Kabar Terkini

Rumpi Bermakna 5 Orang: Komunikasi Musik


Obrolan dan rumpian para seniman seringkali bukanlah sebuah rumpian biasa, namun seringkali berujung pada obrolan dengan beragam kekayaan makna dan bahkan bisa beralih berdiskusi cukup serius dan layak diperdengarkan.

Henry Yuda Oktadus pada tanggal 1 November kemarin, memilih untuk menuliskan diskusi para pemusik: penyaji, pengkaji dan pencipta yang duduk bersama mengobrol ngalor-ngidul. Ia bersama Andi Ferdiansyah Anwar, Aldy Maulana, Eddo Diaz, dan Asep Hidayat duduk bersama untuk mengobrol santai Namun justru menarik, obrolan yang dimulai dengan berbagi pengalaman berkompetisi akhirnya merambah ke dunia komunikasi musik, penyajiannya dalam ranah subyektif dan obyektifnya musik dan kemanusiaan yang mengelilingnya. Berikut potongan tulisan yang tercantum di blog Abstraksi Musik:

Dalam psikoanalisa menurut sepengetahuan (Didi), bagaimana penyaji musik menyajikan repertoar itu dikondisikan oleh penonton. “Penyaji atau player dari perspektif psikoanalisa tidak lebih hanya sebagai bentukan hasrat penonton”, tambahnya. Tetapi menurut yang ia amati dan didukung cerita teman-teman penyaji musik, justru dalam perspektif penyaji musik, mereka juga berupaya mengidentifikasi hasrat penonton dalam komunikasi musikal. Kemudian dari titik itu baru para penyaji menyampaikan hasrat kenikmatannya kepada penonton. Dengan ini berarti masing-masing pihak—yaitu penyaji dan audiens—tidak serta-merta saling mementingkan hasrat kenikmatan masing-masing. Yang terjadi, mereka para penyaji berupaya mengidentifikasikan hasrat audiens untuk dapat mencapai sinergi antara hasrat penyaji dan penonton dalam pertunjukan musikal. …

Dalam aktivitas apa yang biasa para penyaji musik sebut sebagai interpretasi score menjadi bunyi musikal, Didi melihat mereka sebenarnya sedang menafsirkan realitas yang kosong makna. Bunyi-bunyi hanya sekedar bentuk. Penyaji musiklah yang memaknai dan memberi isi pada bentuk itu. …

Di luar kenikmatan psikologis, di satu sisi musik dapat membawa semangat tertentu. Ia menerangkan, asumsi ini sejalan dengan konsep Roland Barthes, “Matinya si Pengarang”. Menarik sekali bagi saya dan terlintas pertanyaan atau pernyataan yang masih common sense: berarti dapat(kah) dikatakan karya komponis dalam bentuk score adalah kematian komponis bagi si penyaji, dan bunyi-bunyian yang dimainkan penyaji adalah titik kematian si penyaji bagi audiens (?). Meski kata Didi tidak sepenuhnya peran komponis (saya mengartikannya lebih luas: peran kreator entah komponis maupun penyaji) itu mati.

Seru ya apabila diskusi antar pemusik bisa merambah seperti ini.

Lengkapnya lihat di sini.

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: