Kabar Terkini

Walkot Solo Hujat Gamelan Elektronik, Mengapakah?


Membaca artikel di kompas.com, Walikota Surakarta FX Hadi Rudyatmo diberitakan menolak hasil inovasi dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Jawa Tengah yang menciptakan aplikasi gamelan yang dapat dimainkan di atas komputer jinjing. Keren dan dipuja, inovasi dan tanggapan atas inovasi ini juga sangat memprihatinkan. Berikut kutipannya:

“Saya pribadi sepakat dengan kemajuan teknologi yang ada, tetapi kalau itu (e-gamelan) saya rasa sudah kebablasan. Ngajari nggamel kok pakai laptop, enggak pas,” katanya. … “Soal budaya tidak boleh diinovasi, sesepuh kita dulu membuat gamelan itu harus dengan puasa. Lha kok sekarang cuma dibegitukan,” kata Rudy. –kompas.com

Pada 2014, Pemkot menganggarkan lebih dari Rp 1 miliar untuk membeli tiga set gamelan, setahun berikutnya Rp2,69 miliar keluar dari APBD untuk keperluan yang sama. Tahun ini APBD kota Solo juga mengalokasikan Rp374 juta untuk melestarikan kebudayaan Jawa tersebut. –liputan6.com

Tahun ini APBD kota Solo juga mengalokasikan Rp374 juta untuk melestarikan kebudayaan Jawa tersebut. Ia mengatakan, diadakannya gamelan di setiap kelurahan diharapkan dapat dijadikan sebagai motivasi masyarakat untuk berlatih kesenian dan kebudayaan. –metrotvnews.com

Menelisik berita ini, selain hadir dukungan untuk upaya Pemerintah Kota Solo untuk mendukung serta melestarikan gamelan akustik yang hadir secara fisik, juga hadir keprihatinan tersendiri.

Aksi tim E-Gamelanku Udinus kembali mendapat apresiasi dari sejumlah pejabat di Tanah Air. Baru-baru ini, tim E-Gamelanku mendapat kepercayaan dari Kopertis untuk tampil dalam pembukaan acara Rapat Koordinasi Koordinator dan Sekretaris Pelaksana Kopertis Wilayah I-XIV pada 1 September baru lalu. … Elektronik gamelan milik Udinus ini selain bagian dari pendidikan, media pembelajaran, dan dapat pula berkolaborasi dengan gamelan konvensional. –suaramerdeka

Pernyataan FX Hadi Rudyatmo sebenarnya merupakan sebuah reaksi yang patut ditelisik lebih jauh. Dikarenakan apresiasi yang seakan begitu tinggi akan hasil inovasi ini FX Hadi Rudyatmo membuat pernyataan yang agaknya melenceng dalam perspektif budaya dan secara politik menegaskan posisinya dalam pengembangan budaya di Surakarta. Upaya Pemkot Surakarta untuk menggarap ranah budaya, musik gamelan dengan berinvestasi miliaran rupiah selama beberapa tahun terakhir sangat perlu diapresiasi dan merupakan sebuah langkah yang patut dicontoh, tidak banyak kota yang berinvestasi 4 miliar rupiah untuk pelestarian instrumen musik.

Gamelan itu pakai rasa, inovasi untuk kajian penelitian dan dokumentasi boleh tapi yang namanya budaya jangan dibuat e atau elektronik,” ujar Rudy dalam sambutannya. Rudy mengingatkan Trisakti Bung Karno yang pertama berisi berdaulat secara politik, kedua berdikari secara ekonomi, dan ketiga berkepribadian secara sosial budaya. Jika budaya sudah dijadikan elektronik. Dia menilai generasi Indonesia telah kehilangan identitas sebagai Negara Berbudaya. “Saya sebagai Bangsa Indonesia menyatakan lawan elektronik gamelan,” tegasnya. –timlo.net

Pernyataannya bahwa ‘budaya tidak boleh diinovasi’ dan diramu dengan ‘identitas Negara Berbudaya’ menjadi sebuah catatan tersendiri yang sebenarnya agak salah kaprah. Budaya bagaimanapun adalah sebuah hasil interaksi dan inovasi yang terjadi selama berabad-abad. Interaksi ini tidak pernah mampu dibendung dan merupakan produk dari persinggungan manusia dengan berbagai latar belakang dan pada akhirnya terus bergerak karena berinteraksi dengan beragam inovasi yang hidup. Pernyataan FX Hadi Rudyatmo menjadi sebuah keprihatinan tersendiri dikarenakan melihat budaya sebagai sesuatu yang dibekukan dan tidak ada inovasi di dalamnya. Meskipun dalam pernyataannya ia tidak menolak pengembangan teknologi, dalam pernyataan tersebut ia memisahkan budaya dengan pergerakan teknologi yang sebenarnya inheren dalam pergerakan kebudayaan masyarakat.

Ia juga kedapatan mengambil langkah defensif seakan bahwa identitas Bangsa Indonesia berlawanan dengan inovasi di bidang elektronik gamelan. Membawa sikap politis ini dan mengadunya dalam ranah politik identitas kebangsaan justru membuat diskusinya menjadi sangat usang dan tidak berakar. Justru inovasi e-gamelan itu malah hadir lewat karya Bangsa Indonesia pula dan bahkan sebuah institusi pemerintah di level provinsi yang tatarannya secara hierarkis lebih luas dari Pemkot Solo yang ia pimpin. Diskusi identitas kebangsaan yang ia angkat malah menempatkan argumennya dalam posisi yang lebih lemah.

Dalam tataran perbedaan kebijakan ini, Walikota Solo seharusnya mengambil langkah yang lebih arif dalam menempatkan e-gamelan dalam prioritas kebijakannya. FX Hadi Rudyatmo dapat menekankan perbedaan yang ingin ia sampaikan lewat kekuatan bebunyian gamelan akustik, juga secara tidak langsung menekankan aspek kelemahan bebunyian gamelan elektronik. Ia pun juga dapat secara strategis menekankan aspek aksesibilitas dari gamelan elektronik yang lebih memudahkan bagi peserta didik untuk dipelajari namun tetap menekankan pentingnya pelestarian alat musik akustik, kualitas bebunyian (resonansi alami, laras) sekaligus juga nilai budaya dari alat musik yang telah menjadi bagian kental dalam perkembangan musik Jawa dan musik dunia saat ini.

Dalam diskusi ini publik dapat melihat bagaimana lemahnya proses pelestarian budaya nasional kita yang dengan mudahnya gonjang-ganjing karena sebuah inovasi teknologi. Perlunya peran aktif etnomusikolog, fisikawan dan budayawan bahkan wartawan dalam mendokumentasikan dan juga menjabarkan dengan rinci kekayaan dari musik dan bebunyian akustik gamelan perlu terus ditingkatkan. Teknologi jangan dijadikan musuh dan budaya juga jangan serta-merta dibekukan. Keduanya perlu dijadikan kawan dengan kesadaran sepenuhnya akan potensi masing-masing yang berjalan beriringan disertai dengan peran nyata sektor publik untuk terlibat aktif dalam upaya ini.

FX Hadi Rudyatmo sudah melakukan langkah nyata dalam kebijakan budaya dengan mendukung gamelan akustik, bagaimana dengan pemerintah daerah lainnya? Apakah hanya akan latah dan membebek tanpa didasari kesadaran akan budaya?

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Walkot Solo Hujat Gamelan Elektronik, Mengapakah?

  1. Gamelan akustik adalah memang terutama, dan “e gamelan” adalah sekedar pilihan terakhir dari ketiadaan serta kreativitas bermusik yang tiada bisa dibatasi oleh “kemandegan budaya”.

  2. Egamelanku ditujukan untuk memingkatkan sikap affektif anak muda terhadap seni gamelan. Shg harapannya adalah menjadi batu loncatan. Buka web http://www.egamelanku.com mungkin akan lebih membantu maksud Dan tujuan riset tersebut

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: