Kabar Terkini

Apakah Musik Pop Jalan Memahami Pendidikan Musik?


Bercermin dari tulisan Felicia Satyadi tentang Metode Kodaly yang menganjurkan penggunaan musik rakyat sebagai materi pendidikan musik dalam tulisan sebelum ini, terbersit bagaimana praktek pendidikan musik di Indonesia saat ini terutama dalam pendidikan dasar. Apakah musik rakyat masih menjadi primadona dan dapatkah musik populer menjadi materi pendidikan musik yang justru lebih ampuh?

Diskusi yang dikemukakan Zoltan Kodaly di Hungaria lebih dari seratus tahun yang lalu sebenarnya bukan sekedar mengangkat pamor musik daerah namun lebih kepada pentingnya pendidikan musik yang berakar pada budaya sendiri yang telah lekat sebelumnya. Lebih dari seratus tahun yang lalu, banyak materi pendidikan musik memang lebih berkiblat pada musik yang dibangun lewat tradisi komposisi Austro-German yang berpegang pada tradisi Bach, Haydn, Mozart juga Beethoven yang sebenarnya bahkan untuk ukuran Eropa dan Hungaria seratus tahun yang lalu sangat jauh baik secara geografis, kronologis maupun sosiokultural. Tantangan yang tentunya semakin lebar apabila ditarik dalam konteks Indonesia masa kini.

Oleh karenanya, untuk Hungaria di akhir abad 19, Kodaly mengharapkan bahwa perkembangan musik terutama untuk pemula yang berada di Hungaria berdasarkan kekayaan materi yang telah ada secara lokal dan tidak perlu lagi terus-menerus bercermin pada materi dari tradisi lama Austro-German. Karenanya komponis dan pendidik diharapkan awas dalam mengidentifikasi lagu-lagu rakyat yang telah ada dan dekat dengan masyarakat dan peserta didik. Mereka pun dituntut untuk peka terhadap kekayaan musikal yang ada dan mampu mengadaptasikan dan menggunakannya dalam praktik pendidikan musik. Kedekatan kultural menjadi kunci utama yang menggerakkan pendekatan pendidikan musik yang dirasa Kodaly akan lebih mampu meningkatkan minat dan mempercepat pembelajaran.

Namun pertanyaan untuk anak Indonesia masa kini, kedekatan musikal apakah yang mampu menjadi jawab akan tuntutan pendidikan masa kini. Kodaly ketika mengemukakan pernyataan ini sebenarnya berusaha untuk melihat kekayaan musikal yang ada di luar tradisi sebaga kunci pendidikan musik. Di sela semakin miskinnya keberadaan lagu anak  di Indonesia masa kini dan semakin jauhnya kontak sebagian besar generasi muda dengan musik rakyat dan musik etnisnya, penggunaan musik daerah dan musik etnis sebagai materi dasar pendidikan musik dapat semakin dipertanyakan efektivitasnya. Pernyataan Kodaly akan musik rakyat pun juga perlu diuji kembali keabsahannya dalam beberapa tahun terakhir ini, terutama dalam konteks Indonesia kini. 

Lantas musik apakah yang jadi primadona kini? Tanpa mengeneralisir, semakin berkurangnya kegemaran akan lagu anak-anak dan juga semakin terlepasnya anak-anak dari identitas kedaerahan dan etnisitas dalam musik rakyat, bisa jadi kedua jenis musik ini tidak lagi menjadi andalan. Justru musik populer Indonesia lah yang menjadi primadona. Seberapa banyak anak-anak yang lebih fasih bernyanyi lagu dangdut populer untuk orang dewasa dibandingkan lagu daerahnya, tentunya tidak sedikit. Demikian juga dengan anak-anak yang lebih mampu bernyanyi lagu populer, ketimbang lagu rakyat yang mungkin lebih banyak dijumpainya di sekolah.

Untuk Indonesia yang sangat plural, pendekatan musik layak dan materi musik rakyat juga menjadi sulit karena kedekatan kulturalnya juga semakin dipertanyakan karena keberagaman yang ada. Musik populerlah yang malah memiliki sebaran yang lebih luas dan mengena di hampir seluruh sudut. Seberapa banyak anak-anak yang kemudian lebih memilih untuk tergila-gila dengan musik populer? Juga sangat banyak, terlebih di kalangan remaja.

Peran serta pendidik kini menjadi penting untuk juga mengakomodasi musik populer sebagai sebuah jawab akan pentingnya materi yang dekat secara kultural dengan peserta didik. Lagu-lagu populer dapat dipilih dengan sungguh agar sesuai dengan kelompok umur dan juga kebiasaan bermusik yang ada di daeeah tersebut. Musik populer yang lebih merakyat disertai juga dengan rangkaian musik yang lebih familiartenrunya akan memudahkan proses belajar musik apabila pendidik mampu menganalisa materi yang dimilikiny

Di satu sisi memang ini adalah bukti semakin menyeruaknya musik populer, tapi di sisi lain ini adalah bukti bahwa globalisasi semakin mempercepat proses industrialisasi budaya yang mungkin juga perlahan menyeruak masuk dalam pendidikan musik. Mungkin hal ini tidak pernah diperkirakan Zoltan Kodaly sebelumnya. Budaya populer dan pendidikan seni perlahan bercampur. Sangat mungkin!

 

Iklan
About mikebm (1246 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: