Kabar Terkini

Jakarta Sinfonietta dan Strohmeier: Pencarian Musik Barok


Tidak seberapa sering Jakarta menyaksikan pertunjukan orkestra barok berkualitas. Namun malam ini Balai Resital Kertanegara menjadi saksi keserbabisaan orkestra Jakarta Sinfonietta dalam menggarap musik berkualitas dengan merambah repertoar barok yang jarang dimainkan di ibukota. Concerto Barocco yang menjadi tajuk adalah gambaran sempurna akan konser sajian malam ini.

Hadir di atas panggung, Simone Strohmeier yang mengampu orkestra sebagai pemimpin seluruh ensembel sembari bermain biola, menghidupkan kembali peran seorang concertmaster di abad ke-18 yang memimpin dan juga melatih orkestra. Ya, penampilan Sinfonietta malam ini adalah penampilan seksi gesek orkestra dengan iringan continuo dengan Strohmeier sebagai bintang, solois sekaligus pemimpin orkestra. Sebagai seorang spesialis musik barok, Strohmeier mentransformasi keseluruhan orkestra yang dengan sigap beradaptasi.

Enam karya pun dimainkan: Concerto for Strings in C Major, RV114 karya Vivaldi, Violin Concerto in E Major, D.50 karya Tartini dan Concerto a quattro in F Major, op.11 no.5 karya Bonporti mengisi babak pertama malam ini. Di babak kedua orkestra pun semakin panas. Tiga karya bergantian ditampilkan, karya Albinoni Concerto a cinque in B-flat Major, op.10 no.1, karya Vivaldi Violin Concerto in G Major from ‘La Stravaganza‘, RV298 dan Concerto Grosso in D Major, op.6 no.4 karya Corelli yang bergantian ditampilkan di atas pentas.

Orkestra pun perlahan bertransformasi seakan berkembang sejalan dengan berlangsungnya konser. Gesekan Strohmeier yang rinci, ringan dan cekatan mewarnai permainan orkestra semalam. Musikalitasnya yang matang dan akomodatif pun terasa sungguh ketika memimpin seluruh ensembel untuk mengadopsi warna suara biola barok yang dimainkannya. Orkestra pun beradaptasi. Jujur saja tidak mudah untuk memainkan karya barok dengan instrumen modern dan mengimbangi solois yang memainkan biola barok yang cenderung memiliki volume suara yang lebih kecil.

Kejernihan permainan menjadi salah satu parameter utama kualitas suara di periode musik yang merentang antara 1600-1750 ini dan tentu saja sulit diemulasikan dengan penggesek dan senar modern yang cenderung bersuara tebal dan berat juga terkesan gembul dibandingkan instrumen kuno ini. Seksi register rendah seperti kontrabas, cello dan viola pun sesekali terdengar bergulat mencari celah yang tepat dalam menciptakan bunyi-bunyian yang matang namun memiliki geliat yang hidup.

Kecermatan saat menggesek dan mengetahui kualitas resonansi alat musik menjadi sangat sentral dalam upaya menghasilkan aksentuasi dan panjang nada yang alami namun bersesuaian terlebih dengan decay (kecepatan lenyap) suara berbagai instrumen termasuk harpsichord. Alhasil hampir di sepanjang babak satu, meski pendekatan musikal dan gaya barok sangat ciamik, terjadi pula penyesuaian kembali bunyi yang kemudian baru menjejak stabil di babak kedua. Nampaknya inkompatibilitas instrumen modern dengan instrumen dan gaya musik barok perlahan mampu diatasi oleh para pemain dengan cerdik.

Meski demikian suguhan malam ini terasa begitu istimewa. Setiap musisi terlihat terlibat dalam penyampaian musikal meskipun kesegaran musik masih perlu mendapat perhatian lebih. Kontrol permainan pun hadir dengan luar biasa. Pujian perlu juga dilayangkan untuk Ahmad Ramadhan sebagai pemimpin biola 2, Ade Sinata sebagai pemimpin cello dan Hazim Suhadi di continuo dalam interaksi mereka sebagai solois concerto yang begitu padu bekerja sama dengan Simone Strohmeier dan merespon setiap lemma musik yang diajukan. Konserto Vivaldi di babak kedua seakan menjadi epicentrum dari greget pertunjukan semalam.

Malam kemarin sungguh menjadi catatan tersendiri. Ternyata banyak karya musik barok yang indah selain karya-karya musik J.S. Bach yang kerap dianggap sebagai salah satu komponis terpopuler dari zaman barok. Aksi semalam menjadi bukti manis bahwa sudah saatnya musik barok dan pendekatan pertunjukan historis menjadi semakin relevan di Indonesia. Mungkin sudah saatnya orkes Indonesia memperlengkapi diri dengan perangkat instrumen kuno? Bisa jadi pertunjukan Jakarta Sinfonietta dan kehadiran Simone Strohmeier semalam menjadi katalisnya.

jakarta-sinfonietta-simone-strohmeier2

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: