Kabar Terkini

Kesegaran Kyai Fatahillah yang Mendobrak


Api semangat membara berbaur dengan gaung dan gema setiap dentang instrumen perunggu yang berdengung. Antara pergerakan dan atraksi, kesemuanya mengampu pada sebuah persembahan musikal dan berujung pada pentas sebagai keparipurnaan karya. Alhasil pertunjukan semalam bukan hanya menjadi pertunjukan seni semata, namun juga sebagai tontonan yang mengesankan, ‘Gamelan Anyar’.

Di Galeri Salihara Selasa malam ini, giliran tamu dari Bandung Ensemble Kyai Fatahillah yang hadir menyemarakkan Salihara International Performing-arts Festival 2016. Dipimpin konduktor sekaligus juga komponis yang karyanya dipentaskan malam ini, Iwan Gunawan menjadi motor pertunjukan 19 orang pengrawit dari Ensemble Kyai Fatahillah yang bermarkas di Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Tak kurang dari 11 karya dipentaskan malam ini yang tujuh di antaranya merupakan komposisi orisinal Iwan Gunawan, sedangkan dua lainnya merupakan hasil aransemennya yang jeli dan unik.

Iwan Gunawan adalah salah satu dari sedikit komponis Indonesia berangkat dari gamelan dan merambah dunia komposisi kontemporer dan terinspirasi kuat dari gaya musik modern Eropa. Di awal pertunjukan malam ini, lima karya Iwan Gunawan hadir membuka pertunjukan ini. Dijahit menjadi satu kesatuan, rangkaian ini dibuka dengan permainan Waled Kreasi (2016) yang singkat, apik dan menggugah disusul dengan Gamelan Soundscape (2015) yang mengeksplorasi penggabungan dua laras pelog dan slendro yang menyajikan permainan penuh warna-warna yang tidak terduga, terlebih dihiasi dengan eksplorasi seruling bambu yang bukan saja menarik namun menjadi bagian dari karya yang terintegrasi dengan padat. Minutes (2015) yang kemudian menyusul dengan penyusunan fragmentasi frase-frase musikal berulang yang perlahan terungkap hingga menciptakan citra yang seakan ireguler dalam dua laras yang berbeda. Rangkaian ini kemudian disambut dengan karya Cycle and Variations (2015) yang mengetengahkan lantunan tarawangsa yang kemudian berkembang hingga keseluruhan menginspirasi gerak dan nyanyian hingga menutup karya lewat Kulu-kulu 2010 (2010) yang bertenaga dan menutup rangkaian ini.

Setelah menyaksikan bagaimana seorang komponis tradisi terinspirasi oleh interaksinya dengan musik Barat, kini di tengah acara giliran penonton menyaksikan karya empat komponis Eropa dan Amerika yang terinspirasi oleh gamelan dan menggunakan gamelan sebagai sentral dari karya-karya mereka. Karya komponis Jerman Dieter Mack berjudul Crosscurrent mengeksplorasi gamelan degung dalam konteks pengembangan ala musik Barat. Orkes Bercahaya (1997) karya Roderik de Man yang tenang dalam garapan slendro kuno mengangkat prosesi acara agung. Kyai Fatahillah juga mengajukan karya Steve Reich Six Marimbas for Gamelan yang diaransemen oleh Iwan Gunawan yang mengapropriasi permainan repetisi motif minimalis marimba di atas bilah-bilah saron dan gambang sebagai tekstur dasar sembari diaksentuasi permainan bonang. Karya Theo Leovandie yang diaransemen Iwan berjudul Twee Korte Stukken voor Piano menggambarkan dengung bel gereja yang berdentang di atas piano dan bonang yang perlahan diambil alih oleh seluruh ensembel. Sayangnya penampil memilih untuk menggunakan piano elektrik dalam permainan ini sehingga sedikit mengurangi resonansi dan gaung natural yang hanya dapat tertangkap oleh instrumen piano akustik dan mengurangi nikmat tontonan semalam.

iwan-gunawan-kyai-fatahillah2

Dengan stamina yang tersisa konser pun ditutup dengan tampilan tiga buah karya asli Iwan Gunawan. Fly (2013) yang berkombinasi antara gamelan pelog, slendro, siter dan piano elektrik membuka diikut dengan karya Cantus Firmus (2011) yang bertolak dari eksplorasi suara gamelan, ketubuhan dan manipulasi elektro akustik yang saling berdialog dengan cemerlang. Menarik bahwa bentuk karya ini dibingkai oleh olahan suara elektroakustik yang sedikit banyak membatasi lingkup karya. Konser pun ditutup dengan imajinatif lewat permainan yang kaya corak yang terinspirasi oleh ekplorasi musik dodekafoni dengan permainan kendang yang dikembalikan ke fitrahnya sebagai pengarah permainan seluruh ensemble gamelan sebelum dituntaskan dengan meriah, lewat karya berjudul Noname and Nothing (2011).

Iwan Gunawan dalam eksplorasinya membongkar kekakuan pakem-pakem karya gamelan dan justru menggunakan instrumen gamelan tradisional menciptakan kebaruan dalam berkarya karena interaksi dan kedekatannnya dengan musik Barat. Pencampuran dua laras menciptakan kegamangan yang disengaja dalam karya, serupa dengan efek dodekafoni yang meniadakan tonalitas. Permainan interval mikro menciptakan nuansa yang sama sekali berbeda dibarengi dengan kompleksitas karya yang hanya dapat tercapai lewat intrikasi penciptaan tertulis.Ya, Ensemble Kyai Fatahillah adalah sebuah ensemble gamelan yang membaca partitur not balok, berbeda dengan kebanyakan kelompok gamelan tradisional yang mengandalkan memori musikal. Sekalipun berbeda, media tertulis dalam bentuk partitur memungkinkan ensembel gamelan ini mengeksplorasi dengan corak musik yang tidak lazim untuk pemain gamelan, di satu sisi mampu melepaskan pemain dari ketergantungan terhadap formula tradisi.

Permainan kelompok ini begitu mempesona. Dengan nafas musikal yang terbina baik, gaya tutur kelompok ini memiliki keluwesan yang dibutuhkan oleh kelompok gamelan, namun juga diikuti presisi dan permainan ensemble yang tergolong luar biasa. Dipadu dengan daya stamina, permainan mereka yang fleksibel dengan nafas Indonesia yang kuat mampu menemukan ketepatan ‘saat’ diikuti dengan virtuositas permainan yang tinggi. Alhasil ensemble ini memiliki ruang gerak dan kekhasannya sendiri yang tak tentu dapat ditiru ensembel lain baik di dalam maupun ensembel gamelan kontemporer dari luar negeri. Musisi pun mengikuti arahan dari Iwan baik sebagai pemain kendang, maupun sebagai seorang dirigen di depan seluruh ensemble yang memimpin dengan keyakinan tinggi di tengah kompleksitas hitungan birama musik kontemporer. Galeri pun memungkinkan penonton untuk duduk berdekatan dengan ensembel sehingga menambah sensasi yang tersampaikan lewat getaran-getaran musikal dari dekat.

Menantang, menghibur dan membuka mata, Kyai Fatahillah dan Iwan Gunawan mendobrak batas-batas dengan kesegaran musikal yang berbeda. Malam yang sungguh layak untuk disaksikan!

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: