Kabar Terkini

Dari Les Miserables Jadi Les Desplorables: Ketika Seni Ditunggangi Politik


~ oleh JC Pramudia Natal

Pemilihan Presiden Amerika Serikat baru saja usai. Sebuah pemilihan yang melahirkan hasil mengejutkan semua pihak, bahwa konglomerat dan taipan Donald Trump berhasil mengalahkan Hillary Clinton untuk menjadi presiden ke-45 Amerika Serikat. Namun tidak semua mungkin terjaga betapa jeli tim kampanye Trump melakukan manuver “artistik sosialis” untuk memenangkan langkah pemilih terakhir.

“Secara generalisasi kasar, kau bisa meletakkan setengah pendukung Trump ke dalam kategori yang saya sebut keranjang sampah” ucap Hillary dalam perhelatan CNN 9 September 201”6. Dalam Bahasa Inggris lema “keranjang sampah” ini diekspresikan Hillary dengan kata deplorables. Tidak tanggung-tanggung kata ini merupakan turunan dari versi Bahasa Perancis yang bermakna “golongan tanpa harapan”, “menjijikkan”, “mengerikan”.

Menanggapi komentar Hillary itu alih-alih menentang, Trump dan tim suksesnya menjadikan deplorables sebagai identitas penyatu. Dalam kampanyenya terang-terangan Trump dan pendukungnya mengidentifikasi diri mereka sebagai Les Desplorable, mengambil bentuk asli lema tersebut dalam Bahasa Perancis. Lebih lanjut, langkah artistik mereka adalah menggubah vandel yang  memiliki kesamaan ruh dengan karya musikal ternama berlatar Perancis, Les Miserables. Bahkan beberapa pekan setelah itu diunggah video youtube yang menampilkan vandal tersebut sebagai latar lengkap dengan nomor Do You Hear The People Sing. Selain dari video tersebut bermunculan video-video serupa yang mengidentifikasi Trump dan pendukungnya Le Desplorables dengan usaha merebut kejayaan Amerika kembali.

Ketika mitos mencapai titik temu dengan realita, di situlah sejarah berubah. Dalam musikal Les Miserables dikisahkan gejolak Perancis di masa peralihan monarki menjadi republik. Ketidakpastian dan kemiskinan merajalela, sementara pemerintahan yang berlangsung hanya menjadi boneka-bonekaan bagi mereka yang mengeruk keuntungan dari pajak rakyat.  Situasi yang sama dapat dikatakan terjadi dengan Amerika.

Dengan berkaca kepada demografi pemilih, Trump memenangi semua daerah Mid-West yang berbasis kepada industri. Daerah-daerah inilah yang paling merasakan dampak resesi ekonomi. Penutupan pabrik dan industri, pengurangan karyawan, adalah hal yang lumrah di daerah ini. Sementara untuk tenaga kerja menengah terjadi kelebihan karena hadirnya para imigran yang juga mencari peruntungan di Amerika.

Dalam kondisi seperti ini sentimen Les Deplorables menemukan sasaran empuk dengan menggunakan anak panah Do You Hear The People Sing dari Les Miserables. Kemarahan mereka yang kehilangan pekerjaan dan bingung akan penghasila (singing a song of angry men), kelelahan mereka dijadikan boneka kaum elit (who will not be slaves again), melebur dalam ikatan sosial memenangkan calon yang siapa pun tidak akan menyangka (will you give all you can give so that our banner may advance).

 

Pada akhirnya sebagaimana Revolusi Perancis, sentimen sosial ini sukses membakar para pemilih dari kaum bawah, tidak terdidik, dan bahkan para golongan putih di era Obama (yang mencapai 5.4% dari pemilih sekarang) untuk bangkit dan berpartisipasi memilih. Klimaks pun tercapai Selasa pagi saat Trump menyempurnakan aransemen politik sosialnya. Ia berjalan ke podium untuk menyampaikan pidato pasca-pemiilihan dengan diiringi lagu Do You Hear The People Sing.

Namun kemenangan ini bukan tanpa ironi. Hugo selaku penulis Les Miserables,memang menggunakan karyanya sebagai sebuah kritik sosial. Namun Trump dan tim kampanyenya berhasil mengangkat nomor ini ke tingkatan yang lebih tinggi, kalau tidak secara kasar dikatakan manipulatif, yaitu propaganda.

Sebagai karya seni yang mengritik keadaan sosial, Do You Hear The People Sing mengundang pendengar meresapi perziarahan jati diri Jean Valjean di tengah kemelut sosial-ekonomi Perancis

Do you hear the people sing, singing the song of angry men”

hingga kemudian di penghujung kisah ia mendengar lagu tersebut kembali di dalam istirahat abadi, menggapai terang Ilahi.

Do you hear the people sing, lost in the valley of the night

Namun sebagai propaganda, karya ini dicabut dari keutuhannya dan direaktualisasi semata-mata untuk memanipulasi keadaan psikologis masyarakat Amerika. Pasca dibakar semangat pendukungnya selama kampane, usai penghitungan suara Trump menutup rangkaian kampanyenya dengan pidato, yang dibuka dengan sayup-sayup lagu

“Will you give all you can give, so that our banner may advance?”

 

Musik memang kerap menjadi suatu bagian penting dalam komunikasi publik, namun lihainya tim kampanye Trump memindai konteks suatu musik seni ke dalam realita perlu diberi catatan khusus.; sejauh apa karya seni dapat dicerabut dari keutuhannya demi memenuhi tujuan di luar karya itu (dalam hal ini ego Republik memenangkan pilpres dengan memanfaatkan silap bicara Hillary)?

~JC Pramudia Natal atau Adik Christians Hartono adalah seorang pendidik musik di ACG School Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: