Kabar Terkini

Aryo Wicaksono Tentang Musik Klasik di Indonesia – Bagian 2


~Available in English and Indonesian (trans. MikeBM)/ Tersedia dalam bahasa Inggris dan Indonesia (terj. MikeBM).

Artikel ini adalah kelanjutan dari wawancara kami dengan pianis Indonesia-AS Ario Wicaksono yang diterbitkan minggu lalu.

Q: Dengan keterlibatan Anda di Chamber Music America dan aktivisme di dunia musik klasik, apa yang Anda rasakan penting untuk dipelajari Indonesia?
A:
Saya pikir Indonesia telah memiliki perlengkapan yang baik untuk memulai gerakannya sendiri dan bertumbuh sebagai masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi harkat, toleran, dan bergotong royong. Kamu memiliki presiden Jokowi yang baik, tenang sekaligus strategis. Ini adalah awal yang baik. Semua nilai-nilai yang dibutuhkan sudah ada di sana, gotong royong, hormat-menghormati, belajar, mendengarkan dan juga menerima keragaman budaya Indonesia yang luas dan beragam.

Perlu diingat adalah bahwa kegiatan pelayanan publik (atau aktivisme) yang saya lakukan sangat beragam dan luas. Saya pernah terlibat dengan berbagai inisiatif dan pelatihan profesional muda di Bank Dunia di Washington DC, terlibat dalam organisasi seperti Art of Giving Back (artofgivingback.org), dan dengan komunitas diaspora Indonesia Amerika dan juga industri tekonologi.

Menurut saya, yang perlu dipelajari oleh banyak pemuda Indonesia (termasuk musisi muda) adalah:

  1. Rendah hati, ingin untuk belajar, terbuka untuk beragam ide serta haus untuk belajar dan menganalisa beragam hal yang kau terima. Kritislah ketika menganalisa dan berani untuk mempertanyakan hal-hal yang kau pelajari.
  2. Ringan tanganlah, baik hati, dan bina kerja sama dan terus berbagi dengan orang lain, lanjutkan perbuatan baik dan juga berikan kembali kepada masyarakat apa yang telah kau pelajari dalam upayamu belajar, tumbuh dan berkembang.
  3. Jangan sombong. Manusia hanya hidup sebentar di semesta yang luas ini. Artinya tetaplah rendah hati, bekerjalah dengan orang lain, alami skitarmu sebagai manusia, nikmati hidup dan terus memberi. Ketika seseorang meninggalkan dunia ini, ranah keberadaan ini, ingatlah apa yang kau tinggalkan, warisan macam apa dan energi positif macam apa yang akan kau tinggalkan.
  4. TAPI, tetaplah taruh semuanya dalam perspektif yang jelas. Ada Gandhi, ada Mandela, ada pula Hitler dan hal-hal kelam lainnya di kemanusiaan ini. Semuanya terjadi dalam 30-50,80 dan 100 tahun terakhir. Bukan 1000 tahun, dan seakan hanya sekedip apabila dibandingkan dengan semesta ini.

Q: Dalam membangun ekosistem, dapatkah Anda bagikan dengan kami apa yang kau pikirkan akan diperlukan di Indonesia untuk mempercepat pertumbuhan?
A:
Ecosistem apakah yang kamu maksud? Dalam ekosistem musik atau dalam lapisan masyarakat itu sendiri? Saya rasa kerjasama multidisiplin antara pemerintah, swasta, pendidikan (musik), hiburan dan kesenian akan bertindak sebagai kalisasi menuju masa depan yang lebih baik. Penekanan kualitas berkesenian dan pendidikan selalu penting untuk ditekankan. Namun dampak yang terukur, pendanaan juga tidak kalah penting. Akhirnya kita pun harus kembali melihat bahwa ide untuk mengukur sukses dan perkembangan haruslah ditaruh dalam konteks kesinambungan.

Q: Keterampilan seperti apakah yang penting untuk dimiliki musisi muda Indonesia, terlebih apabila mereka ingin membangun sebuah karir internasional?
A: Kesuksesan di daerahmu, di lingkungan bahkan di kotamu adalah sebuah kesuksesan. Karir internasional penting, namun juga penting untuk menikmati setiap langkah kesuksesan itu. Jangan putus asa dan terus menikmat semuanya.

Tapi saran saya – apabila saya dapat berbagi dan harapannya itu tidak akan menyesatkan dan dapat diamalkan dalam kehidupan mereka sendiri dan trayektori karir:

  1. Keterampilan teknis dalam bidangmu: ketahuilah keterampilanmu, kemampuan teknismu, virtuositasmu, kedalaman pengetahuanmu hingga mendalam, menyeluruh, serta meluas dengan keteguhan yang absolut dan kekuatan teknis. Ini dapat diimplementasikan untuk kemampuan teknismu, bagaimana memainkan etude Chopin dan Liszt setiap saat. atau Bachmu, tapi juga mengetahui belajar dan membaca beragam buku yang membuka wawasanmu akan sejarah musik dan pengetahuan dan belajar tentang bidang studi lain yang mampu memperkaya dirimu. Dengan kata lain, ketahuilah keterampilan utamamu, entah sebagai musisi, dokter, penari dan lainnya, lalu kemudian…
  2. Teruslah belajar, fleksibel dan terbuka pikirannya kepada orang lain: bukalah pikiran, dengarkan, bertumbuhlah dan baiklah kepada semua orang dan belajarlah dari semua orang. Dan aku tekankan, semua hal, bukan hanya musik: Anda harus paham soal musik, bisnis, bepergian, beragam bahasa, belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan budaya dan adat istiadat asing dengan cepat, belajarlah bagaimana membangun jembatan yang menyatukan orang-orang dan lainnya.
  3. Bertekunlah, terus mencoba dan jangan menyerah: apapun yang terjadi, terus lakukan evaluasi, jadikan dirimu lebih baik lagi dan coba apakah ada cara lain yang lebih baik untuk mencapai tujuanmu. Ini adalah perjalanan yang luar biasa, proses yang juga luar biasa. Nikmatilah dan belajarlah.
  4. Tetap memberi, berbagi dan mengajar: Tetaplah memberi dan berbagi, mengajar dan membantu orang lain dengan berbagai pengetahuan yang kau kumpulkan dari orang-orang lain.
  5. Nikmati dan belajar, atau seharusnya saya katakan ‘Nikmati hidup’: Di satu sisi, kita mencoba dan terus mencoba. Tapi juga nikmati perjalanannya, nikmati proses belajarnya. Bersenang-senanglah dan perkaya hidupmu dengan beragam pengalaman ini.

Semua hal ini mungkin terlampau banyak dan sulit untuk dipraktekkan. Ini sama sekali tidak mudah, saya pun selalu belajar dan mengingatkan diri saya akan hal-hal ini setiap hari dan terus belajar serta memberikan yang terbaik yang saya bisa.

Q: Terimakasih sekali Aryo untuk sesi Anda berbagi bersama pembaca MusicalProm, semoga berguna bagi kawan-kawan pembaca dan sukses terus untuk karirnya juga kedatangannya ke Indonesia di bulan Desember ini. Salam!


This article is the continuation of our previous interview with Indonesian-American pianist Ario Wicaksono which was published last week.

Q: With your involvement in Chamber Music America and the activism in classical music, what do you think Indonesia can learn from?
A: I think Indonesia has already had all the great tools to start its own movement and growth as a civil, respecting – tolerant – collaborative society. You have a wonderful, calm, and strategic President Jokowi. That’s a good start. All the values are there actually: collaboration – respect – learning and listening and accepting all the multiculturalism of Indonesia as a vast and diverse country.

Also please remember that my public service activities (or maybe labeled as activism) are quite wide and varied: I have been involved with several initiatives and training for young professionals at the World Bank in Washington DC, involvement with organizations such as the Art of Giving Back (artofgivingback.org), and with the Indonesian American Diaspora community, and also with the tech industry world.

I suppose, what Indonesia, or young (Indonesian, or young Indonesian musicians) people need to learn and can learn from are the following:

  1. be humble, keep learning further, be open to ideas, be hungry to learn and analyze various things that you receive and learn. Be very critical to analyze and question all of the things you learn.
  2. be very helpful, kind, collaborative, and keep giving back to others, to pay it forward, to give back to the community with everything that you’ve been given as a chance to learn, grow, and flourish.
  3. don’t be self-entitled at all, about anything. Humans only stay on earth on a very short time – in a bigger spectrum of the universe. Which means that it is important to just keep being humble, to work with others, to experience everything as a human being, enjoy life, and just keep giving back and moving forward. When one leaves this world, this plane of existence, remember what you’ll leave behind, what kind of things you’ll leave and the positive energy and legacy that you’ve left.
  4. BUT, also keep everything in perspective. There’s Gandhi, there’s Mandela, there’s even Hitler, or other dark side of humanity…. But all of these are only in the span of 30 – 50, 80, or 100 years. It’s not 1,000 years, and it’s only “ in a blink of an eye” in the bigger terms of the universe.

Q: In terms of building an ecosystem, could you please share with us what do you think is needed in Indonesia to catalyze the growth?
A: What do you mean by ecosystem? In terms of musical ecosystem or the very fabric of the society itself? I think a multidisciplinary collaboration between the governments – business / for profit sector – (music) education – arts and entertainment will catalyze this into a better future. There is always the need to stress the quality of the artistic or educational experience that you are going through, but the quantifiable results, the money matters, the economic impact of whatever that policy that you are implementing is also equally important. In the end of the day, we come back to that idea of measuring success, growth, and finding ways to put it in a context of sustainability.

Q: What skills do you think are important for our young Indonesian musicians especially if they would like to build an international career?
A: Any great success in your areas, your neighborhood, your own city is a success. An international career is important but also think of enjoying your successes, step by step. So don’t be discouraged and keep enjoying everything.

But my advice – if I can give some and hopefully it won’t be misleading and also some can apply this in their experience and career trajectory – would be:
a) TECHNICAL PROFICIENCY OF YOUR SUBJECT MATTER: know your craft, your technical abilities, your virtuosity, your knowledge deep, thoroughly, down, and wide, with absolute conviction and technical strength. This applies to your technical abilities to know how to play your Chopin and Liszt etudes perfectly at ANY given time, or your Bach, but also knowing, learning, and reading various books that will give you scholarly ideas on the musical history and knowledge, and learning about other subjects that will enrich you. In a sense, know your main craft very well, whether you are a musician, a doctor, a dancer, and so on. And then…
b) KEEP LEARNING / BE FLEXIBLE / OPEN MIND TO OTHERS: keep an open mind, learning, growing, and be kind to everyone and learn from everyone. And I mean learn EVERYTHING, not just music: you need to know music, business, travel itineraries, multiple languages, learning how to adapt to foreign cultures and customs fast, learn how to build bridges, bring people together, and more.
c) BE RESILIENT, KEEP TRYING, NEVER GIVE UP: whatever happens, keep evaluating, learning, trying to be better, and try to see if there are better ways to achieve your goals. It’s a great journey, it’s a great process. So enjoy and learn.
d) KEEP GIVING BACK, SHARING, TEACHING: keep giving back, sharing, teaching, and helping others with the knowledge that you’ve accumulated from others.
e) ENJOY AND LEARN, or I’ll just say ENJOY LIFE: in a sense, we’re trying and trying, and keep trying. But also enjoy the ride, enjoy the journey of your learning process. Have fun, and just enrich your life with all of these experiences.

These are hefty things to say and to really practice. I don’t say it’s easy at all, and I try to learn and remind myself about all of these every day, and keep learning and trying my best.

Q: Thank you very much Aryo for your time sharing your experience with MusicalProm readers. I believe it is for the benefit of our readers and all the best of luck to your career and your coming to Indonesia this December. All the best, Aryo!

Iklan
About mikebm (1246 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

1 Trackback / Pingback

  1. Aryo Wicaksono Tentang Musik Klasik di Indonesia – Bagian 1 – A Musical Promenade

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: