Kabar Terkini

(Paduan) Suara Pemuji Liturgi Katolik – Nasibmu Kini


~Menyambut Natal, JC Pramudia Natal berbagi tentang keprihatinannya akan praktik bermusik di gereja Katolik Indonesia (Red.)

~ oleh JC Pramudia Natal

Pada Natal tahun ini penulis membayangkan bagaimana seandainya para malaikat yang memuji kelahiran-Nya di hadapan gembala berasal dari Indonesia. Jika gegap gempita, mereka mungkin alumnus PS-PS Indonesia yang berdigdaya di kompetisi-kompetisi mancanegara. Jika mereka justru sibuk milih lagu apa aja yang harus dinyanyikan, nah ini baru umat Gereja Katolik Indonesia, lho kok?

Sebelum dilanjutkan penulis mengajak pembaca menyimak dua pendapat dari kolega penulis mengenai liturgi gereja. Kedua pendapat ini menggambarkan betapa Liturgi Gereja Katolik bila dijalani secara konsisten memeranguhi pelakunya.

Pendapat pertama datang dari pastur seniman dan musikolog liturgi, Antonius Soetanta SJ, hasil obrolan beliau dengan salah seorang pengaba ternama Indonesia yang kebetulan Muslim. Katanya lebih kurang seperti ini, “Ia nyeletuk ke saya bahwa ia sangat disiplin sholat lima waktu, terutama karena ia terjaga akan bidangnya dimana dia harus mengaba lagu-lagu berlatar Katolik. Gak kebayang kalau gua gak sholat, kata dia”, tukas Romo mengenai pengaba tersebut.

Pendapat kedua diucapkan langsung oleh teman kampus penulis, “ Gua berpindah agama karena jujur aja gua gak tahan dengan tata tertib gereja Katolik. Semua diatur, kapan duduk, kapan nyanyi, kapan bungkuk”.

Benang merah dari kedua pendapat yang berbeda ranah tersebut adalah, kehadiran sistem tata nilai yang kuat mengatur liturgi Katolik. Dan kekuatan sistem ini diakui oleh mereka yang berada di luar liturgI Katolik. Namun apakah memang tata nilai gereja Katolik masih sekokoh sebagaimana yang dipersepsi dua pendapat di atas, terutama terhadap aspek (para) Pelantun Nyanyian Liturgis dan Nyanyian Liturgis?

Bahwa penulis mengangkat ini di ranah public adalah karena mengingat harta karun komposisi (khususnya Paduan Suara) dan karya komponis berlatar gereja Katolik merupakan soko guru dan fondasi komposisi musik seni yang telah diakui publik secara ilmiah, maka justru tanggung jawab untuk merawat dan mengembangkannya pertama-tama adalah di tangan umat Katolik. Mengingat peran tersebut, sungguh ironis jika kedigdayaan kelompok Paduan Suara Indonesia di kancah Internasional yang tengah mencuat selama dua dekade terakhir tidak diimbangi dengan kemerataan peningkatan kualitas kemampuan dan etos kelompok-kelompok PS (berbasis) Gereja Katolik (di) Indonesia.

Jauh Panggang Dari Api, Lagu Segudang Penyanyi Terpinggirkan

                Pelantun Nyanyian Liturgis di dalam gereja Katolik dimotori oleh kelompok paduan suara. Krusialnya peran paduan suara dan usaha-usaha untuk menumbuh-kembangkan paduan suara gereja (terutama di katedral dan gereja besar dan bersumber-daya) dikumandangkan dalam Kirograf Musik Kudus Paus Johannes Paulus II dan Sacrosanctum Consilium Paus Paulus VI. Berdasarkan info dari beberapa kawan ahli musik gereja dan klasik barat, beberapa paroki telah cukup rajin mengadakan pelatihan atau lokakarya berpaduan suara liturgI, namun semua perhelatan tersebut bersifat parokial. Hal ini menyebabkan kesenjangan kualitas Paduan Suara antar paroki , bahkan dari suatu regional/keuskupan yang sama.

Tantangan semakin berat karena di satu sisi usaha untuk mengembangkan kemampuan (pengetahuan dan pemahaman) penyanyi sedemikian rendah, namun perbendaharaan lagu yang didapuk sebagai liturgis justru bertambah. Di tahun 2012 dan 2014 ada dua perhelatan besar terkait penambahan perbendaharaan lagu liturgi. Lomba Cipta Lagu Liturgi KAJ 2012 berbuah buku nyanyian Gema Ekaristi, dan Mobilisasi Komponis Katolik untuk Buku Doa dan Nyanyian Liturgi Anak SeIndonesia. Dua perhelatan komposisi liturgis akbar terkoordinir dalam selang dua tahun, sementara di paroki-paroki banyak anggota paduan suara yang merasa bahwa bernyanyi itu lebih ideal dengan posisi berdiri karena “perut” jadi lebih banyak ruang, dan pengaba sekadar menjadi wasit mana lagu yang perlu dilatih notnya dan dengan santainya nyeletuk “akh sudah bisa, kita lewatin”.

Fakta dangkalnya kemerataan kemampuan penyanyi dan pengaba paduan suara gereja Katolik menjadi begitu tragis jika kita kembali kepada ujaran dua insan non-Katolik di paragraf pembuka. Bahwa pengaba atau pelantun paduan suara berbasis non-Gereja Katolik justru bisa membedakan ejaan untuk lema “quam” (dieja “kvam” apabila komponis berbahasa ibu Jerman dan “kwam” apabila komponis berbahasa ibu Italia) yang mencerminkan kedalaman latihan, sementara pengaba dan penyanyi gereja Katolik justru acap kali acuh saja dengan karakter lagu yang dicontohkan dengan gampangnya menaik-turunkan nada lagu hanya karena “oh itu kan untuk suara rendah, suara saya tinggi”.

Jika Kau Gagal Berencana, Kau Berencana Gagal

Bahwa ada perhelatan untuk mengakomodasi komponis dan komposisi baru lagu gereja juga bukan berarti bahwa otomatis komposisi lagu gereja baru lebih berkualitas dari penyanyi dan pengabanya (lebih banyak, mungkin).

Bandingkan standar yang terdapat di Mobilisasi (karena istilah ini yang penulis rasa cocok dengan usaha menarik minat para)Komponis Katolik Indonesia dengan standar lagu gereja dari Keuskupan Wollongong, Australia.

Tiadanya usaha regional yang terkoordinir untuk “meningkatkan kemampuan para penyanyi di bawah para ahli” (Sacrosanctum Consilium: 115) dan kaburnya kriteria komposisi yang digunakan saat mengundang partisipasi umat menimbulkan sejuta kekhawatiran di benak penulis, ke mana arah musik liturgi gereja Katolik Indonesia?

Kriteria Komposisi Lagu Liturgi Anak dari Kawali

KRITERIA SYAIR

1. Selaras dengan ajaran Katolik, yang bersumber dari Kitab Suci, Tradisi, dan sumber-sumber Liturgi (bdk. Sacrosanctum Concilium 121).

2. Memakai Bahasa Indonesia yang baik dan benar, mudah dimengerti oleh anak-anak, dan menggunakan perbendaharaan kata yang lazim digunakan.

3. Boleh menggunakan teks-teks liturgi berbahasa Latin.

 

KRITERIA MUSIK

1. Melodi original dan belum pernah diterbitkan dalam bentuk buku.

2. Wilayah nada: a-d”.

3. Menggunakan interval melodi yang bisa dan baik dinyanyikan.

4. Menggunakan melodi dan tangga nada yang cocok dengan selera anak-anak.

5. Lagu-lagu yang diciptakan boleh bercorak inkulturatif.

6. Keserasian:

o Karakter: syair dan melodi selaras.

o Frasering: pemenggalan kalimat melodi sesuai dengan kalimat syair.

o Aksentuasi: tekanan melodi sesuai dengan tekanan suku kata (lihat Puji Syukur halaman: 770).

 

 

Pedoman Musik Dalam Misa Keuskupan Wollongong Australia– Bentuk Lagu Katolik

Liturgical Song Forms

Liturgical song is music wed to prayer text. The liturgy comprises a variety of different

forms of prayer, each requiring a different song form for musical expression. Each part of

the Mass takes one of the following seven forms:

A – An acclamation is a spontaneous joyful vocalisation sung by all, accompanied or

unaccompanied.

C – a cantillation is a kind of spoken singing, usually unaccompanied, where the melody

and rhythm is close to that of speech. It is used when prayers, readings and

proclamations are sung instead of recited. Cantillations are sung by the priest celebrant

or other minister and conclude with an acclamation of assent sung by all.

D – A dialogue between priest and people is used at the start of the Mass, and to

introduce each major part – the Gospel, the Eucharistic Prayer, the Communion, and the

dismissal. Dialogues are sung unaccompanied.

H – A hymn is a song of praise with no other accompanying liturgical action. There are

only two hymns in the Mass, and they are not always sung. Singing of the “Glory to God”

is by the choir or cantor alternating with the people, or entirely by the people or entirely

by the choir alone (GIRM 53). If there is a song of praise after communion, singing is by

the entire assembly (GIRM 88).

L – A litany is a prayer with a series of invocations or intercessions sung by a cantor or

other minister, with a repeated response sung by all.

P – A processional song is one that accompanies another liturgical action. Songs with

refrains and a variable number of verses are most appropriate. The beginning and ending

should match the liturgical action. Singing is by the choir or cantor alternating with the

people, or entirely by the people, or by the choir alone; alternatively, an instrumental

solo may be played instead of singing a song (GIRM 48, 74, 87, 313; MS, 36, 66-67).

R – The responsorial psalm is sung scripture with no other accompanying liturgical

action. All sing the psalm response at the beginning and after each verse; the cantor of

the psalm sings the intervening verses. The texts are prescribed, with options to use the

given psalm of the day or one of the common seasonal psalms or antiphons in the

lectionary, or a chant from the Graduale Romanum or the Graduale Simplex (GIRM 61).

 

Pedoman Musik Dalam Misa Keuskupan Wollongong Australia – Rubrik Lagu Misa

Pedoman Musik Dalam Misa Keuskupan Wollongong Australia – Rubrik Lagu Misa

Saran Dan Hanya Sekedar Saran

Bila memang (kelompok paduan) suara memegang peranan penting dalam liturgi, ya dirawatlah. Kawali sebagai “orang tua” umat Katolik Indonesia seyogyanya mensensus dan berkoordinasi dengan ahli olah suara dan abaan Katolik (dan Non-Katolik?) untuk kemudian merancang suatu kalendar pengembangan talenta.

Untuk bidang komposisi (yang kelihatannya jauh lebih terakomodasi luapan antusiasmenya untuk berekspresi) perlu dibina ke arah yang lebih fondasional dan bersumber historis (tradisi gereja awal). Hal ini supaya komponis baru tidak hanya tahu dan terampil mengadopsi gaya tangga nada dan harmoni dari budaya Nusantara untuk teks berbasis doa/Latin, namun juga paham dan bervisi akan (pelbagai kemungkinan) korelasi tradisi liturgi doa Latin dengan inovasi liturgi saat ini. Kehadiran korelasi tradisi dan inovasi di dalam komposisilah yang mencerminkan keagungan dan kekayaan nilai gereja Katolik.

Akhir kata, memang Bayi Yesus lahir dalam malam syahdu di dalam kandang hina, namun ingat kidungan megah Paduan Suara Malaikat yang membuat para gembala tergopoh-gopoh menyembahnya. Dan tentu saja kidungan megah itu dihasilkan oleh sistem dan koordinasi yang terencana jelas dan terlaksana disiplin, bukan sekadar ekspresi luapan emosi keberimanan sesaat.

Selamat Natal 2016.

~ JC Pramudia Natal adalah Pengajar Musik di Jakarta dan Tangerang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: