Kabar Terkini

Chiaroscuro: Wilson Hermanto dan Christopher Park


~ oleh Bramana Putra

Available in English and Indonesian/Tersedia dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia (terj. MikeBM)

Cadogan Hall di London menjadi saksi penampilan dari dua bintang yang sedang melejit, konduktor Wilson Hermanto dan pianis Christopher Park bersama di English Chamber Orchestra tanggal 22 November lalu. Wilson Hermanto menampilkan karya Beethoven, Overture to The Creatures of Prometheus yang menjadi pembuka penampilan malam itu. Karya ini sendiri adalah bagian dari limabelas nomor musik balet yang terinspirasi dari kisah Prometheus dari mitologi Yunani. Penekanan yang disajikan Hermanto pada beberapa kord pertama yang tidak bersandar pada bentuk dasarnya, menciptakan impresi yang tegus sekaligus bersemangat. Dan ketika musik memasuki birama 2/2, seksi gesek perlahan mengeksekusi rangkaian not-not cepat dengan sentuhan yang ringan. Seksi tiup pun mengikuti dengan not seperempatan berirama sinkop yang membentuk keceriaan dari tema musik. Chicago Symphony Orchestra juga menyatakan bahwa tremolo di bagian Allegro akhir menggambarkan Prometheus yang kabur dari surga setelah mencuri api dari dewata.

‘Chiaroscuro’ secara harfiah bermakna terang dan gelap; dan kerap merujuk pada gaya lukisan Italia yang menekankan kontras pada warna. Pendekatan yang serupa juga diterapkan Park pada permainan pianonya. Pertunjukan kolaborasi perdana ini dimulai dengan cerah dan ringannya komposisi Mozart Piano Concerto no.17 dalam G mayor. Penampilan pianis Jerman-Korea ini menyapu indah ornamen-ornamen yang menghiasi bagian pertama dengan mengalir. Kerap dipuji sebagai Mozartian sejati (ahli Mozart) yang kedewasaan bermusiknya melebihi usianya, Park menggunakan tempo yang melampat di bagian kedua konserto untuk menciptakan dialog dengan orkestra dan kekhusyukannya dalam menginterpretasi karya. Allegretto di bagian ketiga menciptakan kesan karakter Mozart yang tulus dengan banyak progresi kord dominan-tonik dan pergerakan septima ke prime di alunan melodi.

Kontras yang muncul di Piano Concerto no.20 dalam D minor yang juga dari Mozart, dimulai dengan tema yang misterius di iringan not seperenambelasan. Bagian kedua Romance menjadi titik balik dan eksplorasi solois dan orkestra yang juga didaulat sebagai orkestra rekaman terbaik di dunia. Selain dari karakter musik yang cemerlang dari nada dasar Bes mayor, melodi dikembangkan dengan meluas, menciptakan ruang ekspresi yang lebih luas dibandingkan pendekatan appoggiatura yang biasa diterapkan di era Klasik. Park juga menggunakan kesempatan ini untuk menyajikan ketepatannya dia dalam mengeksekusi arpeggio dan melodi-melodi dalam blok oktaf, bentuk yang terasa jarang di dalam komposisi Mozart.

Tidak hanya ketertarikannya pada musik kontemporer yang mendorong Hermanto untuk menyajikanz Dance of Galanta karya Kodaly, tapi juga tahun 2017 bertepatan dengan peringatan 50 tahun wafatnya komponis tersebut. Ia bahkan menyajikan bagian akhir dari karya ini sebagai encore. Dimulai dengan melodi unison di bagian cello; lagi bukan dalam bentuk kord dasar, tema ini berulang beberapa kali dan kemudian disokong dnegan kord disonan. Sebelum memasuki bagian tempo Animato (bersemangat), orkestra mampu menciptakan suara yang tebal dan megah lewat permainan oktaf meskipun hanya 12 orang pemain biola yang hadir malam itu. Bagian terakhir dari tarian ini menggunakan ritme sinkop yang dikenal dengan irama Vebunko yang berasal dari gaya tarian abad 18 dan terinspirasi dari musik Gipsi. Hermanto, konduktor yang lahir di Indonesia, dengan terkendali mampu menciptakan efek Chiaroscuro dalam karya ini, dengan progresi tempo lambat dan cepat yang berkesan bagi penonton.

~ Bramana Putra adalah mahasiswa Manajemen Penerbangan di London dan pernah menjadi anggota Twilite Youth Orchestra, Concordia Community Orchestra and Orkes Simfoni UI Mahawaditra. Ia adalah co-founder of Celeste Chamber Orchestra dan sekarang anggota Central London Orchestra.


English:

London’s Cadogan Hall witnessed the performance of young rising stars, Wilson Hermanto the conductor and Christopher Park the pianist. Wilson Hermanto and the orchestra performed Beethoven’s Overture to The Creatures of Prometheus to open that evening. The piece itself is a part of fifteen numbers Ballets inspired from Greek Myth of Prometheus. Hermanto’s pressure on the first few chords – that are formed with basses not in its root, delivered a firm and energetic impression. As the music moved to 2/2 mark, strings section gently execute the rapid notes passage in somehow lighter style. Winds were following with crochet notes, often in syncopated beat and form cherish theme. Chicago Symphony Orchestra states that the tremolos in last Allegro section were illustrating Prometheus fleeing from heaven after stealing fire from the gods.

Chiaroscuro literally counts as light and dark; and often refers to Italian painting style in color contrast. Similar approach was applied in program selection for Park performance. This debut collaboration began with a light and bright Mozart Piano Concerto no. 17 in G major. The German-Korean pianist performance’ was flowing smoothly over vast ornaments scattered in the first movement. Often acclaimed as true Mozartians maturing over his age, Park took the slowing tempo in the second movement as an opportunity to create more dialogue with the orchestra as well as to show his deep devotion to the piece. Allegretto in the third movement represented genuine Mozart character with plenty of dominant – tonic chord progression along with septim to prime melodies.

The contrast appeared in second Mozart’s, Piano Concerto no. 20 in D minor, started with mysterious theme built over semi-quavers accompaniment. The second movement of Romance serves as turning point and room of exploration both for the soloist and the orchestra, which was acclaimed as world’s leading recording orchestra. Apart from natural bright characteristic from B flat major key, melodies were developed in much wider span, creating more expressive space rather than common appoggiaturas in classical era. Park also used the opportunity to present his precision over rapid arpeggios and octave melody blocks in the last part, something rare in Mozart composition.

Not only his strong interest towards contemporary music that leads Hermanto to include Kodaly’s Dances of Galanta, but also the celebration of 50 years of composer’s death in 2017. He even presented the last part of this piece as an encore. Began with unison melody from cello; again not from its root note, this theme then repeated several times and later backed with dissonant chords. Right before moving to Animato tempo, the orchestra was able to produce thick and grandiose sounds through octaves even though only 12 violins deployed in total. The last part of this dance often uses syncopated rhythm and in more details identified as Verbunko that refer to 1800s dances style, inspired by Gypsy musics. Hermanto, the Indonesian-born conductor perfectly controlled another chiaroscuro in this piece, the progression among slow and fast tempo that impressed the audiences.

~ Bramana Putra is a student in Airline Management in London and was a member of Twilite Youth Orchestra, Concordia Community Orchestra and Orkes Simfoni UI Mahawaditra. He is also the co-founder of Celeste Chamber Orchestra and now plays in Central London Orchestra.

About mikebm (1163 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Chiaroscuro: Wilson Hermanto dan Christopher Park

  1. Tomi Prabowo // 28 November 2016 pukul 10:55 pm //

    Halo Bram. Pandai sekali tulisanmu. Salut.

  2. 22 Desember ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: