Kabar Terkini

“Reach Up!” PSM Universitas Pancasila


~oleh Edward John

Bermalam minggu dengan Musik. Sungguh sebuah kegiatan yang tak mungkin saya lewatkan. Sabtu kemarin, 12 November 2016, Paduan Suara Mahasiswa Universitas Pancasila  (PSMUP) menggelar konser prakompetisinya menjelang keberangkatan mereka ke “Third Asia Cantate Choral Festival” di Hong Kong akhir bulan ini.

Buah kemacetan kusut yang semakin meriah dengan hujan gerimis yang menolak berhenti sejak sore. Alhasil, saya hadir dengan kondisi hati yang cukup kacau balau. Namun betapa bahagianya saya ketika seksi suara perempuan PSMUP menyejukkan hati saya dengan kebeningan suara mereka ketika membuka “Stetit Angelus” karya Dubra. Transparan dan ringan. Sedikit terlalu ringan, namun cukup untuk bisa memberi ilustrasi asap dupa yang menjadi objek utama di karya ini. Seksi sopran dan alto di bagian aleatoric pada kalimat ‘et ascendit fumus aromatum’ (dan asap dupa naik) akan lebih indah lagi bila lebih mengalir. Bagian ini memang cukup menantang karena sopran dan alto yang awalnya menyanyi dengan teratur, diminta segera menyanyi dengan tempo individual tanpa ada jeda sebelumnya. Tenor dan bas tampil selalu prima dengan bunyi yang kokoh dan penuh. Hal ini konsisten hingga konser usai.

Karya komposer muda berbakat tanah air, King Napoli, berjudul “Over Hill, Over Dale”, menyusul berikutnya. Karya itu memang dibuat khusus untuk PSMUP, dan malam itu adalah pertunjukan perdananya. Karya yang teksnya berasal dari drama A Midsummer Night’s Dream ini menuntut segala usaha yang maksimal dari penyanyinya. Diolah dengan gaya kontemporer, lagu ini tidak terlalu sulit dicerna. Karya ini dimulai dengan tempo yang cukup cepat. Segera terdengar bahwa pelafalan konsonan di sini harus lebih renyah agar kalimatnya bisa tertangkap dengan baik oleh penonton. PSMUP di bawah asuhan Brian Agung Hari Santoso–akrab dipanggil Mamas Hari oleh musisi-musisi muda yang dipimpinnya ini–menghadirkan tekstur yang lebih kaya di karya ini, namun warna masih belum banyak berubah. Pun demikian, dinamika forte berbunyi dengan sangat mengesankan. Secara keseluruhan PSMUP mengeksekusi karya ini dengan serius dan apik. Sang komposer, yang hadir malam itu, dapat saya bayangkan cukup senang dengan penampilan PSMUP.

Di babak kedua, seksi suara pria PSMUP membuka dengan cover lagu populer, “All of Me”, yang dipopulerkan oleh John Legend. Di sini, mereka terdengar sangat mengalir dan kompak. Nada-nada tinggi yang menuntut falsetto yang indah pun terhitung cukup berhasil dilantunkan oleh para tenor. Saya memuji keseriusan yang tak putus-putusnya disajikan oleh PSMUP. Namun, saya sesungguhnya berharap bas bisa terdengar tidak terlalu intens, dan tenor sebagai cantus firmus bisa lebih menghayati lagi makna kalimat-kalimatnya. Secara keseluruhan, lagunya kehilangan garam popnya.

“Jing-ga-lye-ya” karya Bruce Sled segera ditampilkan. Permainan kata-kata yang tidak memiliki arti membuat karya ini mengandalkan dirinya pada musiknya saja. Karya yang riang dan catchy ini mantap dieksekusi oleh seksi pria PSMUP. Kesan riang hinggap di hati saya kemungkinan besar sebagai efek dari konsonan yang lebih jelas di sini. Ansambel juga terdengar lebih lepas.

Pada karya berikut, seksi suara perempuan kembali bergabung. Karya “Kalinda” ciptaan Sydney Guillaume dibuka dengan paduan suara yang sontak mengobrol dan tertawa, membuat bunyi-bunyian yang biasa didengar di pasar atau di mana banyak orang berkerumun dan bercengkerama. Nyaris tanpa aba-aba, ansambel perlahan mulai menyanyi. Ini cukup sulit. Betul-betul karya yang layak ditampilkan dalam kompetisi. Saya bergairah karena di sini ansambel menyajikan permainan warna yang kemungkinan besar terbantu ritme khas Amerika Latin serta teks lagu berbahasa campur (Creole). Walaupun masih belum lepas betul, nampaknya segala tuntutan komposer terpenuhi. Bunyi PSMUP yang konsisten terdengar pas mengeksekusi karya ini. Usai ansambel membawakan lagu ini, saya diam terkesima.

Setelah aroma Amerika Latin mengudara, melodi pentatonik menghibur telinga penonton. Seksi perempuan PSMUP membentuk formasi, lalu seorang solis, Stephani Tiara, menyanyikan untaian mantra Gayatri untuk membuka “Janger”. Mantra itu dinyanyikan begitu mantap dan membius oleh solis. Nomor ini tak asing lagi bagi para pecinta paduan suara tanah air. Karya Agustinus Bambang Jusana ini dibawakan dengan mengesankan. Seksi suara perempuan PSMUP menunjukkan kebolehannya. Warna baru disajikan di sini. Sangat segar! Salut.

Dua karya yang berikutnya ditampilkan adalah “Hela Rotane” karya Ken Steven, dan “Cublak Cublak Suweng” karya Budi Susanto Yohanes. Keduanya dibawakan oleh PSMUP, dipimpin oleh Benny Ronggur: anggota ansambel seksi bas. Sebelumnya, Mamas Hari menceritakan pada penonton bahwa Benny telah berhasil membawa PSMUP menyabet juara pada kompetisi yang diadakan Kopertis. Sehingga ia mempercayakan PSMUP kepada Benny pada perlombaan di Hong Kong nanti, pada kategori folklore. Namun, secara terpisah, Mamas Hari menjelaskan hal lain lagi sebagai alasan di balik penunjukannya. Ia merasa ansambel yang dipimpinnya bernyanyi lebih lepas dibawah aba-aba Benny.

Ia tidak salah.

Di dua nomor terakhir, ansambel tampil hampir-hampir seperti paduan suara yang berbeda. PSMUP di bawah Benny muncul dengan lebih segar, ekspresif dan percaya diri.

Neat and dirty at the same time.

Saya harus angkat topi bagi Mamas Hari yang telah memberikan kepercayaan bagi anggota ansambelnya yang berpotensi. Ini bukan suatu hal yang lumrah, setidaknya sejauh pengetahuan saya. Bravo!

Secara umum, PSMUP telah menunjukkan usaha yang sungguh-sungguh untuk menjadi pelayan bagi Musik yang mereka interpretasikan. Karenanya, harus saya akui, teman kencan saya tempo hari sungguh amat seksi, dan, malam minggu saya yang sempat kacau, jadi lebih damai usai menonton pertunjukan “Reach Up” ini.

Selamat bertanding, PSMUP! Kami di Indonesia menunggu kabar gembiranya! Toi toi toi!

~ Edward John adalah konduktor muda berbakat sekaligus penyanyi tenor yang aktif bernyanyi dan melatih beberapa paduan suara di Jakarta, di antaranya Cantate Domino di Cilandak dan beberapa paduan suara lainnya di ibukota.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: