Kabar Terkini

Penciptaan Karya dan Refleksi Kritis Akademis: Pseudosains?


Seorang komponis duduk termenung di depan pianonya. Pensil di tangan, dan selembar kertas terbentang di depannya, bagai kertas buram penuh dengan coretan dan tulisan.  Ide-ide dan nada terbersit di pikiran sembari diujikan di atas piano. Perlahan not-not pun terbubuhkan, dan karya musik pun perlahan hadir.

Proses penciptaan karya seakan terselubung dalam misterinya sendiri. Para komponis digambarkan sebagai makhluk kreatif yang serebral, berpikir dan termenung, menuliskan karyanya dengan ditemani lampu temaram di malam hari. Mungkin inilah imaji romantik dari seorang komponis jenius yang menyendiri. Lalu apakabar dunia penciptaan dalam tataran akademis? Mungkinkah kreativitas dinilai dan dibingkai dalam proses akademis?

Namun nyatanya saat ini bisa jadi berbeda, tidak sedikit komponis yang sibuk bekerja di depan komputer, melakukan manipulasi data dan bahkan mengolah audio, video, notasi dan koreografi sekaligus. Ya, komponis kini memiliki pendekatan yang beragam atas proses penciptaan mereka. Dunia musik kontemporer justru melihat lebih banyak gebrakan dan keunikan yang tergambar dalam karya-karya seniman ini.

Dengan semakin beragamnya proses kreatif dan semakin diakuinya proses kreatif dalam tataran akademis dan keilmuan, penciptaan dalam tataran akademis juga dituntut untuk masuk dalam kerangka berpikir kritis yang didahului dengan proses refleksi diri yang seksama dan kemudian disikapi secara kritis oleh si pelaku sendiri. Proses refleksi secara kritis inilah yang kemudian menjadi sebuah pembahasan sendiri yang independen dan valid bahkan di mata akademisi sekalipun.

Proses kreatif meskipun seringkali penuh misteri dan dituduhkan tidak ilmiah. Pseudosains, demikian celetuk berbagai pihak yang tidak memandang fenomena proses kreatif secara menyeluruh. Namun sesungguhnya, proses refleksi yang kritis memiliki nilai validitasnya tersendiri yang menyebabkan ia memiliki muatan ilmiah yang justru tidak biasa dan memiliki dimensinya tersendiri.

Kicau pertentangan subyektivitas dan obyektivitas hanyalah berlaku bagi mereka yang tidak menyadari bahwa subyektivitas inheren dalam pengamatan yang diklaim paling obyektif sekalipun. Dalam refleksi yang terkesan subyektif ini, pendekatan yang obyektif dalam kritik yang seksama memberikan warna obyektifitas yang membuat pendekatan ini layak disebut sebagai proses yang ilmiah. Proses ilmiah ini bisa jadi personal dan memiliki cakupan yang khusus tentunya tidak mengubah validitasnya sebagai sebuah fenomena yang dapat diteliti.

Pendekatan ini yang kemudian menjadikan proses refleksi kritis dalam penciptaan karya di ranah akademis menjadi sangat krusial dalam mengangkat proses kreatif dalam akademis. Kecenderungan yang kemudian kerap terjadi yang dikeluhkan oleh banyak komponis Indonesia senior seperti Alm. Slamet Abdul Sjukur dan juga Dr. Otto Sidharta adalah semakin mengakarnya proses kritis dalam berkreasi yang justru malah mengekang kreativitas itu sendiri. Proses kritis yang berlebihan oleh banyak komponis akademis dan mereka yang menjalani pendidikan penciptaan seni justru disibukkan oleh proses berpikir kritis dan refleksi sehingga lupa atau bahkan takut untuk berkreasi. Akhirnya yang terjadi adalah kontraproduktivitas terhadap penciptaan.

Proses kreatif meskipun mampu diintegrasikan dengan refleksi kritis dan akademis tetapi sebenarnya adalah aktivitas yang independen terhadap keduanya. Seseorang tidak harus mampu berefleksi dan kritis untuk mampu menciptakan sebuah karya berkualitas, meskipun refleksi dan pemikiran yang kritis akan mampu membantu menambah bobot dari karya tersebut. Namun janganlah sampai refleksi kritis yang berlebihan justru menjauhkan seorang aspiran komponis dari minatnya mencipta.

Pada akhirnya, refleksi akademis hanyalah sebuah alat. Ia memuluskan jalan proses kreatif masuk dalam khasanah keilmuan dan menjelaskan proses kreatif dalam tatanan yang lebih rinci, mendalam dan sistematis. Meskipun demikian ia hanyalah sebuah proses yang memperkaya seorang insan kreatif terutama dalam memahami sistematika berpikirnya sendiri dan menyelami proses kreatif yang lebih terstruktur juga terarah. Setiap aspiran yang berangkat menjadi komponis lewat jalur akademis akan diuntungkan oleh kerangka berpikir ini, namun ia bukanlah segalanya.

Pada akhirnya, orang tidak lagi bertanya bagaimana proses refleksi itu terjadi, melainkan bagaimana refleksi kritis itu inheren dalam karya-karya yang dihasilkan. Tidak banyak yang menyelidik, buku corat-coret Ludwig van Beethoven yang terkenal yang memuat coretan-coretannya ketika membangun struktur karya-karyanya, sebuah buku saku yang siap sedia dikeluarkan untuk mencatat ide-ide dan di mana ide-ide itu juga diolah dalam berbagai kesempatan. Tapi karyanyalah yang diutamakan dan bukan kertas buramnya.

Berkarya, itulah kunci yang terutama.

 

Iklan
About mikebm (1265 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: