Kabar Terkini

Puji dan Syukur Paduan Suara Eliata di Usia Barunya


Dalam rangka ulang tahun yang ke-30, Paduan Suara Eliata mengadakan sebuah konser bertajuk “To God Be The Glory” di Gereja Kristus Ketapang. Paduan suara yang didirikan oleh seorang soprano Renata Lim membawakan dua lagu dari jaman yang berbeda, barok dan romantik. Paduan Suara Eliata juga berkolaborasi dengan Paduan Suara Maranatha serta diiringi Orkestra Kamar Eliata untuk bersama-sama memuji nama Tuhan dan mengungkapkan rasa syukur atas usia yang bertambah.

Konser dimulai dengan membawakan Messiah bagian 1, HMV 56 karya Georg Friederich Handel. Lagu yang terdiri atas 5 adegan dengan 21 gerakan ini menggambarkan kisah perjalanan nubuat kelahiran Yesus Kristus sampai akhirnya Dia menyelamatkan dunia. Pada lagu ini, terdapat beberapa solois yang menyanyikan satu sampai empat gerakan dari adegan yang berbeda-beda.

Gerakan pertama dimulai dengan permainan dari Orkestra Kamar Eliata yang dipimpin oleh Michael Budiman Mulyadi. Sejak dari nada pertama dimainkan, terdengar permainan yang kokoh dan kompak serta saling menyambut permainan satu seksi instrumen dengan instrumen lain. Ketika solois mulai masuk pada gerakan berikutnya, hanya dua orang di kursi depan masing-masing instrumen seksi gesek yang bermain. Suara indah tetap dapat diproduksi untuk mengiringi solois dan solois juga terdengar mantap menyanyikan tiap nadanya. Tidak lupa paduan suara yang menyanyikan juga kompak bernyanyi di gerakan-gerakan terakhir dari masing-masing adegan.

Suara sopran, alto, tenor, dan bass terdengar berpadu dengan mantap ketika paduan suara bernyanyi bersama-sama. Tiap penyanyi tampak bertanggung jawab atas tiap nada yang dinyanyikan dan dinamika juga terbentuk dengan baik. Paduan suara maupun solois tampak tertantang dengan running notes khas Handel yang banyak dinyanyikan di beberapa gerakan, khususnya dengan tempo yang relatif cepat. Meskipun demikian, baik paduan suara maupun orkestra sangat responsif terhadap petunjuk dari pengaba, sehingga ritme dan keseimbangan suara antara penyanyi dan pemain musik tetap terjaga dengan baik. Pada pengiring orkestranya, permainan cello, bass, dan harsipchord terdengar stabil dan kokoh sehingga nuansa Barok yang ingin dibawa Handel dapat tersalurkan.

Renungan singkat dibawakan oleh pendeta setelah Messiah bagian 1 selesai, dan kemudian konser dilanjutkan dengan membawakan lagu selanjutnya yaitu Te Deum Laudamus Op. 103 karya Antonin Dvorak. Berbeda dengan babak pertama yang dinyanyikan oleh solois yang berbeda-beda, pada lagu ini hanya terdapat dua solois yang bernyanyi, Martha Ongkowijoyo (soprano) dan Daniel Tjioe (Bariton). Karya dimulai dengan suara timpani dan pemain orkestra masuk dengan nuansa yang ceria. Ketika suara tiup logam mulai masuk, terdengar bahwa mereka menyambut suara dari pemain musik lainnya. Suasana gembira juga semakin terasa dengan masuknya paduan suara. Ketika solois sopran masuk, terasa kontras dinamika yang rapi sehingga suara solois terdengar manis. Solo dari seksi tiup kayu terasa ikut bernyanyi bersama dengan paduan suara dan solois sopran.

Solois bariton masuk pada bagian selanjutnya. Orkestra terlihat mampu mengikuti keinginan pengaba untuk bermain dengan lembut mengiringi solois. Penyanyi solois juga terdengar menyanyikan dengan kalimat yang cukup jelas dan intonasi yang stabil. Suara dari tiup logam dan klarinet yang menyambut solois dan paduan suara terdengar seimbang dan tidak mendominasi permainan orkestra. Gerakan-gerakan selanjutnya terdengar rapi dan musikal baik oleh paduan suara maupun orkestra. Para penyanyi tampak sedikit berhati-hati agar terjaga keseimbangan antar suara di dalam paduan suara mengingat banyak dinamika yang digarap. Akhir dari lagu yang memainkan kembali tema di awal terdengar sangat megah, lalu setelahnya disambut tepuk tangan meriah dari penonton.

Konser diakhiri dengan menyanyikan Hallelujah karya Handel. Semua penyanyi dan pemusik tampak menyanyikan dan memainkannya dengan penuh percaya diri. Setelah konser yang cukup panjang, stamina seluruh penyanyi dan pemusik tetap terjaga sehingga suara penuh ungkapan syukur terdengar mengisi seisi gereja. Tiap kalimat yang dimainkan terdengar rapi dan pengaba tampak membawa seluruh pemain agar mencapai akhir yang megah. Sesuai dengan tujuan diadakannya konser, rasa ungkapan syukur tercermin dari lagu-lagu yang dikumandangkan. Selamat ulang tahun Paduan Suara Eliata!

eliata-choir

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: