksi penalaan slendro dan pelog yang digunakannya. Batang besi, dan genta yang terbuat dari perunggu kesemuanya menjadi material utama instrumen yang digunakannya untuk instrumen-instrumennya yang dinamai klonthong, centhuwing, konthang, klunthung, klinthing, glendhung, glendhang, thering, klenthar, dan vibrander, sesekali disertai vokal pesinden, suling bambu dan rebab.

Karya ini mengalami metamorfosis yang tiada henti selama 40 tahun yang terus disempurnakan hingga kini. Dengan sentuhan teatrikal di pembuka, seluruh suguhan semalam langsung menyita perhatian penonton. Karya ini sendiri dibagi menjadi tiga bagian: ‘Pisungsung’, ‘Nunggak semi’ dan ‘Rajutan’ di mana bagian satu dan dua membangun ketenangan dan pewarnaan vokal yang kentara seakan mengambil rupa gendhing Jawa, menghipnotis, menenangkan dan bahkan mengundang penonton berkhayal. Di bagian tiga berdiri dengan kontras seakan melompat girang dengan helaan nafas yang sedemikian hidup.

Di sepanjang karya, Suwardi menjelajah penalaan baru ini dengan pendekatan khas karawitan Jawa yang cenderung tenang membuai, namun aksentuasi karawitan Bali juga sesekali hadir lewat permainan klonthang yang tertahan seperti permainan saron gamelan Bali juga kotekan glendhang yang cepat dan bergairah. Interaksi rebab yang mengambil lagu gendhing dan mengarahkan kalimat sesekali berbalas dengan permainan suling bambu yang justru bercorak Pasundan, sedang pesinden justru meninggalkan tekniknya dan mengambil teknik musik populer dengan memperdalam resonansi suara – sedikit keisengan nakal komponis yang mengundang senyum pendengar yang menangkapnya.

Dengan didukung Grup Planet Harmonik yang terdiri dari 16 pengrawit dari Institut Seni Indonesia Surakarta memastikan karya ini kaya dengan sentuhan gamelan Jawa yang kuat. Karakter permainan ensembel yang kuat disertai ingatan musikal yang mumpuni untuk sebuah karya sepanjang 50 menit ini menjadi nilai tambah permainan kelompok ini yang bermain tanpa melirik catatan kertas maupun partitur. Di dalam benak, terasa sungguh akar musik para musisi di karawitan sehingga kelekatannya dengan karakter karawitan tidak sekalipun terlepas. Permainan ensembel terus terjaga sekalipun para pemain berdiri saling membelakangi seakan semuanya berada dalam satu frekuensi yang sama.

Berbeda sungguh dengan narasi di babak pertama yang hingga pemain masuk ke panggung pun tiada tepuk tangan berbunyi, sahutan harmonisasi vokal para pengrawit sembari lantang bermain menutup pertunjukan semalam dalam sebuah kemeriahan. Salihara International Performing-Arts Festival 2016 menjadi pentas bagi Al. Suwardi dan komposisinya yang menarik, juga inovasinya akan alat musik pukul nusantara menambah bukan saja diskografi musik kontemporer Indonesia tetapi juga khasanah bunyi di Tanah Air. Sebuah ruang antara dan mungkin sebuah alternatif jalan tengah dalam menyikapi makna inovasi dan tradisi? Mungkin saja.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: