Kabar Terkini

Yang Muda, Harapan Bangsa


Nasionalisme dan ke-Indonesia-an nampaknya selalu mampu diterjemahkan dalam sebuah konser orkestra. Menyambut peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh tanggal 28 Oktober, di Aula Simfonia Jakarta hadir ‘Konser Simfoni Pemuda’ yang dipersembahkan di hari Minggu 30 Oktober ini oleh Indonesian Youth Concert Orchestra (IYCO) di bawah pimpinan konduktor Addie MS.

Menggali esensi kepemudaan, IYCO malam ini yang beranggotakan 75 anak-anak dan remaja usia 9-22 tahun dari berbagai kota di Jawa didukung musisi senior mempersembahkan sajian musik yang terbilang menarik. Dimotori banyak pemain profesional di area tiup, IYCO pun tampil solid. Menarik bagaimana konsep kolaborasi pemain gesek dari beragam usia dan banyak pemain senior di barisan tiup mengingatkan penulis pada lini musisi orkestra sekolah St. Theresia School Orchestra yang juga digarap oleh sang penyelenggara Dewi Atmodjo beberapa tahun yang lampau di ibukota.

Dibuka dengan alunan lagu kebangsaan Indonesia Raya, pertunjukan dilanjutkan dengan beragam karya musik dari berbagai tradisi musik. Tradisi musik Prancis diwakili oleh karya George Bizet bagian penutup L’Arlesienne Suite no.2 berjudul Farandole. Lagu wajib Bangun Pemudi Pemuda karya Alfred Simandjuntak (arr. Addie MS) yang dinyanyikan oleh barisan paduan suara dari 3 sekolah di Bekasi: Gita Swara Nassa Sekolah Nasional I Bekasi, Cantate Choir SMAK Penabur Harapan Indah, dan Etniez Choir SMAN 2 Bekasi melengkapi sajian Pomp and Circumstances op.39 no.1 karya Elgar dan bagian pertama Piano Concerto No.2 dari Sergei Rachmaninoff.

Sajian kemudian dilanjutkan dengan karya dan aransemen untuk orkestra pemula seperti String Swing (Nunez), Tema dari Symphony No.9 (Beethoven – Manookian), Tiger Prowl, TigerRoar dari Funky Monkey and Friends (Jones) yang menghibur dan The  Toreadors dari opera Carmen (Bizet – Manookian). Menarik bahwa IYCO memiliki setidak dua lapis pemain biola yang terbagi atas orkestra A dan orkestra B berdasarkan jenjang keterampilan permainan. Dari fenomena ini, penulis pun mengambil kesimpulan betapa instrumen biola masih menjadi primadona bagi banyak pelajar di berbagai kota dan sebagaimana didapati dalam konser ini, regenerasi pemain tiup dan gesek register bawah masih menjadi sebuah tantangan tersendiri. Fantasia Tepian Karimata karya Fero Aldiansya juga hadir dalam konser ini sebelum tiga nomor dari musik game dan musik film: One Winged Angel dari game Final Fantasy VII, Liberi Fatali dari Final Fantasy VIII keduanya karya Nobuo Uematsu dan The Imperial March dari Star Wars karya John Williams.

Meskipun beberapa karya yang ditampilkan merupakan beberapa karya andalan Addie MS lewat beberapa konsernya dengan Twilite Orchestra beberapa tahun terakhir, Addie MS mampu mengarahkan IYCO yang tampil dengan penuh gairah muda. Mengejutkan sebenarnya melihat seksi gesek memiliki kematangan yang luar biasa dalam menggarap musik dan mampu mengimbangi barisan tiup yang banyak digawangi pemain senior dan profesional. Tidak heran, banyak dari pemusik yang hadir selain juga berbakat juga tengah menjalani pendidikan musik di sekolah menengah musik maupun sedang berkuliah musik di perguruan tinggi seni. Interpretasi musikpun cukup hidup walaupun di beberapa tempat terkesan sangat berhati-hati. Addie MS sendiri mengatakan bahwa perkembangan musisi muda ini tergolong luar biasa dalam setengah tahun ini sehingga mampu mencapai tingkat permainan mereka sekarang. Addie MS pun juga mengetengahkan anggota-anggota cilik dari orkestra B yang berusia 9-10 tahun, namun memiliki keterampilan permainan yang sangat memadai.

Ketiga paduan suara yang hadir malam ini tampil dengan solid. Pengucapan yang jelas bahkan disertai dengan energi yang terukur mampu menghadirkan nuansa musik yang sedemikian kental. Menarik sebenarnya menyaksikan tiga paduan suara berbeda urun suara dan bernyanyi bersama dan mencapai kematangan seperti penampilan mereka malam ini. Melihat kematangan mereka sebagai paduan suara besar tentunya disangka mereka masih duduk di bangku sekolah menengah.

Tamariska Kristianto, pebiola berusia 15 tahun yang hadir sebagai solois biola untuk karya Fantasia Tepian Karimata, juga tampil mempesona dengan penguasaan penuh pada instrumen dan interpretasi karya. Proyeksinya juga nyata dan musikal di dalam gedung berkapasitas lebih dari 1000 orang ini. Levi Gunardi yang memainkan karya Rachmaninoff tampil dengan karismanya sebagai seorang pianis kawakan yang mampu menjadi fundamen yang kokoh untuk permainan IYCO. Addie MS sendiri memilih untuk tidak banyak bermain di ranah ekspresi yang terlalu pekat, namun lebih berkonsentrasi pada kejernihan dan ketelitian eksekusi. Meskipun mengorbankan keluwesan dalam karya, namun seluruh penampilan semalam terdengar cemerlang dan tetap menggugah.

Meski dalam program malam ini hanya 2 karya musik Indonesia yang ditampilkan dari banyak judul musik malam ini, makna Konser Simfoni Pemuda tidak serta-merta tenggelam dalam keriuhan karya mancanegara dari berbagai zaman. Namun, justru makna konser ini tumbuh dalam tunas harapan akan talenta musisi muda yang tampil pada Minggu sore ini. Melihat betapa kayanya Indonesia, Konser Simfoni Pemuda ini adalah sebuah doa penuh harap akan semakin berkembangnya apresiasi musik dan kualitas musik di tanah air.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: