Kabar Terkini

Jakarta Berulah, Apa Jawab Musik Kita?


Aksi damai Jakarta memang berakhir sore itu, namun ditutup dengan amarah masa yang membuat keonaran di Ibukota. Tanya yang perlu kita ajukan adalah sudahkah musik yang Anda dan saya kumandangkan menjawab pertanyaan besar kebangsaan kita saat ini yang masih carut-marut akan vandalisme dan isu rasisme yang kuat?

Bisa jadi keonaran tidak berhubungan langsung dan berada di luar komando FPI, namun keonaran itu dimungkinkan karena partisipasi massa yang memanas sedari Kamis sore dan berujung pada tercorengnya aksi damai yang telah dibina dari pagi kemarin dan ditutup dengan penjarahan, kekerasan, sweeping Tionghoa dan perusakan di Penjaringan.

Musik Anda dan saya yang kita persembahkan di depan publik belum menjawab persoalan yang masih mengakar dalam masyarakat kita. Belum dua minggu kita dibasuh dengan makna Sumpah Pemuda dengan konser orkestra dan paduan suara di mana-mana yang mengangkat tema nasionalisme dan persatuan bangsa Indonesia yang kita banggakan. Dengung lagu yang luar biasa indah dibawakan dengan penuh penghayatan dalam lingkup kelompok yang menyatukan semua masih terngiang di telinga. Kabar kemenangan kompetisi pun sudah mengangkat kebanggaan sebagai warga negara lewat kelompok yang juga majemuk.

Tapi nyatanya di jalan-jalan masih kencang pekik-pekik kebencian. Sudah berbuat apakah musik kita? Jangan-jangan konser-konser yang kita bangun, kemenangan gemilang yang kita raih, dan keindahan yang sudah kita rajut hanya mendengungkan pesan persaudaraan, keadilan dan kebangsaan di lingkar elit semata dan tidak menjangkau turun ke bawah. Jangan-jangan musik kita hanya kuat berpengaruh pada diri dan seakan membawa pelaku dan bahkan penikmat masuk ke dalam tempurung, enggan untuk melihat keluar. Musik yang kita sampaikan hanya sekedar tontonan yang memikat mata dan telinga namun bisu ketika dihadapkan pada persoalan yang akut seperti saat ini.

Musik bukanlah panacea yang mampu menjawab pertikaian bangsa maupun dalam lingkup yang lebih sempit persoalan Jakarta kemarin. Saat seperti ini adalah saat yang tepat untuk melihat ke dalam dan bukan sibuk mengacungkan jari ke luar. Tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan upaya yang luar biasa dari para musisi Indonesia dalam menghidupkan musik seni, namun hanya sebagai refleksi sejauh apa kita telah berkarya dan betapa kekaryaan kita masing-masing yang kita yakini masih memiliki jalan yang begitu panjang untuk menggapai dan menyentuh bangsa ini secara mendalam.

~ Kita musisi, kita Indonesia

About mikebm (1165 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: