Kabar Terkini

Perkusi Pengampu Mikrofon


Teater Salihara kembali hadir dengan program musik dalam Salihara International Performing-arts Festival 2016. Di tahun ini, Salihara nampaknya memberikan perhatian khusus kepada dunia perkusi. Rabu malam ini giliran kelompok perkusi dari Australia, Speak Percussion, yang hadir di Teater Salihara dengan tajuk Transducer.

Transducer merupakan buah karya dari pemimpin artistik Speak Percussion, Eugene Ughetti dan seniman Robin Fox. Dengan bersentral pada microfon dan speaker, keduanya mencoba memaksimalkan potensi ruang, kinetika dan juga akustik sembari diiringi suara-suara terproses. Speaker pun tertata mengelilingi ruang, menimbulkan efek suara yang menguasai ruang auditorium kala itu. Di tangan Robin Foxlah spasialisasi dan keunikan suara tercipta sembari didukung oleh sound designer Byron Scullin dan sound engineer Nick Roux.

transducer3Materi bunyi sendiri berasal dari interaksi antara mikrofon dengan berbagai obyek, beberapa di antaranya adalah plastik yang bersentuhan dengan mikrofon dan gemeltuk tongkat kecil dan kepala mikrofon lain yang bergesekkan dengan mikrofon omni yang berdiri tegak di atas medan planar. Di tempat lain, penampil malam itu juga menghidupkan kembali eksperimentasi Steve Reich dengan memutar mikrofon dynamic bak sebuah lasso dengan kabelnya, yang membuatnya berinteraksi dengan suara angin yang berdesis, sembari memproduksi feedback yang dihasilkan oleh speaker kecil yang menempel di batang mikrofon. Beberapa orang pun kemudian memilih berdiri teratur dengan speaker di tangan berusaha menangkap jalur mikrofon yang berayun bak tali lasso yang menimbulkan bebunyian feed back yang menarik. Garetan pemukul kecil dengan tatak piring bambu, sisi kasar keramik dan material kayu menciptakan bebunyian yang tidak kalah menarik.

Sebagaimana disampaikan komponis muda Patrick Hartono yang hadir malam itu, penampil Louie Devenish, Kaylie Melville, Matthias Schack-Arnott, dan Eugene Ughetti juga mencoba mengembangkan lebih jauh karya Pendulum Music yang digagas oleh Steve Reich yang bertumpu pada beberapa microfon yang berayun di atas speaker yang memproduksi dengung feedback ketika berayun secara alami. Mereka kemudian secara apik menata pengayunan, sehingga menimbulkan variasi bunyi nada dan ilusi permainan ritme yang berbeda-beda. Alhasil teknik tersebut berkembang secara kompositorik. Gemeltuk bola-bola dan koin yang bergetar di atas speaker yang bergetar dahsyat akibat feedback memberikan warna suara yang berbeda yang menambah kekayaan suara yang dieksplorasi. Tidak lupa permainan feedback dua mikrofon kecil yang telah dibubuhi efek dan sedikit distorsi yang menyebabkan suara semakin kaya, juga feedback yang dahsyat namun terukur ketika diarahkan ke speaker yang terletak yang di belakang gong yang menyebabkan gong bergetar dengan nyaring.

transducer4

Yang membuat pertunjukan ini menarik adalah ekplorasi ruang yang terasa tanpa batas dalam permainan semalam yang membuat penonton mampu memidai ruangan dari suara yang dihasilkan. Selain daripada itu kekayaan koreografi yang meskipun sederhana ternyata sungguh melebur dalam tata panggung dan permainan mereka. Setiap gerakan terasa tertata sampai ke detail seperti saat menangkap dan melepas mikrofon guna menciptakan efek berselang yang diinginkan. Lalu lintas panggung pun terasa begitu ciamik dan manis di mata, disertai permainan tata cahaya yang sedap sehingga sesuara ini tidak lagi berdiri sendiri sebagai sebuah ekperimentasi namun sungguh sebagai sebuah karya pertunjukan utuh. Menarik sebenarnya apabila mendapati bahwa eksperimentasi yang terbingkai dalam pengelolaan gerak dan ketepatan saat menjadi kunci peralihan sebuah eksplorasi menjadi sebuah karya yang paripurna.

Mikrofon dan speaker adalah perlengkapan suara yang biasa, namun dengan kejelian dan rekayasa yang ciamik justru dapat diekplorasi sebagai sebuah karya musik baru yang memikat. Mikrofon dan speaker bukan lagi hanya berfungsi sebagai alat bantu, namun sungguh menjadi primadona penciptaan musik. Sebuah emansipasi musikal, dan tentunya sebuah pernyataan bahwa perkusi adalah jantung dalam bermusik dan Speak Percussion sungguh telah berbicara banyak lewat karya ini. Mikrofon adalah sebuah instrumen perkusi? Ya, sangat mungkin.

~Speak Percussion masih akan hadir hari Kamis (20/10 pk.20:00) dengan Fluorophone yang mengeksplorasi kemilau lampu warna-warni dengan kecantikan permainan perkusi

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: