Kabar Terkini

Jawaban Robin Malau atas Kabar Perancangan Ambon

Ambon waktu malam

MusicalProm lewat redaktur Michael mendapat informasi berikut sebagai jawaban tulisan MusicalProm akan acara pencanangan Ambon Kota Musik Dunia yang dirasa beberapa pihak tidak memenuhi ekspektasi. Tulisan ini adalah jawaban Robin Malau yang juga adalah konsultan Badan Ekonomi Kreatif yang menyusun strategi dan action plan untuk inisiatif kota Ambon ini yang penulis rasakan cukup baik untuk kembali dibagikan sebagai jawaban atas liputan sebelumnya:

Halo Michael,

Ini adalah acara kick-off yang tujuannya (1) untuk memberi tahu kepada khalayak umum bahwa Ambon, lewat serangkaian strategi dan upaya selama minimal 3 tahun, akan nge-bid ke UNESCO Creative City Network (UCCN), dan (2) mengajak masyarakat untuk ikut serta. Jadi bukan untuk menunjukkan pada dunia bahwa Ambon sudah menjadi kota musik dunia. Rasanya, kedua tujuan tersebut tercapai.

Catatan untuk waktu pendaftaran; mudah-mudahan bisa di tahun 2019, karena ada faktor-faktor di luar kontrol Ambon dan Bekraf. Misalnya, kalau tahun 2019 UNESCO gak buka aplikasi berarti kan harus mundur.

Tapi sudah jelas ada 25 action plan 2017 untuk tahap pertama, yaitu tahap “Identifikasi dan Optimalisasi” untuk membawa Ambon “menuju” kota musik kelas dunia. Lihat deh apa saja isi rencana aksinya. Ini evidence bahwa BANYAK sekali keadaan di Ambon yang memang harus disesuaikan untuk mencapai standar tersebut.

Kalau acara kick-off berantakan, ya itu juga evidence bahwa Pemkot Ambon memang masih harus dibantu pihak lain. Beliau-beliau di Pemkot sudah menyadari hal tersebut, makanya senang sekali ketika Bekraf turun tangan. Dan Bekraf, yang memiliki kapasitas untuk membantu, membantunya dengan serius. Sangat serius.

Tapi yang jelas, Ambon sudah punya bakat dan modal. Saat ini, hanya itu yang bisa dinilai. Karena memang hitungannya belum melakukan apa-apa.

Tapi semua sadar kok, perjalanan masih panjang. Makanya bikin event kick-off ini juga…

~Robin Malau dalam kolom komentar

 

 

 

 

Yang perlu diingat adalah Creative Cities Network dari UNESCO adalah sebuah titel yang didapat lewat proses penilaian akan beberapa standar kunci yang ditetapkan oleh UNESCO, meski demikian ia bukan lah sebuah hasil akhir ataupun tujuan. Ia hanyalah menjadi instrumen untuk membentuk sekaligus mengarahkan pengembangan seni dan ekonomi kreatif di suatu kota.

Yang lain adalah Creative Cities dari UNESCO telah menjadi sebuah brand yang kini diperebutkan oleh banyak kota di dunia, terutama di negara-negara berkembang. Bagi banyak kota di dunia, predikat Creative City adalah sebuah pemanis akan usaha mereka mengembangkan industri kreatif kota tersebut. Bahkan beberapa kota yang terkenal sebagai polar seperti Berlin, New York, Milan, dan London tidak lagi membutuhkan predikat tersebut dan efeknya masih harus diuji keberhasilan dan keberlanjutannya.

Meski demikian, argumen ini tidak menafikkan predikat dan mekanisme Creative City yang dapat digunakan sebagai cetak biru pengembangan industri kreatif ke depan. Pemerintah Kota Ambon dan Pemerintah Indonesia juga pelaku di bidang seni musik harus mengambil kesempatan pencanangan Kota Musik sebagai katalis percepatan pembangunan infrastruktur seni dan kreativitas. Selamat bekerja!

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: