Kabar Terkini

Untuk Siapa Diplomasi Budaya: Bercermin dari Levi Gunardi


Levi Gunardi baru saja menyelesaikan lawatan konsernya ke Kazakhstan. Acara yang menjadi bagian dari diplomasi budaya yang didorong oleh Kedutaan Besar Indonesia untuk Kazakhstan di Astana ini banyak diliput media cetak dan media elektronik lokal yang menunjukkan kesuksesan inisiatif ini. Namun ada keluh-kesah Levi yang tertangkap lewat akun Facebooknya:

levi-gunardi-complaint

Pernyataan ini menjadi menarik, bahwa tidak ada satupun media cetak/elektronik Indonesia yang menunjukkan niat untuk meliput keberhasilan konser dan diplomasi budaya tersebut. Tanya ini kemudian menjadi sebuah bahan refleksi tersendiri, sebenarnya untuk siapa sajakah pertunjukan diplomasi budaya seperti yang dilakukan oleh KBRI untuk Kazakhstan ini?

Pernyataan pianis Indonesia yang menjadi kebanggaan bangsa, Levi Gunardi, sebenarnya sangat dapat dipahami. Kendala yang mereka hadapi pun juga tidak kecil. Sebagaimana banyak seniman lain, pekerjaan menjadi seniman termasuk musisi seringkali dipandang sebelah mata di Indonesia bahkan kekaryaan mereka tidak diapresiasi selama di Indonesia. Karena itulah sebenarnya wajar bahwa banyak seniman seperti Levi ketika mendapatkan sambutan di luar negeri yang sedemikian meriah dalam misi diplomasi, juga mengharapkan ada sedikitnya apresiasi juga dari dalam negeri.

Namun mungkin perlu disadari pula bahwa dalam sebuah diplomasi budaya di mana Levi ikut serta, parameter keberhasilan yang menjadi pegangan bagi Kedutaan Besar Republik Indonesia adalah tingginya apresiasi sekaligus jangkauan dari kegiatan budaya yang mendekatkan kedua negara dan bangsa. Dalam parameter yang demikian, acara yang diselenggarakan KBRI Astana telah berhasil, sebagaimana disebutkan Levi bahwa acara tersebut dihadiri hampir seluruhnya oleh warga Kazakhstan sehingga tidak ayal Levi Gunardi pun dipuja di media-media Kazakhstan yang menjadi penghubung publik Kazakhstan dengan KBRI lewat misi budaya ini. Dalam parameter ini, sesungguhnya Levi telah memenuhi tugasnya.

Apakah dengan demikian liputan dari media elektronik dan cetak Indonesia menjadi suatu hal yang wajib adanya mengingat keberhasilan ini? Sebenarnya cukup menarik apabila kita melihat alangkah banyak media juga tidak secara proporsional menempatkan seniman dan kekaryaan. Dalam sebuah misi budaya, kita melihat ada misi budaya yang dipuja-puji di media padahal tidak menyentuh target, yakni rakyat negara tersebut. Seringkali mereka inilah yang menggunakan reputasi mereka sebagai ‘media darling’ Indonesia, sehingga muatan beritanya terasa ‘wajib’ di muat di media di Indonesia walaupun secara dampak tidak mencapai parameter diplomasi budaya yang dikehendaki. Inilah sebenarnya awal kesalahkaprahan media dalam menyikapi diplomasi budaya yang dibangun oleh beragam pihak sehingga akhirnya menyesatkan dan bahkan mengelabui pemirsanya.

Di sisi lain ada pula yang seperti Levi Gunardi yang tidak begitu kerap dipuja di media lokal, namun justru menggelegar di Kazakhstan dan lagi-lagi tetap tidak ada sahutan dari media di Indonesia. Keluhan dan juga keprihatinan Levi Gunardi sebenarnya cukup berdasar namun sebenarnya agak salah sasaran apabila berharap bahwa dengan prestasinya di luar negeri, ia akan mendapatkan peliputan di media di Indonesia. Sayangnya media tidak bekerja seperti itu, sebuah kenyataan yang menyedihkan memang. Ya, memang ruang yang digarap lewat diplomasi budaya adalah sebuah ruang publik di mana sebenarnya rakyat Indonesia ambil bagian bersama dengan keterlibatan pemerintah lewat Kedutaan Besar namun sepertinya bagi banyak petinggi di media, muatan berita ini tidaklah begitu penting naik tayang ataupun naik cetak.

Persoalan yang mendasar sebenarnya adalah sejauh apa media melihat pentingnya diplomasi budaya dan bahkan kehidupan budaya sebagai sebuah kepentingan publik yang memiliki muatan berita? Ketika diplomasi budaya di luar negeri mampu menyentuh pihak kedua tentunya misi budaya tersebut telah berhasil, namun pandangan masyarakat yang diwakili oleh media tentang pentingnya budaya justru yang harus ditingkatkan. Apresiasi budayalah yang seharusnya dikembangkan dan bukan pertimbangan muatan berita semata, mengutamakan ‘media darling’ yang meningkatkan oplah ataupun jumlah share di situs media sosial populer. Justru, pandangan yang merendahkan signifikansi budaya dan seni secara umumlah yang akhirnya mengerdilkan peran seniman dan budayawan dan bahkan melandaskan peliputan pada kesalahkaprahan. Media justru seharusnya mengagungkan kekaryaan seniman di dalam negeri dan bukan malah disibukkan dengan berita diplomasi budaya yang bisa jadi malah cenderung dangkal dan tidak berarah di luar negeri.

Rendahnya apresiasi bahkan di insan media tentang pentingnya budaya dan terlebih aktivitas diplomasi budaya, adalah batu sandungan bagi perkembangan budaya dan kesenian, juga apresiasi kepada para pelakunya. Keprihatinan Levi Gunardi, meskipun dalam konteks diplomasi budaya yang kurang tepat, adalah sebuah ungkapan frustasinya akan banyak media di Indonesia yang kini abai akan kehidupan budaya.

Justru karena inilah pertanyaan yang dilayangkan Dewan Kesenian Jakarta lewat Forum Pidato Kebudayaan 2016 ini menjadi sangat tepat: ‘Di mana dan ke manakah budaya dan kesenian di mata orang Indonesia sendiri?’

Iklan
About mikebm (1262 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

2 Comments on Untuk Siapa Diplomasi Budaya: Bercermin dari Levi Gunardi

  1. I was more than happy to find this net-eits.I wished to thanks in your time for this excellent read!! I definitely enjoying each little little bit of it and I’ve you bookmarked to take a look at new stuff you weblog post.

  2. I guess finding useful, reliable information on the internet isn’t hopeless after all.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: