Kabar Terkini

Trump, Brexit, 4/11: Bangkitnya Budaya Rural Termarjinal


Kemenangan Donald Trump, keputusan Brexit dan juga peristiwa 4 November di Jakarta sebagai pergerakan politik mencerminkan keprihatinan yang serupa di mana suara mayoritas yang termarjinalkan berusaha memukul keras establishment. Gejala yang di satu sisi mengherankan namun terjadi dengan gamblang sebagai sebuah bukti perlawanan. Dan yang melawan adalah kaum rural, masyarakat pedesaan yang perlahan terlupakan, yang budaya dan kehidupannya serasa semakin terpinggirkan.

Kemenangan Donald Trump sebagai presiden AS dan juga keputusan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa banyak dimotori oleh banyaknya pemilih dari kaum rural yang berdasarkan data berbagai sumber memiliki tingkat edukasi yang relatif rendah menurut ukuran bangsa tersebut, yakni tidak mencecap pendidikan di perguruan tinggi (di sini, di sini, di sini). ‘Nasionalisme’, ‘proteksionis’ dan ‘melihat ke dalam’ menjadi beberapa perspektif utama yang melandasi keprihatinan warga pedesaan atas pergerakan bangsa Amerika dan Inggris.

Jujur saja untuk negara-negara seperti AS dan Inggris, mereka sudah menyaksikan urbanisasi dan urbanisme kehidupan yang dirasa menggerus nilai-nilai kehidupan rural selama 200 tahun saat revolusi industri menerjang, di mana kehidupan maju dan kekuasaan perlahan diidentikkan dengan kisah kaum elit yang tinggal di perkotaan. Kota pun dianggap sebagai pusat budaya dan kegairahan dan desa pun semakin terpinggirkan. ‘Kampung’ atau ‘desa’ sebagaimana yang kita alami di Indonesia menjadi identik dengan ‘ketertinggalan’ dan ‘kampungan’ menjadi sindiran yang seakan jauh dari ‘kemajuan’ yang semakin menjadi monopoli elit perkotaan. Dalam prinsip demokrasi yang berpegang pada mekanisme suara terbanyak, kemenangan Donald Trump dan Brexit yang mengangkat perspektif hidup rural telah berjaya.

Hal yang serupa juga terjadi di Indonesia, dalam aksi damai 4 November di Jakarta, kita menyaksikan kaum rural angkat suara. Mereka pun lewat megafon dan mengendarai kendaraan umum datang ke ibukota untuk menyuarakan aspirasi mereka akan hal yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia yakni kehormatan agama yang masih menjadi aspek penting dalam kehidupan banyak orang di Indonesia, terlebih di pedesaan sehingga mereka rela berbondong-bondong ke Jakarta untuk menyuarakan aspirasi. ‘Nasionalisme’, ‘melihat ke dalam’, ‘proteksionis’ dalam tema suku, agama dan ras menjadi pendorong diskusi yang terus berdengung dan menjadi kekhawatiran banyak kaum rural di Indonesia.

Divisi kota dan desa ini sebenarnya cukup terlihat termasuk di media sosial. Tidak sedikit anggapan dari elit perkotaan bahwa mereka yang turun aksi adalah ‘orang kampung yang mau dibayar dan tidak punya kerjaan’ sehingga mereka rela berpanas-panas turun ke jalan. Tanpa hendak menelisik apakah benar ada uang yang beredar di kalangan pengunjuk rasa, sebenarnya terlihat pula bagaimana kalangan perkotaan tampak menyepelekan persoalan dan permasalahan warga kampung yang berdemonstrasi. Persoalan kalangan pedesaan sebenarnya sudah sangat jelas bahwa aspirasi politik mereka tidak terdengar sehingga perlu turun ke jalan ataupun justru hadirnya ketidakadilan berbudaya juga pembangunan yang meyebabkan mereka perlu turun ke jalan untuk sekedar memastikan perut kenyang dan dapur mengepul. Namun, sedemikian mudahnya elit perkotaan menafikkan suara mereka dan mendelegitimasi suara mereka. Turunnya mereka ke jalan pun membuktikan bahwa kaum yang terpinggir ini ternyata memiliki pengikut yang banyak dan memiliki potensi pengaruh yang luar biasa.

Dalam pergerakan budaya pun sebenarnya tidak jauh berbeda. Kaum elit perkotaan tampak mendominasi perbincangan budaya, entah dengan wacana budaya global yang semakin menyeruak ataupun diskusi budaya adiluhung tradisi yang juga berpusat di kota-kota. Budaya di pedesaan yang hadir sebagai budaya populer kerap kali dikesampingkan sebagai budaya kelas bawah yang tidak bermuatan ‘budaya tinggi’. Dangdut koplo, musik pop melayu dipandang sebelah mata dan tidak seberharga musik kontemporer ataupun dengung gamelan degung yang berkumandang di tempat-tempat yang lebih terhormat. Lagi-lagi hadir dikotomi budaya antara rural dan urban dalam diskursus yang dimonopoli oleh orang-orang perkotaan.

Pertanyaan yang kini harus dijawab adalah seberapa jauh sebenarnya skisma dalam budaya perkotaan dan pedesaan di Indonesia? Apakah skisma budaya ini sebenarnya telah terjadi dan justru menjadi pertanda pergerakan Indonesia? Bagi banyak budayawan juga seniman sudah saatnya pula untuk semakin menyadari terjadinya jurang antara kehidupan perkotaan dan pedesaan ini. Belum lagi dalam dimensinya di Indonesia, isu yang sering dianggap kaum elit perkotaan sebagai isu primordial justru sebenarnya menjadi perhatian banyak orang. Indonesia nyatanya sejauh ini sebagaimana banyak diskusi lain di dunia, belum bisa terlepas dari persoalan ras, suku dan juga agama.

Universalisme nampaknya masih menjadi angan-angan utopis bagi banyak kalangan elit perkotaan. Sedangkan bagi banyak kalangan pedesaan, universalisme hanyalah mimpi yang tidak relevan terlebih dengan berbagai persoalan dan himpitan budaya yang telah dialami.

Pertanyaan berikut yang mungkin akan muncul, “Akankah suara mereka akan terdengar lewat mekanisme demokrasi yang telah ada, sebagaimana fenomena aksi 4 November, Brexit atau Trump ataukah justru akan meletus akibat tidak tersalurkan dengan layak?”

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: