Kabar Terkini

Cemerlang Bintang Sam Haywood dan Cita Rasa Raksasa Wina


Bintang akan tetap bersinar dimanapun ia berada. Pun dalam kemilaunya, ia pun memberi secercah harapan dan makna untuk sekitarnya. Malam ini bintang solois piano Sam Haywood yang asal Inggris bersinar terang di hadapan audiens di Aula Simfonia Jakarta ini. Bersama dengan Jakarta Simfonia Orchestra, pianis yang adalah pianis musik kamar kawakan kelas dunia ini memberikan sentuhan istimewa pada dua konserto piano yang ia persembahkan di hari Sabtu sore ini.

Memainkan karya Mozart Piano Concerto no.12 in A major, K. 414, Sam Haywood memutuskan untuk duduk menghadap orkestra dan memimpin barisan orkestra gesek, dan tiup oboe dan french horn sembari memainkan bagian solo piano yang menjadi tanggung jawabnya sebagai solois. Menurut direktur musik Stephen Tong, ini adalah kali pertama di Aula Simfonia Jakarta seorang pianis juga bertugas sebagai pengaba dan memimpin sebuah konserto langsung dari hadapan papan nada. Sesekali kaki Haywood menggapai pedal membalik halaman partitur orkestra digital yang terpampang di atas iPad Pro berlayar lebar yang tersandar di piano. Mungkin ini juga kali perdana di ASJ, seorang konduktor sekaligus solois mengaba dan bermain dengan membaca iPad.

Namun yang justru lebih menarik, begitu not pertama dibunyikan oleh Jakarta Simfonia Orchestra seketika itu juga seluruh permainan orkestra dengan ajaib berubah. Denting pianonya yang teliti, manis sekaligus elegan berbaur dengan musik dari seluruh orkestra yang penuh warna dan hidup dengan corak permainan ala Vienna yang terjalin indah. Kerja sama yang terbina pun demikian cantik dan luwes, musik pun terasa sungguh tergarap dengan cermat dan mengena lengkap dengan nafas dan pengkalimatan yang sedemikian alami dan lugas. Sungguh sebuah persembahan yang berkelas dengan penggarapan yang padu.

Usai Mozart, Beethoven yang hadir lewat karyanya Piano Concerto no.3 in C minor, Op. 37. Kali ini piano kembali ke posisinya yang menyamping dengan Sam Haywood bertugas sebagai solois dan Stephen Tong sebagai konduktor. Permainan pianis yang sempat menimba ilmu di Royal Academy of Music London dan juga dengan profesor piano ternama, Paul Badura Skoda, ini tetap cemerlang dan intensitas yang terbangun. Ia pun terlihat mengambil peran yang lebih jauh hanya dari sekedar solois piano yang gemilang, ia pun mengambil tanggung jawab sebagai penyelia dari keseluruhan sajian dari karya yang ditulis sang komponis sebagai penghormatan kepada Mozart.

Kerja samanya dengan timpanis Gabriel Laufer terjalin dengan erat sembari bersama-sama menggerakkan orkestra. Haywood pun secara halus pun hadir memimpin orkestra terutama di bagian-bagian sulit yang penuh dengan rubato dengan anggukan kepalanya terutama ke arah instrumen tiup yang membutuhkan panduan yang tidak mereka dapatkan dari konduktor malam itu. Pujian pun perlu dilayangkan kepada bassoonis Stephanie Marcia yang bermain dengan otoritatif bersama flutis Metta Ariono dan obois Daud Harianto Zhu yang bermain dengna penuh tanggung jawab. Wen wen Bong pun sebagai concertmaster mengarahkan permainan semua dengan pemahaman yang komprehensif akan karya yang ditulis Beethoven di tahun 1800 ini. Dalam permainan karya ini, komunikasi antara Stephen Tong sebagai konduktor baik dengan solois maupun orkestra tampak sangat minim, justru terlihat bagaimana kepercayaan solois piano dengan pemain orkestra terbaca lewat permainan karya dan interaksinya dengan seluruh orkestra.

Konser sendiri dibuka dengan karya simfoni terakhir dari ‘Bapak Simfoni’, F.J. Haydn, Symphony no.104 in D major, Hob.I/104. Dipopulerkan dengan sebutan ‘London’ oleh penyunting dan penerbit dikarenakan sebagai penutup dari serangkaian komposisi simfoni yang ditulisnya di London, karya ini ditulis di tahun 1795 dengan format orkestra simfonik penuh dan pendekatan orkestrasi galante yang hidup. Meski demikian, permainan secara keseluruhan di bawah pimpinan Stephen Tong meskipun terjalin indah dan utuh dengan kalimat-kalimat musikal yang menghiasi seluruh permainan kehilangan kehidupan karena absennya nafas dalam permainan karya. Terkesan elegan, namun pembawaan terasa mencekat bagi pemain maupun pendengar. Suasana yang riang pun akhirnya tergantikan dengan ketergopohan. Meskipun demikian sekali lagi salut kepada seluruh orkestra yang bermain dengan disiplin yang tinggi meskipun agak terasa berat terutama sebagai karya pembuka.

Bertajuk ‘Haydn, Mozart, Beethoven’, sebenernya keseluruhan penampilan semalam adalah sebuah intipan akan karya tiga komponis besar masa klasik. Dalam rentang dua dekade, ketiga karya ini ditulis di Wina, tempat ketiga komponis yang saling terhubung ini tinggal dan berkarya. Tidak pelak nama ‘Viennese School’ menggema, merekalah tiga tokoh utama dalam lahirnya Aliran Wina yang mendominasi percakapan musikal akhir era klasik menuju romantik dalam perkembangan sejarah musik Eropa. Dan kehadiran Sam Haywood dari London semalam menjadi kunci penyampaian musik yang luar biasa semalam lewat kepemimpinan dan permainannya yang memukau. Tabik!

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: