Kabar Terkini

Istimewanya Simbolisme National Ballet of China


Di tangan kekuasaan, cinta pun tiada berkutik. Perkawinan dipaksakan dan cinta pun hanya sebuah angan yang tiada nyata. Disadur dari novel “Wives and Concubines” karya Su Tong, malam ini di Ciputra Artpreneur ditampilkan pertunjukan balet ‘Raise the Red Lantern’ yang dibawakan oleh  The National Ballet of China yang sedang melakukan tur di Asia Tenggara dan menjadi bagian dari kerjasama budaya Indonesia-Tiongkok.

Seorang gadis muda dipaksa menikah dengan seorang tuan besar, menjadikan baginya istri ketiganya. Meski demikian cinta sang gadis hanyalah berlabuh pada seorang lelaki muda, seorang aktor opera Peking. Ia pun memilih berselingkuh dengan kekasihnya tersebut di belakang sang tuan besar. Namun apa dinyana, istri kedua tuang besar mendapati kedua kekasih ini asyik masyuk dan melaporkannya kepada tuan besar. Murka tuan besar pun pecah dan mengirim pengikutnya untuk menangkap dan menghukum dua kekasih ini.

Digarap oleh sutradara ternama Tiongkok yang juga menggarap versi film dari kisah ini, Zhang Yi-mou, di mana-mana dalam garapan karya balet ini pekat dengan karakter seorang Zhang Yi-mou yang juga menggarap skenario, tata artistik dan juga tata pencahayaan. Kerap dijuluki Akira Kurosawanya China, Zhang seperti dalam karya-karya filmnya pekat dengan simbolisme yang tergambar lewat permainan warna dan cahaya. Simbolisme yang terintegrasi dalam dramaturgi menjadikan karya balet yang dikoreografi oleh Wang Xinpeng dan Wang Yuanyuan ini membekas dengan pesan istimewa yang merasuk mendalam.

Dibuka dengan halus dan seakan tanpa energi yang kuat, karya ini semakin kaya dengan pesan yang tersirat maupun tersurat di atas panggung sejalan dengan terpaparnya kisah ini. Penataan panggung yang cerdik semalam menunjukkan kematangan mereka sebagai kelompok yang aktif bepergian dan terus berinovasi dengan tata panggung dan artistik untuk memastikan kualitas cerita dan tari tidak terkompromi meski berpindah-pindah gedung.

National Ballet of China sendiri beranggoatakan talenta-talenta balet terbaik di China. Dengan kecakapan teknik dan juga disiplin baik, terlihat dengan baik bagaimana aksi Liu Qi dan Sheng Shi-dong sebagai prinsipal menggarap setiap gerakan dengan indah dan juga kerja sama yang baik. Barisan pebalet pun juga terlihat sigap dalam membawakan kepaduan gerak balet Eropa dengan gerak tari tradisi Tiongkok yang mewarnai pertunjukan semalam. Kepaduan mereka sungguh menggambarkan bagaimana disiplin menjadi bagian dari kelompok yang didanai langsung oleh pemerintah pusat Tiongkok ini. Belum lagi dengan kisah yang orisinal dan menggugah, seluruh sajian jadi begitu indah dan hidup meski di beberapa tempat penulis merasakan kurangnya karakter yang terpancar dari para penari meski energi ada.

Musik garapan komponis Chen Qi-gang sendiri cukup menarik. Meski ditampilkan dengan playback, kekayaan nuansa orkestra tergambar dengan jelas dan berpadu dengan denting orkestra Tiongkok dengan erhu dan juga simbal menghiasi adegan-adegan. Chen pun tidak serta merta menggarap musik tonal dan pentatonis yang sederhana namun juga menghantamnya dengan politonalitas dan bebunyian disonan dan laras kromatis yang menciptakan drama yang menggulung di tarian 4 babak ini. Meski demikian tidak terbayang sesungguhnya apabila musiknya ditampilkan secara live, dikarenakan tidak mudah untuk mendapatkan sebuh gedung pertunjukan yang mampu menampung orkestra barat dan tionghoa dalam satu ruang. Meski demikian efek musik yang dihasilkan memang magis dan mendukung keseluruhan karya tragis ini.

Meski demikian, sayangnya akses untuk acara ini sangat sulit untuk didapatkan. Dengan undangan yang banyak dibagikan di komunitas Tionghoa Indonesia, di beberapa komunitas balet dan korps diplomatik dan elit kesenian, pertunjukan yang diadakan dua kali di hari Rabu dan Kamis nampaknya tidak banyak diketahui orang lain. Inilah yang kemudian menjadi tanda tanya. Meskipun pertunjukan dipadati penonton, adalah sangat disayangkan bahwa upaya diplomasi budaya yang sayang untuk dilewatkan ini hanya beredar di komunitas terbatas, padahal tiket dibagikan dengan cuma-cuma.

Lagi-lagi adalah sebuah tanya bagaimana kisah ini menggambarkan bagaimana relasi kekuasaan di negeri Tiongkok. Di sisi lain produksi kelananya di Indonesia yang sedemikian matang namun hanya beredar di kalangan terbatas ini menggambarkan relasi dan upaya diplomasi budaya Tiongkok di Indonesia. Jujur saja, acara dengan kualitas tinggi seperti ini sangat sayang untuk dilewatkan, terlebih oleh banyak pelaku tari yang kini sedang berupaya mencari titik temu kekayaan budaya Indonesia dengan tradisi tari balet.

~Terimakasih kepada Jenny Intan atas tiket pertunjukan malam ini

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: