Kabar Terkini

Persembahan Suara Muda: Antara Asa dan Amor

Pertunjukan perdana IYSO tahun 2015 lalu

Catatan Kecil tentang IYSO 

~ oleh Asep Hidayat Wirayudha


Prelude

Untuk ke sekian kalinya Indonesian Youth Symphony Orchestra (IYSO) dengan proses yang panjang dan cukup rumit akhirnya bisa tampil di Gedung Aula Shanata Dharma Minggu malam (9 Oktober) kemarin. IYSO memainkan tiga repertoar: Tchaikovsky Symphony no.4, Op, Dvorak cello concerto dan Komposisi Indonesia Ibu Soed (Arr Addie MS) dengan Pengaba Kanako Abe, meskipun tidak berkesempatan hadir pada malam konser berlangsung namun saya sempat mengintip proses sesi latihan mereka. Sebagai profesi di bidang musik sekaligus sebagai warga kampus, saya terhasrat untuk sedikit berkomentar tentang perjalanan mereka.

Allamande

Sejauh saya ketahui, awal dari pendirian IYSO adalah sebuah gagasan/ide diprakarsai oleh beberapa mahasiswa-mahasiswa yang mempunyai militansi dan intergritas musik yang baik serta berambisi/bercita-cita untuk memajukan dan mewujudkan Orkes di Yogyakarta (Indonesia ?) dengan bermacam kegelisahan-kegelisahan musical yang mereka alami yang tidak mereka dapatkan di lingkungan kampus. Sebagai warga kampus saya sangat mendukung ide-ide mereka untuk mewujudkan itu, karena mata kuliah orkes semenjak tahun 1992 hingga sekarang tidak pernah ada dalam kurikulum ISI. Sungguh ironis! Berbagai repertoar-repertoar untuk orkes dan repertoar untuk solo dimainkan dalam agenda konser IYSO (Sebetulnya tidak ada yang baru dalam repertoar-repertoar yang mereka mainkan, generasi sebelumnya sudah memainkannya pada tahun 1990-an).

Courante

Ada point yang menarik salah satu dari konsep mereka yaitu “Gagasan tentang orkestra ini tidak hanya berhenti sebatas lingkup orkes simfoni. Orkes ini didirikan untuk membangun anak-anak muda Indonesia di masa depan yang cinta akan seni dan budaya” (Dikutup dari Tulisan Tanggapan: IYSO dan Kronologis Sejarah Berdirinya 6/4/2015) — sebuah kesadaran kebangsaan yang sangat tinggi nan luhur yang harus diapresiasi. Saya mempunyai perspektif lain mengenai statement di atas. Bahwa benar anak-anak muda Indonesia dimasa depan harus memiliki cinta akan seni dan budaya, saya sangat setuju. Pertanyaannya apakah hanya dengan bermain orkes bisa langsung menjadi nasionalis? Dan mencintai seni dan budaya…? Seni dan budaya yang mana…? Dan anak muda yang mana.. terlalu jauh dan berat bebannya untuk sebuah komunitas..

Sarabande

Dari generasi ke generasi, yang berkecimpung di ranah musik merindukan hal yang sama, bercita-cita membangun sebuah orkestra sudah lama dilakukan oleh generasi sebelumnya di kota-kota besar di Indonesia. Bahkan saat kelompok-kelompok orkestra bermekaran muncul secara sporadis di berbagai kota besar di Indonesia khususnya di Jawa, fenomena ini sangat menarik untuk diamati.

Orkes-orkes terdahulu yang sudah terbentuk dan entah berapa lama mengilang dan muncul lagi dengan nama baru bahkan ada yang sama sekali tidak terdengar lagi. Menurut saya lebih menarik untuk diamati mengapa itu terjadi lagi dan terjadi lagi.

Gavotte I

Membangun sebuah orkestra atau orkes simfoni tidak semudah seperti membalikan telapak tangan.

Tidak cukup kuat hanya keinginan saja, tidak akan solid tanpa anggota yang mempunyai keterampilan tinggi tidak afdol tanpa sponsor. Semua itu tidaklah cukup. Ada hal lain yang harus dimengerti dan disadari. Membangun sebuah orkestra sama halnya dengan membangun peradaban dan habitus baru, baik itu konduktor, pemain, penonton, managerial, infrastruktur, dan lain-lain. Semua berkaitan sangat erat.

Gavotte II

Untuk sebuah komunitas orkestra pelajar, IYSO cukup baik untuk dijadikan contoh dengan komunitas orkestra pelajar lainnya, sebuah proses dan berproses mereka bagaimana memaknai konsep bermusik yang baik, baik secara musikal dan non-musikal, interpretasi bersifat teknis yang sesuai dengan kapasitas dari para pemainnya. Repertoar-repertoar yang diagendakan adalah repertoar-repertoar yang mempunyai tingkat teknik dan keterampilan yang tinggi dari pemain-pemainnya, terutama simfoni-simfoni dari Tchaikovsky. Saya merasa kagum dan gembira repertoar sulit itu dimainkan sekaligus merasa galau dan gundah bagaimana musik yang sesulit itu dimainkan tanpa skill yang tidak cukup memadai.

Gigue

Keterampilan merupakan sebuah alat transportasi menuju suatu estetika di dalam musik yang wajib dikuasai dan dipunyai oleh seorang pemain. Keterampilan individual dalam hal ini sangat penting berperan dalam membuat musik menjadi indah. Tanpa itu mustahil estetika itu tercapai. Pada sesi latihan yang saya intip sebelum konser ISYO kemarin, ada hal yang saya rasakan ketika mereka berlatih terutama dalam karya Tchaikovsky. Instruksi musikal dari sang pengaba masih belum bisa dijabarkan dan dimengerti oleh para pemain yang nota bene masih kesulitan secara teknis. Permasalahan yang sangat dasar seperti ketepatan pitch (intonasi), dan presisi ritme pada seksi brass, woodwind dan gesek masih terlalu asing bagi para pemain karena repertoar Tchaikovsky secara teknis dan estetis berada di atas ketrampillan mereka. Mereka mempunyai semangat 45 dan tampak para pemain begitu gigih dan bergulat dengan segala kesulitan yang mereka hadapi. Namun sejujurnya, sungguh belum saatnya memainkan karya besar yang sedemikian sulit untuk ditafsirkan. Terlalu banyak yang masih mereka harus pelajari dan alami sebelum mereka sampai memainkan karya-karya puncak seperti itu. Patut saya apresiasi khusus kepada sang pengaba Kanako Abe yang bersabar dan bertoleransi dalam berproses. Bisa saya bayangkan dengan segala kerumitan-kerumitannya, bagaimana mengelola, membangun estetika di dalam orkes yang minim pengalaman dan skill terbatas pasti mengalami konflik bathin estetika, namun karena ASA dan AMOR nya terhadap IYSO justru malah tidak terbebani.

Di dalam pembinaan bakat dan misi yang ditawarkan oleh kelompok IYSO, harus dicari modus yang paling proposional agar tidak kelebihan dosis konsep dan idealisme yang tidak perlu. Kesetaraan, kebersamaan serta hak untuk maju bersama adalah sifat dari falsafah edukasi. Di dalam kelompok harus dijunjung tinggi dan diterapkan supaya tidak merugikan diri sendiri dan kelompoknya. Saya teringat kata-kata bijak dari seorang Beethoven, “ Belajar Musik sama dengan Belajar Hidup”. Ini bisa ditafsirkan bahwa semua orang belajar musik harus melalui sebuah proses, proses yang panjang bukan instan. Seperti kapasitas hidup manusia semua itu ada porsinya masing masing, di luar hukum itu kita menyebutnya sebagai paksaan.

Kita tunggu sepak terjang IYSO berikutnya dengan repertoar-repetoar lain yang proporsional namun dapat dinikmati pemain maupun penonton. Mudah-mudahan program berikutnya IYSO bisa menampilkan solis-solis muda berbakat lainnya yang harus diberi kesempatan sama.

Gambare…. IYSO..!!!

~ Asep Hidayat Wirayudha adalah cellist dan dosen musik di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan sedang menuntaskan studi doktoral di institusi yang sama

1 Trackback / Pingback

  1. Menjawab Asa dalam Pendidikan – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: