Kabar Terkini

Jakarta City Philharmonic: Pesona Romantic Jerman


15284825_10154708676646390_6308303876567407044_n

Michael Budiman Mulyadi memimpin orkes Jakarta City Philharmonic (Foto: Aurora Maramis/FB)

Resensi oleh Hazim Suhadi

Derasnya hujan yang mengguyur kota Jakarta di Kamis malam (8/12) bukanlah halangan bagi para penonton yang hendak menyaksikan pergelaran kedua Jakarta City Philharmonic (JCP) di Gedung Kesenian Jakarta. Terpancar raut wajah penuh antusiasme dari orang ramai karena konser kali ini menyuguhkan repertoar menarik yang dikemas dengan tajuk Pesona Romantik Jerman, di bawah arahan pengaba tamu, Michael Budiman Mulyadi.

Buah hasil dari kerja sama antara Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), JCP mengusung beberapa mahakarya dari komponis Jerman yang namanya tidaklah asing di telinga kita, yakni Johannes Brahms (1833-1897), Richard Wagner (1813-1883), dan Felix Mendelssohn (1809-1847).  Selain itu, penonton juga dihidangkan sebuah puisi nada (tone poem) dari komponis muda Indonesia bernama Marisa Sharon Hartanto.

Konser Pesona Romantik Jerman ini dibuka dengan mahakarya gubahan Mendelssohn berjudul The Hebrides Overture, sebuah karya yang mengilustrasikan impresi Mendelssohn pada kepulauan Hebrides di pesisir barat Skotlandia, ketika ia diundang untuk menggelar tur di Britania Raya di tahun 1829. Motif melodi utama yang suaranya menyerupai deburan ombak ini berfungsi sebagai benang merah yang menghubungkan semua tema dan ide musikal yang bermunculan di karya ini. Akustik aula Gedung Kesenian Jakarta yang sangat kering dan tidak seimbang menjadi sebuah tantangan bagi musisi-musisi JCP. Walaupun demikian, Michael Budiman dengan gerakan tubuh yang luwes dan jelas mampu mengarahkan orkes untuk menciptakan kalimat-kalimat yang sangat kohesif dan indah. Yang disayangkan adalah intonasi, terutama di seksi selo dan violin, yang masih belum terdengar stabil. Masalah intonasi pun menjadi salah satu kendala terbesar sepanjang konser ini.

Program kemudian dilanjutkan dengan From the Break of Morning karya Marisa Sharon. Serupa dengan The Hebrides Overture, Marisa menggubah sepetik motif melodi pentatonis (skala dalam musik dengan lima not per oktaf) yang tidak hanya menghubungkan suara-suara yang lain sehingga menghasilkan ruang lingkup suara (soundscape) yang utuh, tetapi juga memberikan warna dan suasana yang sangat eksotis. Di tangan Michael Budiman, pemain-pemain orkes bisa menciptakan jenis suara (tone) yang beragam dan yang membaur satu sama lain.

Babak pertama ditutup dengan musik insidental gubahan Wagner, yaitu Prelude dari salah satu operanya berjudul Tristan und Isolde. Karya ini sangat menarik karena pergerakan akor (harmonic progression) yang tidak memiliki resolusi yang pasti; akor disonan disusul dengan akor disonan yang lainnya, dan pola ini terus diulang hingga akhir lagu. Di bawah ayunan tongkat Michael Budiman, orkes terdengar bisa menikmati harmoni-harmoni eksotis ini dengan pengambilan waktu (pacing) dan nafas yang sangat rapi dan organik. Namun, yang perlu diberikan perhatian khusus adalah bagian akhir (denouement) setelah klimaks terakhir; bagian yang seharusnya lebih introspektif terdengar masih terlalu aktif, seolah-olah adrenalin dari klimaks yang terakhir belum reda dan cenderung ingin mendorong laju koda.

Setelah istirahat, konser ini dilanjutkan dengan Symphony No. 3 karya Brahms, yakni simfoni yang paling dikenal dan juga yang terpendek dari empat simfoni yang ia gubah. Terdiri dari empat bagian, simfoni ini mempunyai ciri khas yang bersifat heroik dengan akor-akor yang lantang dan not-not bertitik yang menyerupai sebuah mars. Sayangnya, orkes terdengar kelelahan dan kehilangan konsentrasi di bagian pertama, tetapi intonasi dan suara lebih menyatu di bagian-bagian berikutnya. Pengambilan waktu pada umumnya juga cukup baik, tetapi infleksi kalimat seperti suspensi di melodi dan juga penutupan frase di kadens bisa lebih rapi sehingga musiknya bisa bernafas.

JCP tergolong orkes yang sangat muda walaupun beberapa musisi yang tampil pada konser ini sudah sering tampil di panggung di Jakarta sejak lama. Oleh sebab itu, penekanan pada kedisiplinan dan kerja keras harus dijaga agar Jakarta City Philharmonic bisa menjadi salah satu orkes di Indonesia yang paling disegani. Konser ini hanyalah satu dari sekian banyak konser yang akan dimainkan, dan semoga JCP edisi 3 bisa tampil lebih prima dan konsisten.

15285079_10154708676831390_2166366739998703456_n

Menutup acara Pesona Romantik Jerman (Foto: Aurora Maramis/FB)

Iklan
About Hazim Suhadi (13 Articles)
I'm a classical pianist, but in my spare time I'd like to do things that musicians don't normally do, like rock climbing in the highlands of Dieng or eating at kaki-lima by the dusty streets saturated with commuters. I enjoy a drink or two with good company. So hit me up!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: