Kabar Terkini

Elijah dan Tanggung Jawab Dramatika Mendelssohn


Inilah kali kedua penulis menyaksikan pementasan oratorio monumental karya Felix Mendelssohn, Elijah Op.70, dinyanyikan oleh Jakarta Oratorio Society setelah sebelumnya karya yang sama ditampilkan tahun 2007 lalu (ulasan di sini). Dalam pementasan di hari Sabtu ini, Jakarta Oratorio Society yang kini merayakan ulang tahun ke-30 tampil dengan kekuatan besar dengan sekurangnya 140 orang penyanyi dan didukung Jakarta Sinfonia Orchestra. Diperdanakan tahun 1846, karya yang megah ini dipersembahkan dengan kemeriahan tersendiri menyambut hari jadi paduan suara tuan rumah di gedung konser Aula Simfonia Jakarta ini.

Sabtu ini tidak segenap karya ditampilkan, beberapa bagian dipilih dan dipotong dan tidak diikutsertakan dalam pementasan hari ini namun akan dipentaskan secara utuh pada penampilan Minggu (16/10). Bilamana tidak, dalam pementasan penuhnya durasi oratorio ini mencapai setidaknya 2 jam, namun pementasan kali ini konduktor Stephen Tong pun mementaskan karya setidaknya hampir selama 2 jam meskipun setidaknya 18 dari 41 nomor dalam karya ini dihapuskan untuk pementasan semalam. Hal ini dapat terjadi karena pilihan tempo yang sedemikian lambat oleh konduktor senior yang juga menjabat sebagai principal conductor dan artistic director dari Jakarta Sinfonia Orchestra ini.

Paduan suara Jakarta Oratorio Society yang diarahkan oleh Eunice Tong Holden tampil dengan keyakinan yang meresap akan makna teks namun dalam eksekusi seringkali terasa berat dan tampak kehilangan arah meskipun kalimat-kalimat besar musikal tetap tersampaikan dengan intensitas yang terjaga. Tempo yang cenderung lambat pun menyebabkan pergerakan musikal juga tersendat dan juga kemustahilan untuk bernyanyi sebagai kesatuan yang utuh dengan orkestra dan solois pada sore hari itu. Beberapa kali paduan suara mengambil inisiatif sendiri tanpa melihat konduktor dan meninggalkan orkestra di belakang, ataupun justru mengawang ketika hendak memulai kalimat musikal yang tidak jelas terdengar maupun ucapan yang sama sekali kabur. Meskipun demikian secara garis besar paduan suara tampak penuh keyakinan melalui karya besar yang sangat menantang ini.

Dengan banyak bagian solo yang dipotong, para solois masih mampu berusaha menyampaikan pesan musik kepada penonton Sabtu malam kemarin. Kee Chang Song (Elijah), Jae Wook Lee (Ahab), Caecilia Yap (Janda) juga Anna Koor, Elsa Pardosi dan Michelle Sugiarto bernyanyi sebagai tiga malaikat bekerja sama di bawah baton Stephen Tong. Meski kesemuanya memiliki kematangan suara dan proyeksi yang lantang, namun para solois masih kesulitan menciptakan ekspresi musikal yang jujur untuk karya ini. Meski dibawakan dengan lancar, kesemuanya terlihat hati-hati dalam membangun kalimat padahal Mendelssohn dikenal dengan melodinya yang membius menuntut ekspresi yang dramatis dari para penyanyi.

Orkestra sendiri bekerja dengan sangat keras. Wen Wen Bong selaku concertmaster mengambil tanggung jawab dalam menghitung dan mengarahkan keseluruhan orkestra bersama dengan para pemimpin tiap seksi. Setiap mata pemain tertuju pada bangku terdepan di sisi kiri dalam bagian-bagian resitatif ketika para solois diberikan kebebasan untuk mengambil ancang-ancang dan menyanyi dengan tempo sendiri dan orkestra wajib untuk mengikuti dengan tanggap. Beberapa kali orkestra pun sibuk memastikan ketukan dan kebersamaan mereka, padahal perhatian lebih perlu diarahkan kepada membungkus kalimat musik solois yang mereka iringi karena konduktor tidak mampu menjaga kepaduan korpsnya.

Ketegangan terasa ketika kalimat musikal hendak disampaikan sehingga meskipun musikalitas terasa, orkestra terdengar mentah tanpa penggarapan yang jelas. Di beberapa tempat keseimbangan suara pun tidak mendapat perhatian padahal permainan motif musik begitu terasa dan membutuhkan kejelian penggarapan dan kohesi antar pemain orkestra dan juga dengan solis dan paduan suara. Stephen Tong selaku konduktor perlu mengambil tanggung jawab lebih, bukan hanya dalam mengarahkan, tapi juga menggerakkan musik seluruh pemain orkestra, paduan suara dan solois malam Sabtu ini. Sebuah landasan ruang perlu diciptakan oleh konduktor sehingga para musisi merasa aman melangkah bersama di atasnya. Impresi kali ini sungguh berbeda dibanding pertunjukan oleh paduan suara yang sama hampir satu dekade sebelumnya.

Karya yang begitu megah dahsyat memang bukan hanya terletak pada banyaknya sumber daya yang dikerahkan ataupun besarnya muatan historis dari karya musik tersebut, namun juga terletak pada tanggung jawab penggarapan musikal yang lebih jujur bertutur. Pada penampilan malam ini, menampilkan Elijah adalah satu tantangan tersendiri yang telah berhasil dijawab dengan tanggung jawab oleh solois, orkestra dan paduan suara yang memasuki dekade keempatnya ini. Namun besar harapan pada penampilan esok hari Minggu, karya musik yang menggerakkan hati ini juga dapat menggerakkan hati penonton dengan lugas disertai penggarapan dramatika musik yang lebih menggugah dalam formatnya yang utuh.

~ Elijah akan kembali ditampilkan di Aula Simfonia Jakarta, 16 Oktober 2016, pukul 16:00

jos-jso-elijah

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: