Kabar Terkini

Menjawab Asa dalam Pendidikan


Menyikapi tulisan dari Asep Hidayat Wirayudha akan persiapan penampilan Indonesian Youth Symphony Orchestra (IYSO) di Jogja di pekan kemarin, terungkap pula tantangan dalam dunia pendidikan musik, terutama di kota pelajar Yogyakarta yang sudah mengemuka dan bahkan mendesak untuk segera diselesaikan. Menjadi pertanyaan yang sebenarnya bergulir tiada henti: mengembangkan teknik dahulu atau nekad memainkan karya sulit terlebih dahulu?

Dalam artikelnya, Asep mengupas pentingnya mempertimbangkan capaian teknik dalam penampilan, semangat dalam berkarya dan juga tantangan dalam menciptakan sebuah ‘habitus’ dalam berkesenian. Asep mengungkap bahwa IYSO lahir dari sebuah ‘asa’ dalam menciptakan iklim bermusik yang lebih hidup, juga sebagai jawab atas keprihatinan mereka akan pengembangan kurikulum orkestra di dalam institusi di Institut Seni Indonesia. Asep mengamini bahwa ‘asa’ pemain yang besar ini tidak tentu terfasilitasi dalam institusi pendidikan sehingga banyak peserta didik kemudian secara mandiri menciptakan kesempatan untuk mencari kepuasan dalam berkarya meski ia mencermati betapa teknik yang mereka miliki belum mampu mendukung karya dan proses berkarya yang dibutuhkan.

Permasalahan ini sungguh adalah permasalahan purba dalam dunia pendidikan musik. Apakah yang harus digarap terlebih dahulu, memaksakan peserta didik untuk memacu diri memainkan karya sulit atau menunggu hingga peserta didik itu cukup matang secara teknik sebelum akhirnya mencoba memainkan karya sulit. Persoalan ini juga hadir ketika menyikapi talenta-talent prodigy yang kerap muncul di dunia berkesenian, sungguhkah harus menunggu kematangan teknik dan kematangan individu sebelum memainkan sebuah karya?

Proses pendidikan sendiri sebenarnya bertumpu pada upaya meningkatkan wawasan dan keterampilan peserta didik lewat eksperimentasi, latihan dan penyelidikan akademik. Peserta didik dalam kapasitasnya ditarik untuk melangkahi zona nyaman dan kemudian masuk ke dalam upaya mencari titik jejak baru. Persoalan teknis bermusik jugalah demikian, peserta didik diajak perlahan maju di sisi teknis supaya meregangkan kemampuan secara bertahap lewat kontak yang berkesinambungan dengan pendidik dan juga penguasaan karya-karya etude yang ditulis secara khusus untuk melatih teknik. Secara berangsur-angsur, kematangan teknik yang diperlukanĀ diharapkan tercapai sehingga mampu menjawab tuntutan permainan dengan tingkat kesulitan tinggi.

Sayangnya dalam sebuah orkestra yang digawangi puluhan orang, pelatihan yang berangsur-angsur ini tidak dapat dilakukan secara menyeluruh, mengingat tingkat kematangan teknis bermusik yang beragam antar pemain dan juga minimnya kontak pemusik dengan pendidik. Latihan seksional dan juga latihan bersama seluruh orkestra tidak pernah diperuntukkan bagi setiap peserta untuk mengembangkan kemampuan teknis, melainkan untuk mengejar kematangan dalam menginterpretasi sebuah karya yang seharusnya telah didasari kematangan bermusik tertentu. Inilah kekeliruan yang kerap kali terjadi. Orkestra bukanlah moda untuk membangun kematangan teknis seorang musisi.

Meskipun demikian, perdebatan ini tidak dapat dijawab dengan menutup pintu para peserta didik akan eksposur musik-musik yang tergolong menantang dalam format orkestra. Tanpa keinginan seperti ini, para pelajar hanya akan diam di tempat menunggu untuk disuapi oleh pendidik. Berani untuk menjawab sebuah tantangan dalam memainkan karya dengan tingkat kesulitan tinggi dan bahkan lebih tinggi dari keterampilan yang dimiliki adalah bagian dari pembelajaran seorang calon musisi. Tanpanya, justru niatan peserta didik dan juga pendidik untuk maju dan memajukan kualitas diri sungguh dapat dipertanyakan.

Persoalan ini dalam iklim bermusik para pelajar di Jogjakarta terjadi karena belum mampunya institusi pendidikan menjawab kebutuhan seluruh peserta didik. Di sisi lain, pasar dan ekosistem pun juga tidak dapat menjawab kehausan para peserta didik untuk menyelam sedalam yang mereka mampu dan meretas batas yang mereka miliki dan bahkan mengeksploitasi musisi muda yang mungkin terlampu lugu dan bersemangat ini. Peserta didik yang ingin melangkah lebih jauh justru merasa kurang tertantang dan kurang terfasilitasi padahal menjawab asa dan aspirasi peserta didik adalah tugas dari seorang pendidik dan institusi yang mampu memfasilitasi sekaligus juga mengarahkan musisi.

Yang terjadi dewasa ini, para peserta didik akhirnya mencari jalan keluar alternatif dengan menciptakan kendaraan yang diharapkan mampu memayungi mereka yang ingin berkembang lebih jauh. Di sisi lain, jumlah mereka ini tidak terlalu banyak sehingga mereka pun masih membutuhkan dukungan rekan-rekan yang mungkin dinilai belum terlalu matang untuk mewujudkan kendaraan ini sehingga secara tidak langsung menciptakan ketimpangan dan permasalahan baru. Jalan keluar ini sayangnya hanya berfungsi hanya bagi segelintir dan bukan untuk keseluruhan anggota orkestra sehingga dipersepsi sebagai pemaksaan bagi anggota yang belum mencapai level tersebut.

Yang sebenarnya dapat diperjelas justru adalah visi dari kendaraan alternatif IYSO ini, sampai seberapa jauhkah fungsi dan perannya sebagai solusi yang bermanfaat bagi seluruh anggota orkestra dan bukan hanya garda terdepan dari orkestra ini yang diuntungkan oleh eksplorasi seluruh orkes ke ranah teknis yang lebih luas ini. IYSO sendiri bisa jadi lalui dalam merumuskan halauannya dengan jelas. Beranggotakan mahasiswa ISI dan SMM Yogya, terjadi pula ketimpangan dalam kematangan bermusik terlebih dengan visi yang terlampau berat dan meluas namun dalam praktiknya masih berada dalam lingkup yang relatif terbatas (Yogyakarta dan sekitarnya) dan belum meluas ke seluruh Indonesia sebagai outlook yang disampaikan di tahun pertama.

mission-iyso

Misi IYSO diambil dari website IYSO

Di sisi lain, kita juga patut menanyakan fungsi institusi pendidikan dalam menjawab asa dan aspirasi peserta didiknya. Institusi pendidikan dan pendidik memainkan peranan yang krusial dalam menanamkan kerendahan hati dalam berkarya, juga dalam mengukur kemampuan dan nanamkan kesadaran dalam berkarya sembari terus menantang mereka yang berbakat untuk terus meretas batas dan menjawab asa mereka masing-masing. Adalah tugas guru masing-masing untuk memberi arahan yang tepat dalam menyikapi tawaran-tawaran bisa jadi tidak menguntungkan peserta didik. Apabila peserta didik memilih untuk tidak mendengarkan guru mereka, sang guru pun juga patut berefleksi, apakah sebab ketidakpatuhan tersebut dan bagaimanakah relasi antar guru-murid yang seharusnya dijaga dengan baik.

Pertanyaan berikutnya yang harus dilontarkan adalah apakah sungguh format orkestra mampu menjawab kebutuhan musik dan pengembangan pribadi para aspiran ini, terutama apabila visi yang ditujukan adalah pencapaian artistik dan estetik sebagaimana diungkap oleh Asep? Apakah inisiatif peningkatan aktivitas musik kamar mampu menjawab? Format yang lebih kecil seperti musik kamar saja belum tentu dapat menjawab pertanyaan ini, terlebih format orkestra yang sedemikian besar dan partikuler dalam fungsinya yang menambah kompleksitas kebutuhan para peserta. Belum lagi hadir kegelisahan publik Jogja yang menilai bahwa mereka belum memiliki sebuah orkestra mandiri yang sungguh berfungsi sebagai orkestra kota dan memainkan peran sebagai ujung tombak artistik kota yang sebenarnya sungguh kaya dengan tradisi, seniman dan kesenian itu sendiri.

Catatan terakhir, orkestra bukanlah sebuah panacea yang mampu menyembuhkan segala macam problema dan tantangan dalam pendidikan dan berkesenian. Menempatkan IYSO sebagai jawab dari berbagai kebutuhan artistik dan estetika seluruh anggota, institusi pendidikan, pemerintah dan warga kota justru keliru. IYSO tentuya akan terus berkembang sebagai sebuah alternatif yang menawarkan manfaatnya tersendiri untuk publik dan seniman yang berkiprah di dalamnya. Membebankan seluruh tanggung jawab carut-marutnya pendidikan, manajemen dan kebijakan kebudayaan pada organisasi berusia dua tahun yang digalang anak muda malah tidak pada tempatnya. (lih. IYSO dan 100 tahun orkestra Indonesia – Erie Setiawan)

Sudah saatnya semua berbenah, berikan IYSO ruang untuk bergerak dan mematangkan halauannya dan bagi para pelaku yang berada di sekitarnya, sudah saatnya pula berefleksi, sejauh apakah peran masing-masing dalam memajukan kapasitas berkesenian di kota ini.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Menjawab Asa dalam Pendidikan

  1. reika humana // 16 Oktober 2016 pukul 10:25 pm //

    terima kasih,tulisan anda sangat bijaksana,anak saya baru bergabung dengan IYSO sekitar 4 bulan yang lalu dan dia banyak mendapatkan pengalaman yang sangat berharga bersama IYSO,terutama dapat belajar dengan pengaba kanako abe,beliau seorang pendidik yang sangat sabar dan disiplin terhadap anak-anak ,sering mereka menemui kendlala dalam bahasa,tapi itulah salah satu proses pematangan dlam bermain musik ,saya pribadi sangat terharu melihat anak-anak IYSO, mereka gigih menyiapkan konser ini, yang mana beberapa di antara anak-anak anggota,masih harus mengerjakan skripsi,kuliah,semangat mereka luar biasa…semua mereka kerjakan bahu membahu dengan anggota nya,suatu kegiatan yang sangat positif,semoga para guru bisa memberikan semangat bagi anak-anak muda ini…supaya IYSO kedepannya semakin maju….

  2. Terimakasih mba Reika, selamat atas keikutsertaan anak Ibu ke dalam IYSO semoga bisa semakin berkembang dalam bermusik. Salam!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: