Kabar Terkini

Ambon Kota Musik: Pencanangan Berantakan, Siapkah?


Ambon kini telah ditargetkan oleh Badan Ekonomi Kreatif menjadi Kota Musik Dunia dengan anugerah dari UNESCO. Namun acara pencanangannya yang diadakan tanggal 29 Oktober dikabarkan gagal dan berantakan. Calon Kota Musik Dunia yang terletak di timur Indonesia ini tampak belum siap untuk mengemban sebuah predikat dunia. Namun, sebenarnya sudah siapkah?

Pengembangan ide kota Ambon sebagai Kota Musik Dunia diinisiasi oleh Pemerintah Kota Ambon dengan menyusun beberapa regulasi dan kebijakan untuk mengarahkan Ambon sebagai Kota Musik Dunia sejak tahun 2011. Sejak saat itu, Pemerintah Kota Ambon berhasil menggaet Pemerintah Provinsi Maluku bersama dengan pemerintah pusat melalui Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang tentunya menerima dengan sukacita inisiatif dari kota Ambon ini. Pencanangannya sendiri akhirnya baru saja digulirkan secara resmi per tanggal 29 Oktober ini lewat deklarasi resmi yang diselenggarakan secara meriah.

Menurut kabar yang dilansir MusicalProm, peristiwa deklarasi dan pencanangan Ambon Kota Musik dunia tidak berjalan dengan baik. Menurut kabar, ketidaksiapan infrastruktur dan ketidaksiapan sumber daya manusia menjadi momok utama rendahnya mutu acara kick-off inisiatif ini. Penyelenggaraan acara sempat terhenti akibat matinya listrik di tengah pertunjukan juga ketiadaan infrastruktur pendukung lain, tanpa ada kesiapan dari pihak panitia untuk menangani permasalahan ini dengan sigap. Padahal biaya yang dikeluarkan juga cukup besar, 800 juta rupiah untuk acara ini. Salah satu pendukung acara yang juga adalah tokoh musik di Ambon bahkan mengeluhkan bahwa mereka harus meminta waktu uji coba panggung ke pihak manajemen yang bahkan tidak menyadari pentingnya uji coba panggung dan kesiapan teknis. Soundcheck yang sedianya dilakukan sore hari, hingga pukul 16:00 sore panggung dan tata suara belum sepenuhnya terpasang dan terkoordinir.

Kerja sama antar kelembagaan juga perlu dikaji secara lebih mendalam. Bekraf sebagai salah satu pendukung utama acara deklarasi ini menunjuk satu event organiser dari pusat untuk menangani acara ini. Namun pada prakteknya tidak ada komunikasi yang jelas antara kelembagaan dari pusat dan pemerintah kota sehingga penyelenggaraan acara yang seharusnya menatap ke level dunia dan dicanangkan untuk menarik perhatian UNESCO malah terkesan dikelola dengan sporadis. Sudah menjadi catatan dalam beberapa waktu terakhir bahwa Bekraf hingga saat ini masih menyusun kompetensi di dalam organisasi. Keterbatasan Bekraf sebagai struktur di pusat yang masih mencari bentuk serta jangkauan dan juga didukung oleh ketidaksiapan pemerintah kota Ambon akhirnya justru berisiko menurunkan pamor kota Ambon itu sendiri dalam kancah perebutan titel ini.

Kondisi ini menjadi cermin atas kesiapan kota Ambon dan juga kebijakan pendukung dalam mengejar status Kota Musik Dunia. Berbeda dengan kota Bandung dan Pekalongan yang masing-masing telah mengantongi status Kota Desain dan Kota Kerajinan Tangan (craft), Ambon meskipun merupakan gudang talenta pemusik, belum serta-merta diikuti dengan kesiapan infrastruktur dan SDM di sisi kebijakan seni dan budaya serta manajemen seni pertunjukan. Dapat dikatakan, Ambon harus membangun seluruh kesiapan tersebut dari nol termasuk menyiapkan infrastruktur, salah satunya dengan membuka program musik di tataran pendidikan tinggi di Ambon dan industri yang belum terbentuk. Ambon tidak bisa meniru kisah Bandung yang cukup mudah mendapatkan gelar UNESCO misalnya karena telah diperlengkapi dengan komunitas dan pendidikan desain yang memadai.

Carut-marutnya birokrasi di tanah air menambah runyamnya persoalan ini. Bekraf yang tidak memiliki jangkauan hingga ke daerah-daerah akan terbentur dengan pengenalan kondisi lapangan yang nyata. Walaupun Bekraf kini telah mencoba memulai dialog membentuk infrastruktur yang ada, belum tentu gerakan tersebut dapat tersinkronisasi dengan kebijakan di tingkat lokal. Inisiatif Kota Musik adalah inisiatif yang besar yang juga melibatkan banyak kepentingan di dalam sektor yang luas. Ekonomi, budaya, pendidikan, politik, perhubungan, tata kota dan banyak bidang tata kelola lain akan saling urun rembuk. Tidak mustahil, juga terjadi tarik-menarik kepentingan di dalamnya, terlebih anggaran kota musik ini yang pastinya tidak kecil yang harusnya perlahan terkonsolidasi untuk mencapai tujuan yang sama.

Di pihak lain, pengenalan akan lapangan pun menjadi hal yang sangat krusial. Peran pemerintah kota adalah sebagai aktor utama yang mengenali dan menjadi eksekutor lapangan. Tanpa peran aktif pemerintah kota dalam mengenali potensi di lokasi, inisiatif hanya akan jadi insiatif kosong belaka. Dalam kapasitas ini, Pemerintah Kota Ambon harus mengambil langkah nyata dalam menyelamatkan inisiatif yang sudah dicanangkan sejak 5 tahun lalu ini. Regulasi menjadi sentral dalam pengembangan ini. Kabar terakhir, Ambon lewat konsultan Bekraf, Robin Malau telah menyusun 25 action plan menuju Ambon Kota Musik Dunia.

Gonjang-ganjingnya kegiatan ini disertai dengan kendala teknis menyiratkan terjalnya perjalanan ibukota Maluku ini. Ketidaksiapan dan persoalan tata kelola pun masih menyelimuti kinerja keseluruhan perangkat ini, belum lagi kita mempertimbangkan rumitnya kolaborasi dengan sektor swasta. Walaupun peristiwa ini dapat didakwa menjadi cermin akan kemungkinan gagalnya inisiatif ini, persoalan kemarin juga dapat menjadi pemicu titik balik sektor musik di Ambon dan sekaligus menjadi pembelajaran bagi pemangku kepentingan yang terlibat di dalamnya. Target pendaftaran di tahun 2019 ke UNESCO bukan waktu yang panjang, gerak cepat tidak dapat lagi dihindarkan.

Semangat!

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Comment on Ambon Kota Musik: Pencanangan Berantakan, Siapkah?

  1. Halo Michael,

    Ini adalah acara kick-off yang tujuannya (1) untuk memberi tahu kepada khalayak umum bahwa Ambon, lewat serangkaian strategi dan upaya selama minimal 3 tahun, akan nge-bid ke Unesco Creative City Network (UCCN), dan (2) mengajak masyarakat untuk ikut serta. Jadi bukan untuk menunjukkan pada dunia bahwa Ambon sudah menjadi kota musik dunia hehehe. Rasanya, kedua tujuan tersebut tercapai.

    Catatan untuk waktu pendaftaran; mudah-mudahan bisa di tahun 2019, karena ada faktor-faktor di luar kontrol Ambon dan Bekraf. Misalnya, kalau tahun 2019 Unesco gak buka aplikasi berarti kan harus mundur.

    Tapi sudah jelas ada 25 action plan 2017 untuk tahap pertama, yaitu tahap “Identifikasi dan Optimalisasi” untuk membawa Ambon “menuju” kota musik kelas dunia. Lihat deh apa saja isi rencana aksinya. Ini evidence bahwa BANYAK sekali keadaan di Ambon yang memang harus disesuaikan untuk mencapai standar tersebut.

    Kalau acara kick-off berantakan, ya itu juga evidence bahwa Pemkot Ambon memang masih harus dibantu pihak lain. Beliau2 di Pemkot kan sudah menyadari hal tersebut, makanya senang sekali ketika Bekraf turun tangan. Dan Bekraf, yang memiliki kapasitas untuk membantu, membantunya dengan serius. Sangat serius.

    Tapi yang jelas, Ambon sudah punya bakat dan modal. Saat ini, hanya itu yang bisa dinilai. Karena memang hitungannya belum melakukan apa-apa.

    Tapi semua sadar kok, perjalanan masih panjang. Makanya bikin event kick-off ini juga…

1 Trackback / Pingback

  1. Jawaban Robin Malau atas Kabar Perancangan Ambon – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: