Kabar Terkini

IMPAC 2016: Refleksi Singkat tentang ‘Kepemilikan’ Budaya

Monica Subiantoro mempresentasikan papernya yang berjudul "The Role of Music in Raising Disability Awareness in Bali" di IMPAC 2016

~ oleh Monica Subiantoro

The International Music and Performing Arts Conference (IMPAC) 2016 merupakan konferensi internasional ke-2 yang diorganisir oleh Universiti Pendidikan Sultan Idris, Perak, Malaysia. Mengundang keynote speakers dari dalam dan luar Malaysia (salah satunya adalah Prof. A.M.Hermien Kusmayati dari ISI Jogja), konferensi ini mengupas peranan musik dan seni pertunjukan dalam memberdayakan masyarakat. Delegasi (presenters) berasal dari Malaysia, Indonesia, Filipina, Thailand, Cina, Australia, Turki, Tanzania, Norwegia, Ghana, Srilanka, Hong Kong, dan USA. Topik serupa diangkat oleh MSIA Music Cares, sebuah konferensi terapi musik yang dilaksanakan di Subang, Malaysia beberapa bulan sebelumnya. Diusungnya topik bersangkutan menunjukkan mulai meningkatnya kesadaran masyarakat musik dan seni pertunjukan di Malaysia akan peran musik dan seni pertunjukan, bukan hanya sebagai unsur estetika atau hiburan, namun juga dalam membangun ketahanan bangsa.

Yang menarik dari konferensi ini adalah format unik yang dipersiapkan oleh organiser. Misalnya untuk penelitian awal/pemula, disediakan format presentasi Pecah Ruyung, dimana presenter dapat menggali dan menerima masukan berharga dari peserta-peserta konferensi yang lain. Kemudian di hari pertama, konferensi dibuka dengan Plenary Session, dimana 3 orang praktisi seni (tari, musik, dan drama) dari Malaysia mempresentasikan karya mereka di setting yang berbeda dan menjelaskan cikal-bakal karya mereka mengedukasi dan menjangkau masyarakat. Lagi-lagi suatu tanda bahwa musik dan seni telah terintegrasi dalam sistem pendidikan di Malaysia.

Hal lain yang menarik adalah judul-judul presentasi, baik paper maupun performance, yang berkaitan dengan budaya Indonesia atau lokasi penelitian yang berada di dalam Indonesia, dan dipresentasikan oleh delegasi dari Malaysia, Thailand, USA. Kata “wayang”, “angklung”, “gamelan” bertebaran di berbagai tempat. Tak dapat dipungkiri bahwa kita dalam zona Asia memiliki kebudayaan yang mirip satu sama lain, dilatarbelakangi oleh wilayah geografis dan latar belakang sejarah. Namun demikan, apakah sebenarnya landasan ‘kepemilikan’ atas suatu budaya?

Sambil menikmati presentasi Bernard Goh dari The Hands Percussion Malaysia (www.hands.my), saya berusaha mencerna. Dari awal presentasinya, ia sudah menegaskan bahwa drum yang ia ciptakan, kendati pun mirip dengan drum Cina, bukan merupakan drum Cina. Goh menceritakan sekilas tentang latar belakangnya hidup di kampung, yang kemudian menginspirasi karakter permainan dan timbre yang dihasilkan dari drum yang mereka gunakan. Ini, menurut saya, merupakan sebuah inovasi. Namun apakah prosesnya berhenti sampai di situ, dan tinggal mematenkan drum yang ada dengan nama “Drum Malaysia”? Ternyata tidak. Goh terus bereksplorasi, terus bermetamorfosa. Dengan semangatnya mendidik pemain drum, yang kemudian dapat bereplikasi, ia terus ‘meminjam’ budaya-budaya lain dan memperkaya karakter yang telah ada. Ada suatu masa dimana ia ingin agak pemain-pemain drumnya belajar tentang kelembutan. Disanalah ia memperkenalkan dan mengkolaborasikan gamelan dalam kompilasi tabuhan drum.

Ketika gamelan muncul di layar (sebagai bagian dari pertunjukkan The Hands Percussion), saya diam-diam bangga. Tapi untuk sesaat saya ragu akan emosi saya, karena selama ini yang saya ingat adanya perang kepemilikan budaya yang terjadi antara Indonesia dan Malaysia (atau setidaknya hanya saya rasakan dari pihak Indonesia). Apakah ini respon yang benar? Apakah seharusnya saya merasa kesal? Akhirnya saya menganalogikan seorang anak yang diberi warisan rumah oleh orang tuanya. Namun anak ini tinggal di rumah lain, atau bahkan di kota lain, dan tidak memelihara rumah ini. Kemudian ada orang lain yang menghargai rumah ini, merawatnya dengan sukacita, bahkan mendekorasi dengan sangat indah. Siapakah yang layak dianggap pemilik rumah ini?

Ah, mungkin analogi yang kurang tepat. Atau anda bisa mendeskripsikan suatu analogi yang lebih akurat. Intinya mungkin saatnya kita introspeksi diri, melihat kembali warisan kita, potensi budaya yang kita miliki, ‘milik kita sendiri’, kemudian mulai mengaguminya kembali, belajar menghargainya seperti apa yang dilakukan oleh bangsa lain, menggali potensinya dan memanfaatkannya untuk kebaikan bangsa kita. Niscaya kita akan diingatkan kembali bahwa kita adalah bangsa yang kaya.

Monica Subiantoro mempresentasikan papernya yang berjudul "The Role of Music in Raising Disability Awareness in Bali" di IMPAC 2016

Monica Subiantoro mempresentasikan papernya yang berjudul “The Role of Music in Raising Disability Awareness in Bali” di IMPAC 2016

~ Monica Subyantoro adalah seorang terapis musik lulusan Anglia Ruskin University, Inggris dan kini bertugas sebagai staf pengajar peminatan Terapi Musik di Konservatori Musik Universitas Pelita Harapan dan aktif sebagai terapis musik profesional.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: