Kabar Terkini

Membeli Ulasan Bagus dengan Mengundang Konser

Man freelancer working over laptop in the evening. Serious hipster looking at the screen, typing the document and drinking coffee.

Dalam diskusi internal intelektual musik beberapa waktu lalu, terbersit kabar bahwa pernah terjadi seorang musisi menuntut untuk diulas bagus atau paling tidak melupakan catatan-catatan minus ketika diulas terutama apabila sang musisi tersebut yang mengundang sang pengulas. Mengubah jurnalis yang bersih menjadi ‘wartawan amplop’. Etiskah sebenarnya pandangan seperti itu?

Mengundang media untuk mengulas adalah sebuah langkah yang sering dilakukan oleh penyelenggara maupun musisi. Tidak sedikit kegiatan dan organisasi membuka pintu sebesarnya bagi para kuli tinta untuk meliput dan melaporkan. Juga ada para penggerak yang kemudian mengambil inisiatif mengundang pengulas/jurnalis/kritikus untuk datang hadir dengan harapan bahwa mereka akan mendapat liputan media dan jangkauannya akan semakin meluas. Ya, ini adalah sebuah inisiatif yang berasal dari kesadaran akan pentingnya media peliputan dewasa ini.

Sebenarnya keputusan untuk mengundang media adalah sebuah keputusan strategis yang dilakukan oleh penyelenggara. Dengan peliputan yang semakin hambar, peliputan seni dengan isi yang menggigit dan aroma kritik yang kuat sebenarnya dapat memberi warna tersendiri bagi pengundang untuk mendapatkan liputan dengan cita rasa yang berbeda. Namun juga perlu disadari bahwa mengundang kritik juga harus didasari dengan kesadaran penuh akan etika jurnalisme bahwa jurnalis adalah insan independen yang tidak seharusnya dikontrol oleh imbalan peliputan. Mengharapkan peliputan yang baik dikarenakan telah memberikan akses kepada wartawan untuk meliput adalah sebuah alasan yang cenderung mengerdilkan fungsi jurnalisme dan profesi jurnalis itu sendiri. Etika adalah jantung dari profesi jurnalis yang juga harus disadari oleh jurnalis itu sendiri maupun pengundang.

Yang kedua yang perlu dicatat adalah pentingnya kesadaran dari pengundang bahwa dalam prinsip media dan pemasaran “Any news is good news”. Dalam hal ini, berita apapun dalam nada positif maupun negatif adalah sebuah aset yang mampu diolah untuk sebuah strategi pembangunan citra tertentu. Yang disayangkan adalah apabila justru sebuah peristiwa tidak diliput sama sekali hingga hilang tidak berbekas seakan tidak pernah terjadi. Karenanya peliputan ini menjadi penting, sebuah tulisan menjadi berita karena ada muatan berita di dalamnya dan apabila penyelenggara maupun seniman memahami pentingnya peliputan dan fungsi media dalam pengolahan citra dan strategi pemasaran mereka tanpa membeli isi/konten dari peliputan itu sendiri. Kegagalan penyelenggara ataupun seniman untuk menangkap dua hal kunci akan fungsi media ini adalah sebuah kekerdilan intelektual tersendiri.

Dari sisi jurnalis pun seorang jurnalis pun memiliki tanggung jawab yang tidak kalah besar. Di kala merebaknya ‘jurnalis amplop’ yang sengaja dibayar atau disuguhi merchandise oleh penyelenggara untuk mendapatkan peliputan yang menguntungkan penyelenggara, jurnalis pun harus mampu hadir sebagai insan intelektual independen yang mampu mempertahankan etika. Pewarta pun haruslah mampu memilah dan menciptakan iklim yang kondusif untuk menjamin independensinya sendiri dan etika yang harus dijunjung. Perwarta pun perlu hati-hati terhadap oknum-oknum yang berusaha mempengaruhi pemberitaan.

Kasus sedemikian pun terjadi dalam dunia peliputan musik. Dalam dunia seni yang dikelilingi oleh banyak insan kreatif yang tidak tentu mengerti kode etik jurnalistik dan pentingnya peranan media dalam membangun iklim yang sehat, media harus mengambil peran aktif yang seringkali intrusif. Sebagai catatan, MusicalProm pun pernah dianggap ‘tidak tahu diuntung’ karena berani melakukan peliputan yang jujur atas konser musisi-musisi dan penyelenggara yang berharap akan dapat ‘membeli’ liputan manis dengan mengundang Musicalprom. Namun demikian, ada pula penyelenggara/seniman terpuji yang menyadari pentingnya independensi dan etika jurnalistik ketika membuka pintu bagi media melakukan peliputan tanpa ada niatan mengontrol isi ulasan/liputan yang dihasilkan dan diterbitkan.

Di tengah peliputan musik yang hambar, media harus berani mengambil tanggung jawab untuk membangun iklim berkesenian yang berintegritas lewat kehadiran liputan yang bermutu. Kerja sama pembaca pun diharapkan juga mengawal visi ini ke depan. Dan bagi para seniman, sudah saatnya pula menyadari pentingnya media seni yang independen dan berintegritas demi kemajuan ekosistem bersama.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: