Kabar Terkini

Paduan Suara Indonesia di Ceruk Amatir


Berapa tahun sudah Indonesia mengalami kebangkitan paduan suara lewat prestasi yang diraih lewat kompetisi di berbagai ajang luar negeri. Namun, mengapa kita belum memiliki wadah paduan suara Indonesia yang profesional?

Tanya ini sempat terlontar mengingat pelaku paduan suara profesional di Indonesia sudah terbilang cukup banyak, banyak di antaranya adalah vokalis handal yang malang-melintang di dunia paduan suara dengan prestasi yang juga tidak terbilang sedikit. Beberapa bahkan berhasil mencari nafkah lewat bernyanyi dari satu paduan suara ke paduan suara lain, menjadi pelatih dan beberapa bahkan aktif sebagai guru musik. Namun banyak wadah paduan suara sulit sekali keluar dari ceruk amatir, meskipun tidak sedikit anggotanya terbilang sudah tergolong profesional di bidang musik.

Dalam konteks ini, sebenarnya tidak ada yang salah bahwa paduan suara di Indonesia dihidupi lewat giatnya kehidupan paduan suara amatir. Bagaimanapun kegiatan bermusik paduan suara adalah kegiatan yang bersifat komunal yang sangat cocok dengan kehidupan masyarakat di Indonesia. Geliat amatir harusnya mampu membina geliat dunia profesional yang lebih matang secara artistik maupun keberlangsungannya sebagai organisasi seni. Tetapi yang menarik adalah sangat langkanya paduan suara yang memegang cap profesional sebagai bagian dari brand organisasi tersebut.

Beberapa kelompok profesional yang banyak dijumpai di ibukota pun lebih tergolong sebagai kelompok ensemble vokal dengan keanggotaan kurang dari 10 dan cukup banyak ditemui dalam lingkaran ‘job‘ yakni mengisi sebuah event pesanan baik seperti acara instansi, perkawinan, gereja dan lainnya. Lain daripada itu, hampir tidak ada kelompok paduan suara profesional yang bernyanyi dalam rangkaian pertunjukan tersendiri layaknya sebuah konser dan hidup dari kegiatan tersebut secara rutin. Beberapa paduan suara yang disebut khalayak sebagai ‘profesional’ pun sebenarnya terbentuk dari kalangan amatir yang honor yang mereka terima acap tidak mampu menutup pengeluaran mereka selama masa persiapan pertunjukan. Pun beberapa ensemble vokal yang telah berhasil sebagai kelompok profesional lewat jaringan event tidak banyak yang kemudian yang melangkahkan kaki ke panggung konser.

Sebab-musabab sulitnya peralihan ini sebenarnya menarik untuk disimak. Dengan ramainya dunia paduan suara kita dan prestasi yang acapkali membanggakan, sebenarnya fenomena langkanya kelompok paduan suara profesional yang rutin mengisi panggung konser menjadi cukup menarik. Kuantitas sumberdaya manusia sepertinya tidak menjadi masalah dalam hal ini. Namun berbagai persoalan lain bisa menjadi penyebab antara lain ketidaksiapan sumberdaya tersebut secara kualitas, kurangnya visi untuk berorganisasi, ataupun malah alasan sederhana yakni sekedar hitung-hitung nilai ekonomis konser belum akan mampu menghidupi paduan suara profesional dan kegiatannya.

Banjir Pra-Kompetisi, Wajah Paduan Suara Indonesia

Namun menarik apabila kita melihat padanannya dalam dunia orkestra di Indonesia. Sebagai sebuah bentuk berkesenian musik yang komunal, orkestra di Indonesia terlihat mampu mengusung dirinya sebagai sebuah kelompok profesional, baik di atas panggung konser maupun dari mengisi acara dari event ke event. Perkembangannya pun secara historik cukup menarik. Orkes di Indonesia pasca kemerdekaan hadir dahulu sebagai sebuah kelompok profesional dan baru 20 tahun terakhir kelompok amatir hadir menjamur, sebuah fenomena yang terbalik dari paduan suara yang lahir sebagai daya di belantara amatir. Apabila dihitung-hitung dari nilai ekonomis, sebenarnya membina orkestra dengan mengadakan konser di panggung tidak tentu cukup ongkos untuk para pemain profesionalnya juga, namun hal tersebut tetap dilakukan dan kelompok tersebut masih berdiri.

Lalu apa yang menyebabkan paduan suara tidak kunjung bangkit sebagai kelompok profesional yang memiliki nilai ekonomi kreatif? Adalah lumrah memandang kelompok orkestra Indonesia sebagai kelompok profesional, sedang paduan suara profesional sedikit banyak masih terdengar menggairahkan layaknya sebuah obyek eksotik bahkan bagi penggerak paduan suara Tanah Air. Apakah ini dikarenakan persepsi budaya di masyarakat kita yang tidak memihak pemahaman akan paduan suara profesional, ataukah pola pengembangan paduan suara kita yang meskipun telah berprestasi dalam berbagai kompetisi amatir dalam dan luar negeri ternyata belum mampu menopang pergerakan paduan suara profesional di negeri sendiri?

Hal lain yang sebenarnya dapat dicermati adalah keuntungan sebuah paduan suara amatir dan wilayah abu-abu yang menyertainya. Tidak sedikit pelaku musik pun menanyakan, “Apa sebenarnya beda amatir dengan profesional?” Jejak ‘profesionalisme’ di dunia kreatif pun memang merupakan wilayah yang mudah dilanggar dan diredefinisikan. Insan kreatif dapat beralih dari status amatir menjadi profesional dengan mudahnya terlebih tanpa institusi yang menaungi dan melindungi pekerja profesional kreatif musik di Indonesia. Banyak asosiasi yang ada namun sedikit yang mampu menyuarakan kepentingan musisi yang tergabung di dalamnya. Inilah yang juga menciptakan wilayah abu-abu. Perbincangan kualitas pementasan paduan suara pun tidak selalu pula mudah dan terbuka untuk dibahas sehingga pemakluman terhadap sajian yang amateurish biasa pula kita temui.

Selain itu, juga hadir sebenarnya mereka yang memainkan status pro-amatir ini dengan cerdik. Dalam kancah internasional, banyak kompetisi paduan suara baik dalam ataupun luar negeri dibuka untuk paduan suara amatir dan justru terlarang untuk paduan suara profesional dengan dikotomi yang sangat kaku. Dengan asumsi sederhana di banyak negara terutama AS dan Eropa bahwa paduan suara profesional adalah paduan suara yang anggotanya dibayar untuk bernyanyi, paduan suara Indonesia maju dalam berbagai kontes sebagai paduan suara amatir yang anggotanya tidak dibayar untuk bernyanyi. Namun sebenarnya tidak sedikit pula di tengah wilayah abu-abu ini, paduan suara Indonesia melangkah maju sebagai paduan suara amatir meskipun ketika mereka tampil di Indonesia tidak sedikit pula yang mengambil fee layaknya paduan suara profesional dan juga dibayarkan kepada para personel penyanyinya yang dalam definisi dikotomis tergolong ‘profesional’.

Wilayah abu-abu ini bukanlah sesuatu yang salah atau benar, namun adalah bukti cerdiknya paduan suara Indonesia dan banyak paduan suara lain di regio yang mengambil ceruk ini dan memanfaatkannya untuk keuntungan masing-masing. Dengan pengertian makna ‘profesional’ dan ‘amatir’ di berbagai tempat di dunia ini berbeda-beda dan tidak ada monitoring secara jelas apa itu ‘profesional’ ataupun ‘amatir’, masing-masing makna itu akan bercampur dan asyiknya bagi banyak musisi Indonesia, ini menjadi sebuah kesempatan yang dapat dioptimalkan.

Di banyak ajang kompetisi dunia, dapat kita lihat bagaimana paduan suara negara-negara berkembang baik di Asia maupun Eropa, mayoritas Eropa Timur mampu memanfaatkannya dengan baik dan mendulang prestasi yang luar biasa dan tentunya dengan kualitas yang juga bukan main-main. Banyak paduan suara di Eropa Barat yang telah memiliki pengertian rigid tentang ‘profesional’ dan ‘amatir’ justru tidak pernah kedengaran apa-apa karena tidak sedikit talenta dan organisasi paduan suara begitu merasa siap, akan melompat dari ‘amatir’ menuju ‘profesional’ dan menutup pintu sirkuit amatir dan tidak pernah lagi berlaga dalam kompetisi paduan suara.

Pengertian ‘amatir’ dan ‘profesional’ juga tidaklah seperti pengertian biner, dan beruntunglah mereka yang mampu mengoptimalkan status mereka ini, terlebih di Indonesia.

About mikebm (1164 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: