Kabar Terkini

Aryo Wicaksono Tentang Musik Klasik di Indonesia – Bagian 1


~Tersedia dalam bahasa Inggris maupun Indonesia (terj. MikeBM) / Available in English and Indonesian

Aryo Wicaksono adalah salah satu diaspora Indonesia yang sukses membangun karir sebagai pianis konser dan manager seni di New York, USA. Dalam rangka kedatangannya ke Surabaya dan tampil bersama Surabaya Symphony Orchestra di bulan Desember, Aryo Wicaksono meluangkan sedikit waktu bersama MusicalProm untuk membagikan pengalaman dan pandangannya tentang dunia musik klasik di Indonesia:

Q: Aryo, berdasarkan pengalaman Anda di AS, bisakah diceritakan sedikit pendapat Anda tentang dunia musik klasik di Indonesia?
A:
Musik klasik di Indonesia sedang berkembang dengan pesatnya. Hal-hal baru, disertai dengan semakin banyaknya petunjukan musik (dari berbagai jenis dan gaya, apabila Anda ingin menyebutnya – klasik, jazz, musik baru, musik kuno dan musik dunia) bermunculan di Indonesia. Saya berharap apresiasi yang seperti ini terus berkembang. Yang terpenting adalah juga untuk melihat pentingnya belajar musik, nilai dari proses belajar musik, berbagi dan bertumbuh dari pengalaman bermusik yang didapatkan di mana saja. Sepertinya ada sebuah trend berkompetisi (piano maupun paduan suara) yang bertumbuh di Indonesia yang menuntut persiapan, ikut serta dalam kompetisi di Eropa ataupun di luar negeri, membawa pulang penghargaan dan dirayakan serta dielukan. Inisiatif ini tidaklah buruk, namun perlu untuk dikurangi. Sebagai gantinya, perlu untuk mengembangkan kegiatan musik, pendidikan musik, karir musik dan berbagi yang akan memberikan nafas kehidupan pada kegiatan berbudaya dan menggiatkan bidang sosial-ekonomi suatu daerah.

Perlu juga diingat bahwa di masa lampau Indonesia telah memiliki banyak musisi klasik hebat yang datang dan pergi bagai sapuan gelombang. Kita memiliki Iravati Sudiarso yang telah tempil bersama New York Philharmonic berpuluh tahun yang lalu sebagai seorang solois piani yang memainkan Konserto Piano dalam f minor karya Chopin (kalau tidak salah, ia adalah musisi Asia pertama yang menjadi solois bersama NY Phil). Banyak pianis klasik Indonesia lain yang berjaya di Eropa, AS dan Australia. Ada Adrian Prabava sang konduktor, adapula Esther Budiarjo, Myrna Setiawan, Ananda Sukarlan dan lainnya. Tidak banyak orang tahu bahwa Indonesia juga menjadi tujuan bagi banyak pianis dan musisi besar di masa lalu seperti Godowsky, Lili Kraus (yang ditangkap dan dijebloskan ke kamp tawanan Jepang di Semarang di tahun 1940-an), Pablo Casals dan lainnya. Ada juga beberapa pianis Hindia (berdarah Belanda maupun campuran) yang menciptakan Rhapsody Indonesia, Indisch Rhapsody dengan konsep yang saya kira serupa seperti Rhapsodia Nusantara (karya Ananda Sukarlan). Saya tak yakin 100% dengan detail yang dikemukakan, namun informasi ini layak untuk diteliti lebih jauh.

Persoalan yang dihadapi, menurut pendapat saya, adalah kurangnya a) Kelangsungan bakat dan pengembangan bakat yang tidak pandang bulu asal maupun ras (entah itu Jawa, Indonesia-Tionghoa, Ambon dan lain-lain), b) keberlangsungan dukungan dan relevansi upaya pendidikan dan artistik dari musik – untuk tidak melabeli musik sebagai musik ‘klasik’, jazz secara terpisah – dalam masyarakat. Orang-orang, seniman, dan kalangan profesional seni perlu melihat relevansi dan keterhubungan antara seni dengan berbagai cabang profesi dan bagaimana seni tersebut dapat membangun, menumbuhkan, memperkaya serta melengkapi masyarakat sipil tersebut. Keterhubungan dan pengembangan artistik dapat dan haruslah mencakup berbagai musik dari budaya sendiri. Musik tradisi Indonesia beserta kekayaannya sebagai harus diperlakukan sebagai sumber kekayaan kekuatan, budaya, instrumen pendidikan dan lainnya. Dan satu lagi yang sangat penting c) kemampuan untuk memiliki karir yang berkelanjutan di dunia musik/seni yang didasari kerja yang dapat diapresiasi masyarakat. Poin ini sedikit banyak mirip dengan poin b).

Q: Bersediakah Ana membagikan, potensi apa sajakah yang yang dapat Anda kenali di dalam dunia musik klasik di Indonesia?

A:  Banyak sekali potensi sebenarnya.
Satu persatu saya sebutkan: a) berlimpahnya bakat, b) kemampuan untuk belajar dan menyerap berbagai hal dari berbagai tempat, budaya dan juga kemampuan untuk menjadi pelajar yang fleksibel serta masyarakatnya yang adaptif, c) haus dan dorongan untuk berhasil di berbagai kondisi dan lingkungan, ketekunan untuk terus berkembang.

Saya rasa ini semua datang dari kemampuan untuk bertahan hidup masyarakat Indonesia yang bertahan hidup selama +350 tahun dalam penjajahn juga dibentuk sebagai sebuah kesatuan kolektif yang terdiri dari berbagai ras, etnik, budaya dan agama. Keterampilan ini adalah modal yang harus dirayakan sekaligus juga dikembangkan lebih jauh.

Bakat muda yang luar biasa yang diikuti dengan semangat, inisiatif dan energi serta passion  untuk belajar yang hal-hal baru yang menantang dan juga lain dari budaya sendiri (eksotis dan asing). Ini adalah baik, namun saya berharap potensial ini juga dikembangkan untuk juga belajar dan menggunakan kekuatan budaya dan kekayaan musik Indonesia yang sedemikian beragam dan tersebar di seluruh kepulauan. Saya sangat senang melihat pribadi-pribadi seperti Je Shyu, Djaduk Ferianto, Ria Papermoon, Michael Asmara, Tony Prabowo, Nyak Ubiet Raseuki dan Garin Nugroho melakukan peranannya masing-masing untuk mengangkat kekayaan Indonesia yang sedemikian berharga ini.

Q: Apa opini Anda akan musik klasik dan bagaiman menciptakan masyarakat sipil di Indonesia, terutama mengingat berbagai macam persoalan yang kita hadapi di Indonesia?
A:
Musik yang baik, yang memiliki kedalaman, intisari, warna dan disari pemikir bersama beragam karya seni, sastra, drama dan buku-buku ditujukan untuk mengungkap tanya serta memancing inisiatif untuk berpikir dan juga berefleksi. Musik yang baik, pendidikan yang membukakan pikiran, juga mejalin diskusi yang terbuka antar budaya akan menciptakan masyarakat yang lebih terbuka, bergotong royong yang lebih baik.

Permasalahan yang dihadapi berbagai masyarakat dan peradaban di seluruh dunia sebenarnya cukup mirip yakni: persoalan yang muncul dari populasi yang berlebih (terutama di daerah padat penduduk akibat distribusi manusia yang tidak merata – semua ingin hidup di Tokyo, New York, Paris, Jakarta ataupun London), juga hadirnya peningkatan eksponensial dari kemanusiaan yang tidak diikuti dengan langkah-langkah untuk menjamin keberlangsungan sisi konsumsi maupun berbagi sumber daya.

Saya harap bahwa pemahaman dapat digarap lewat pendidikan berkualitas, pengalaman dan pembelajaran musik yang kolaboratif. Semakin banyak orang yang mendengar, menerima, terbuka serta berbagi rasa takut akan ketidakcukupan nafkah, takut akan kerasnya hidup, semakin banyak pula kita memahami bahwa banyak solusi yang dapat dipelajari bersama untuk mengatasi permasalahan yang ada, yakni BERBAGI.

Mari kita hilangkan pelabelan musik klasik – jazz – musik kontemporer – elektronik – dunia dan lain-lain. Musisi yang hebat yang ingin tersu belajar dan mempraktekan beragam genre musik akan teru berkembang belajar dan pada akhirnya juga berkontribusi bagi komunitasnya.

~ bersambung ke bagian kedua yang terbit Minggu depan 29 November 2017


English

Aryo Wicaksono is one of Indonesian diaspora who is successful to build a career as both a concert pianist and arts administrator in New York, USA. Upon his coming to Surabaya, Indonesia and performing with Surabaya Symphony Orchestra in December, Aryo Wicaksono spent his time with MusicalProm to share his experience and views on Indonesian classical music scene:

Q: Aryo, based you on your experience in the US, what do you think about current classical musical scene in Indonesia?
A: Classical music in Indonesia is really having a great time developing. New things, more music performances (of all kinds, from – if you want to label it – classical, jazz, new music, early music, and world music) in various places in Indonesia. I hope to see this kind of appreciation to grow further. What is important also to see the value of learning music, the process of learning music, of sharing, and to grow out of that experience with wonderful tools that you can apply everywhere and anywhere is also very important. It seems there is a trend of (piano and choir) competitions all around Indonesia, where it is important to prepare for something, to do an international competition in Europe or abroad, or anywhere, to bring home the prize, and be celebrated. This kind of initiative is not so bad, but need to be reduced more and more and to really switch into developing musical activities, musical education, career, and sharing that will feed into the culture and socio-economic vitality of that particular region stronger.

Please also remember that in the past there has been lots of great classical musicians in Indonesia. The waves come in and go. We have had Iravati Sudiarso who performed with the New York Philharmonic years ago, as a soloist, performing Chopin f-minor concerto (if I were not mistaken, she might be the very first Asian musician to perform as a soloist with the NY Phil). Then there were lots of other great Indonesian classical pianists who are strong in Europe, US, and Australia. There’s Adrian Prabava the great conductor, there’s Esther Budiardjo, there’s Myrna Setiawan, Ananda Sukarlan, and so on. Indonesia, known to some, was a frequent destination of great pianists and musicians in the past such as Godowsky, Lili Kraus (who was interned at the Japanese internment camp in Semarang in 1940s), and Pablo Casals, and so on. There were even some Indische pianists (Dutch or Dutch-mixed pianists) who composed – voila – Indonesian Rhapsody, Indisch Rhapsody. Similar to the concept of Rhapsodia Nusantara, I suppose. I am not 100% certain of the details, but one can do extensive research on this.

The issues, in my humble opinion, are lack of: a) continuity of talent and talent development, local talent of all races and origin equally appreciated (whether it is Javanese, Chinese Indonesian, or Ambonese, etc.), b) continuity of support and relevance of the artistic music and educational endeavors – please do not label things exclusively as a “classical“ music, jazz – in the community. People, artists, art professionals need to see relevance and connection of the arts with the other branches of profession and see how it can develop, grow, enrich, and complement a particular civil society. This artistic connection and development can and should be including various music of your own culture, namely the Indonesian traditional music and its wealth of power, culture, educational tools, etc. that you can gather from that source. And last but also very importantly, c) the ability to have a sustainable career in music / in the arts through well-appreciated work in the community. This is somewhat similar to point b).

Q: Could you please share what potentials that you can identify in Indonesian classical music scene?
A: Lots of great potentials.
To break it down: a) great abundance of talent, b) great ability to learn and absorb things from various places, various cultures, the ability to be a flexible learner and a great adaptable people and society, c) great hunger and need to succeed in any types of situation and environment, great resilience to just make it through and be better.

I suppose these might come from the survival skills of Indonesia as a COLLECTIVE group of various race, ethnic, culture, and religion that was under the 350+ years of reign. These skills are something that should be cherished and cultivated, to even be better and better.

Wonderful young talent, the ability – hunger – initiative – energy – passion to learn anything that is challenging, foreign, and exotic. This is great. But I hope this potential is also extended into learning and exploiting various Indonesian cultural and musical riches from the vast archipelago. I am very glad to see great individuals like Jen Shyu, Djaduk Ferianto, Ria Papermoon, Michael Asmara, Tony Prabowo, Nyak Ubiet Raseuki, and Garin Nugroho doing their part to elevate this essential treasure of Indonesia.

Q: What is your opinion on how classical music can shape the civil society especially in Indonesia, given the issues that we face in Indonesia?
A: Any good music, any good music with depth – substance – color – thinking, any works of arts, literature, music, play, books etc. that are meant to pose questions, to be giving some thought-provoking, soul-searching initiatives. Any good music, good education that opens up the mind, to have an open discussion to various sides of culture and discussion will bring better, more understanding, and collaborative future / civil society.

The issues that societies and civilization in the world are facing can be quite similar actually: the issue can stem from overpopulation in the world (at certain dense areas, which also meant a very bad distribution of people all across the world – everyone wants to live in Tokyo, New York, Paris, or Jakarta, or London…), an exponential growth of humanity that are not followed by necessary steps to ensure sustainability of resource consumption, resource sharing.

Hopefully that understanding can be cultivated through good education, (chamber / collaborative) music learning and experience. The more people are willing to listen, embrace, open, and share their fears of not having enough on the table, their fears of not surviving, of not providing to their family and friends and loved ones,… the more we will know that actually there are more common solutions that everyone can learn from each other, there are more common ways to solve problems together, to share.

And let’s reduce, or even eradicate the labeling of classical – jazz – new music – electronic – world music etc. A great musician who is willing to learn and practice all kinds of musical genre will find him/herself to be constantly growing, learning, and hopefully give back to the community.

~ to be continued in next week’s post on November 29th, 2017

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Trackbacks / Pingbacks

  1. Aryo Wicaksono Tentang Musik Klasik di Indonesia – Bagian 2 – A Musical Promenade
  2. Aryo Wicaksono Tentang Musik Klasik di Indonesia – Bagian 2 – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: