Kabar Terkini

Ketika Sastra Bertemu Nada


~ oleh Vincent Wiguna

Jumat malam PSM UI Paragita telah membuat para pendengar lupa akan realita di luar Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail. Kasih dan perenungan menjadikan dunia serasa diempunyai sang cinta, antara subyek dan obyek. Hasrat. Pertemuan antara ekspresi imajinasi lewat kata dan lagu, ya, mungkin inilah yang lebih dapat menjawab kegusaran warga Jakarta malam itu.

Sebuah persembahan konser tahunan yang dipimpin oleh Adji Kasyono dan Aning Katamsi menghidangkan cicipan yang berkarakter walaupun tidak mudah untuk dinikmati orang awam. Mengangkat tema A Poetic Rhapsody, Paragita mambawakan karya-karya yang diinspirasikan oleh puisi-puisi pujangga kenamaan berkebangsaan Inggris dan Perancis. Untaian kalimat dari Shakespeare sampai Claudel dinyanyikan lewat nada-nada komposer impresionis sampai modern. Malam itu dimulai dengan Lay a Garland karya Robert Lucas Pearsall yang menceritakan rasa kepedihan akan kehilangan yang dialami wanita ketika tunangannya dinikahkan dengan seorang bangsawan. Dilanjutkan dengan dua bagian dari Six Songs of Farewell karya Charles HH Parry dan Three Shakespeare Songs karya Vaughan Williams yang masih diaba oleh Adji. Disonan dan progresi harmoni yang tidak tertebak mewarnai sebagian karya. Intonasi dan contrapunct sempat terdengar kurang stabil, namun tidak memerlukan usaha yang berat untuk mengembalikan kalimat-kalimat musik dan menyelesaikannya secara utuh dan alamiah.

Program dilanjutkan dengan Trois Chansons de Charles D’Orleans karya Debussy yang dipimpin oleh Aning. Ratna Katamsi ikut bergabung dengan tabuhan pianonya mengiringi Les Nymphes des Bois karya Delibes dan dua bagian dari Le Poeme des Fleurs karya Massenet yang hanya dinyanyikan oleh suara Sopran dan Alto. Di tangan Aning, paduan suara seakan diberikan kebebasan lebih. Ekspresi yang lebih berani terdengar mengalun dibantu dengan pelafalan yang jelas dan rapi. Permainan piano juga membantu memberikan arahan dan tuntunan yang lebih jelas kepada penyanyi, sehingga terciptalah kolaborasi yang apik dari kedua adik-kakak musisi ternama Indonesia ini.

Layaknya sebuah sastra populer, luapan cinta yang eksotis maupun kegalauan dan kesedihan yang tragis diungkapkan dengan nada – nada sendu dan menuntut emosi. Sulitnya memahami bahasa dan penggunaan diksi yang tidak umum membuat karya-karya seperti ini memiliki tuntutan yang tinggi apabila makna dari lagu tersebut ingin tersampaikan dengan jelas. Tampak usaha dari para anggota Paragita untuk melakukan itu sambil menikmatinya. Sebuah pencapaian dan inspirasi bagi PSM-PSM lain untuk boleh tidak selalu memanjakan telinga dan mata penonton dengan musik dan koreografer yang digemari, melainkan turut menjalankan peran edukasinya.

Setelah istirahat konser pun dilanjutkan dengan enam buah lagu karya Elgar, Parry, Milhaud, Faure, dan ditutup oleh Stars karya Eriks Esenvalds. Walaupun di  nada-nada menengah tinggi suara Sopran terdengar agak kelelahan, tetapi kedua pengaba tetap memberikan musik yang penuh makna lewat keseimbangan suara dan warna yang dijaga anggota paduan suara. Stars menjadi penutup yang memuncak dan melegakan, mendeskripsikan akan keindahan alam dan bintang-bintang, di sepanjang lagu ini efek suara gelas kristal memberikan atmosfer yang membawa penonton serasa di antariksa. Satu-satunya lagu yang dinyanyikan dari memori ini juga menjadi kekuatan dan kenikmatan yang mengajak pendengar berimajinasi.

Malam itu boleh terjadi hal apa pun di luar sana, namun dengan musik dan sastra Paragita mampu membawakan keindahan yang membuat sejenak penonton semua hilang khawatir dan diperhadapkan kepada perwujudan cinta.

~Vincent Wiguna adalah pengajar piano dan teori musik di Yayasan Musicorum dan aktif sebagai pianis kolaboratif dan chorusmaster di Jakarta.

paragita-ui-1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: