Kabar Terkini

Ketika Kuliahan Musik Kalah dengan Les-lesan


Beberapa kawan mahasiswa musik maupun lulusan muda tidak sedikit yang mengeluhkan bahwa di Indonesia mereka yang lulus kuliah musik dipandang sebelah mata dan bahkan dalam lapangan pekerjaan harus bersaing ketat dengan mereka yang ‘hanya’ lulus les-lesan (kursus). Tidak sedikit yang kemudian mengeluhkan lapangan kerja dan prospek untuk berkuliah musik ke depan. Persoalan ini sebenarnya menarik untuk disimak dan dikupas lebih lanjut sembari memahami natur dari luasnya cakupan kehidupan musik itu sendiri.

Di Indonesia, musik memang belum menjadi sebuah bidang ilmu yang dihormati ataupun dianggap serius oleh masyarakat. Jujur saja memang sangat sedikit bidang keilmuan musik yang digarap oleh peneliti di Indonesia. Alhasil, bidang keilmuan ini memang tergolong agak terpinggirkan dibandingkan bidang ilmu lain. Musik pun seringkali mendapat cap sebagai sebuah keahlian bermain musik tanpa ada sedikitpun elemen keilmuan di dalamnya.

Celakanya banyak institusi pendidikan musik dalam tataran pendidikan tinggi pun demikian. Pendidikan tinggi musik hanya sibuk mencetak musisi-musisi terampil dibandingkan dengan mencetak kaum intelektual dan cendekiawan di bidang musik dan keilmuannya. Sangat banyak yang berinspirasi menjadi musisi panggung tapi sedikit sekali yang memahami betul aspek teoritikal dan juga keilmuan yang lain. Memang dapat dikatakan bahwa menjadi musisi lebih menghasilkan nafkah dibandingkan keilmuan yang belum bertunas ini.

Karenanya sangat tidak jarang, musisi lulusan perguruan tinggi musik akhirnya harus bersaing dengan les-lesan. Banyak tempat kursus maupun studio musik di Indonesia memang secara khusus menekankan aspek praktis dalam bermusik dan tidak sedikit mendapat kesempatan untuk menggarap talenta musik semenjak dini dan menelurkan instrumentalis yang handal. Demikian juga dengan beberapa sekolah menengah kejuruan musik yang banyak berfokus pada keterampilan bermain musik. Tenaga ini yang akhirnya langsung berhadapan dengan lulusan perguruan tinggi musik.

Lantas apa yang seharusnya membedakan lulusan perguruan tinggi musik dengan lulusan sekolah menengah musik ataupun kursus musik? Untuk menjawab pertanyaan ini, analogi yang sama juga perlu diambil: apa yang membedakan lulusan Sekolah Teknik Mesin dengan Sarjana Teknik Mesin? Yang menjadi pembeda utama justru bukan keterampilan mereka mengulik mesin, namun dalam kelengkapan berpikir secara kritis dan akademis dalam bidangnya masing-masing. Selain itu khasanah keilmuan dalam bidang tersebut menjadi sangat sentral. Di bidang teknik mesin bisa jadi lulusan STM lebih mampu memperbaiki mesin kendaraan, namun sang sarjanalah yang merancang si mesin dan bahkan mengampu ilmu perancangan dan teori. Dengan demikian sang sarjana berada dalam level dan ruang lingkup yang berbeda dan tidak saling berhadapan langsung dengan lulusan STM.

Bagi para musisi yang berpusat pada kegiatan praktis, memang kemampuan bermusik bisa jadi menjadi utama namun dengan pendekatan teoritis yang kuat, pemusik yang telah mengalami pendidikan tinggi formal diharapkan mampu menjadi pengampu ilmu yang kemudian juga memperdalam pendekatan dan interpretasinya akan musik dan bukan hanya sekedar kuli bermusik yang membunyikan nada tanpa memahami konteks teoritis, fisis dan bahkan sosial historis dari nada-nada yang ia bunyikan tersebut.

lecture1

Apabila perguruan tinggi musik abai dalam pengembangan keilmuan, lulusan pun tidak akan memiliki nilai tambah di dalam dunia praktis. Dengan demikian selamanya seorang lulusan sarjana musik hanya akan terus bersaing dengan mereka yang berbakat dan tekun meski hanya menempuh jalur pendidikan informal, dalam persaingan yang bahkan tidak tentu mereka menangkan.

Mencetak cendekiawan musik adalah sangat penting, selain dari mencetak musisi (vokalis maupun instrumentalis) yang handal. Di beberapa negara bahkan jalur yang dijalani dalam pendidikan musik bisa sangat berbeda. Banyak musisi ternama dunia tidak pernah mengecap pendidikan formal musik dan ‘hanya’ dididik oleh guru yang luar biasa serta mungkin dibekali talenta tumpah ruah. Namun banyak juga yang memperdalam musik lewat akademi musik atau sekolah tinggi musik yang merupakan pendidikan tinggi namun berpatok pada aspek praktis dalam ranah pendidikan diploma yang seringkali memakan waktu lebih dari empat tahun. Pembekalan teoritis tetap diberikan meski penekanan khusus diberikan untuk aspek teknis sehingga dahulu dianggap sebagai sertifikasi diploma. Lain lagi dengan jalur universitas yang menekankan aspek keilmuan yang memperdalam teori dan praktek namun memberikan penekanan pada aspek akademis seperti penelitian dan teori.

Di beberapa negara beberapa penampil hebat muncul dari lulusan akademi musik. Namun dengan semakin berkembangnya aspek keilmuan dan praktis musik, kita juga melihat penampil yang juga luar biasa hebat yang dibekali aspek akademis yang juga mumpuni dan bahkan lahir lewat kecimpungnya di dunia keilmuan. Banyak cendekiawan musik kuno (periode renaisans dan barok) mendasari karir pertunjukan mereka dengan dasar keilmuan dan riset yang luar biasa mendalam tentang musik dan mencoba menghidupkan pengalaman tersebut lewat pertunjukan.

Di sini masing-masing dari pendidikan tinggi musik akhirnya terlihat dari bagaimana keilmuan tersebut dijunjung tinggi dan menjadi pembeda dengan kalangan yang tidak melalui pendidikan tinggi. Memang benar sektor kreatif seperti musik tidak memiliki batasan sama sekali akan tenaga kerjanya, siapapun yang kompeten dan siap kerja akan lebih mudah untuk mengamankan kesempatan yang datang.

Pertanyaan besar adalah sudahkah kuliah musik di Indonesia memberikan penekanan pendidikan yang sesuai dan tepat sesuai dengan aspirasi peserta didik? Dan sudahkah pendidikan tinggi sungguh menjadi nilai tambah bagi para aspiran musik di Indonesia?

Iklan
About mikebm (1289 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: