Kabar Terkini

Sing, Refleksi Musikalitas Tiap Individu


~ oleh JC Pramudia Natal

Sejak memirsa cuplikannya kurang dari setahun lalu penulis telah berikhtiar untuk menonton film Sing. Rasa penasaran ini semakin menjadi ketika tepat di masa awal tayangnya beberapa kolega pengajar di berbagai sekolah mengunggah status mereka menonton dan komentar singkat mereka bahwa lagu-lagunya jauh lebih berat dibandingkan rival tampilnya, Moana. Namun ternyata semua keingintahuan dan komentar tadi tidak menyiapkan penulis untuk apa yang akhirnya penulis pirsa, simak, dan petik dari film Sing.

Begitu padatnya pesan subliminal dalam film animasi tersebut (untuk ukuran rating Segala Umur di Bioskop Indonesia, IMDB lebih bijak dengan memberi rating BO) membuat penulis perlu menyampaikan di awal bahwa dalam tulisan ini penulis akan berfokus kepada refleksi realita seniman musik amatir yang dicoba disajikan oleh Sing. Penulis akan berusaha sebisa mungkin menghindari interpretasi aspek benturan nilai budaya dan perspektif pedagogi yang juga sangat padat dalam film refleksi musikal tersebut.

Refleksi Musikal?

Musikal secara etimologis berarti sesuatu yang bersifat musik. Mohon bedakan dengan arti literer musikal bahwa sebagian besar dialog dilagukan (dijadikan memiliki aspek musik). Dalam konteks ini aspek reflektif memenuhi keseluruhan film Sing. Secara implisit setiap (bahkan semua) karakter memiliki musikalitasnya.

Buster Moon sang direktur visioner Gedung Teater, Johnny Gorilla si penyanyi berbakat yang sempat les piano sedikit saat ia kecil namun harus mengikuti arahan ayah dominator (merasa akrab dengan latar ini?), Rosita Babi sang ibu cendekia (membuat mesin rumah tangga dalam semalam? Pasti ekskulnya klub Sains semasa sekolah) yang meredam hasrat musikalnya demi keluarga ideal, Ash Landak rocker perempuan wakil generasi Indie, Mike Tikus sarjana musik yang sayangnya (anehnya) mengidap materialisme akut, Gunter Babi pasangan panggung Rosita seniman-kontemporer holistik (nyanyi-dansa-leotard-dan berlatar aufklarung), dan Meena Gajah si remaja akil baliq (senantiasa dilematis antara ingin berbagi suaranya dan berdiam terhadap ketakutannya) pengelon penyuara kuping.

Dari semua karakter inti di atas, hanya Buster yang memang profesional di bidang semua pertunjukan, selain dia semua karakter digambarkan sebagai amatir (bahkan si S. Mus Mike yang begitu dapat uang langsung memilih bermewah-mewah). Bahkan di akhir cerita hanya dijelaskan bahwa semua turut menghadiri pembukaan resmi gedung teater yang telah dibangun. Apakah mereka memilih musik sebagai profesi? Que sera sera. Mengapa amatir ini begitu dimunculkan?

Kolaborasi Amatir-Profesional

Barbara Bonney, soprano lieder dunia saat memberikan sesi pelatihan bagi penyanyi amatir menekankan bahwa amatir secara etimologis mereka yang mencintai hal itu (yang mereka lakukan)” yang berarti musisi amatir dimaknai sebagai mereka yang melakukan musik semata karena mereka mencintai itu, imbalan atas tindakan itu sama sekali tidak dipikirkan. Secara eksplisit pesan Bonney disampaikan oleh Buster saat ia menyemangati Meena, “Jangan pernah rasa takut menghalangi engkau melakukan apa yang kau cintai”. Secara implisit amatirnya kelompok penampil tersebut ditunjukkan ketika mereka (tentu saja minus Mike sang tikus matre) membujuk Buster untuk tetap mengadakan pertunjukan walau gedung pertunjukan sudah runtuh sepai.

Dalam titik kulminasi bahwa tidak ada tempat bagi kaum amatir (gedung pertunjukan hancur, ketiadaan biaya) di dunia saat ini yang terus maju (habis tenggat pinjaman bank, gedung teater sepi sementara klub malam ramai, kejahatan dan kemewahan berjalan beriring) Sing menyoroti peran yang diambil oleh musisi senior, professional, beranah seni.

Dikisahkan seorang biduan yang telah purna-karya, Nana Noodleman, akhirnya menjadi patron dari gedung teater dengan membelinya dari jaminan bank dan membiayai pembangunan. Secara eksplisit tokoh Nana digambarkan sebagai domba kaya yang susah bergaul namun terjebak dalam lingkungan elit yang ia buat sendiri, dan secara implisit menyentil peran musisi seni senior profesional dalam dua lagu yang digambarkan mewarnai karir Nana Golden Slumbers – Carry That Weight (oleh The Beatles – mewakili ranah Pop) dan O Mio Babbino Caro (karya Giacomo Puccini – mewakili ranah Seni).

Sentilan profesionalitas dan musik seni semakin mengena mengingat hanya dua kali musik seni dipercaya untuk tampil dalam Sing, satu O Mio Babbino Caro yang mewarnai kisah Nana, dan satu lagi Nessun Dorma yang mewarnai usaha nadir Buster (sang direktur teater), Crawly Iguana (asisten Buster, pembantu umum teater, dan tutor piano), Eddie (sobat Buster) untuk bangkit kembali. Dan tidak bisa lebih gamblang bahwa kedua karya tersebut lahir dari maestro komponis opera pembuka abad 20, Giacomo Puccini.

Di Persimpangan Jalan? Percaya Kepada Cinta dalam Hati

Memang para penampil pungkasan tidak ada yang menampilkan musik seni sama sekali, namun hal ini perlu direfleksikan kepada sifat amatir yang telah didiskusikan sebelumnya. Kecintaan (amore-mencinta, amo – saya cinta, ama – ia cinta) para penampil terhadap musik ditunjukkan dengan kemauan mereka untuk tetap tampil bukan karena imbalan, tapi karena untuk diri – panggilan hati – mereka sendiri.

Untuk sesuatu hal yang butuh pengorbanan besar (Johnny meninggalkan ayahnya), kejujuran dan integritas diri (Rosita-Gunter Babi, Meena Gajah), kesedihan ditinggal orang tercinta (Ash), dan bahkan sepenggal neurotisitas dalam kepribadian egosentrik (Mike).

Selain dari konflik batin para penampil dan kolaborasi Nana-Buster, refleksi kebersenian Sing sukses dipropagandakan dalam 20 menit terakhir film. Sesuatu yang usang membutuhkan kebaruan, dan hanya dari biji mati benih baru akan lahir. Mereka tampil di reruntuhan bekas gedung teater, membuka gratis pertunjukannya, dan mengaransemen ulang musik yang ditampilkan (dengan diiringi Eddie, sang joki cakram yang baru menemukan arti hidup setelah sebelumnya hanya tahu menikmati kemewahan warisan orang tua).

Lima hal di atas (konflik batin penampil, kolaborasi musisi amatir-profesional dan seni-pop, komitmen menampilkan yang terbaik, keterbukaan pasar, dan inovasi karya seni) sukses mengobati tidak diwakilinya musik seni secara penampilan langsung, dan seolah-olah memberikan pertanyaan reflektif kepada penonton, bagaimana kelanjutan karir mereka? Apa mereka tetap di jalur pop atau melebarkan diri ke musik seni? Apa selanjutnya yang akan ditampilkan di gedung teater tersebut? Ingat, Max Onta si Biduan Seriosa terkena kecelakaan sehingga tidak tampil di malam akhir. Semuanya masih terbuka untuk refleksi dan interpretasi kita.

Secara historis, Rumah Produksi Ilumination yang memroduksi Sing memiliki rekam jejak film animasi “yang membawa pesan sosial kuat” (Horton Hears A Who, Robots, The Simpsons Movie, The Lorax, Trilogi Despicable Me). Semoga Sing menjadi awal dari banyak film musik berefleksi sosial yang diproduksi oleh Ilumination, dan menjadi standar bagi film musik lain.

Selamat Tahun Baru dan mengulang Buster dan Barbara Bonney
“Beranilah melakukan apa yang anda cintai! Hidupkan keamatiran anda!”

~ JC Pramudia Natal adalah pengajar musik di Jakarta dan Tangerang

http://www.sarahinthesuburbs.com/wp-content/uploads/2016/11/sing-3.jpg

Iklan
About mikebm (1198 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: