Kabar Terkini

Keseimbangan dalam Menyanyi – Pelatihan Olah Suara Asuhan Prof. Rudolf Piernay


~ oleh JC Pramudia Natal

Telah dua pekan lebih kita memasuki tahun 2017, namun perayaan tahun baru masih terasa baru kemarin. Dan perasaan itu semakin kuat karena di tahun 2017 ini penulis merayakan hari pertama tahun yang baru dengan pengalaman berharga yang demikian langka. Penulis berkesempatan memirsa pelatihan vokal yang diselenggarakan oleh Studio Musicasa dengan pengampunya Rudolf Piernay.
Kepenuhan Hidup Dalam Olah Suara

Memanggilnya sesederhana Maestro atau Profesor, bahkan menurut penulis masih terlalu menyederhanakan musikalitas dan kualitas pedagogi yang dihidupi oleh Profesor Piernay.

Beliau memulai pembelajaran musiknya sejak belia hingga remaja di Städt. Konservatorium and Staatl. Hochschule für Musik und Darstellende Kunst, Berlin. Kemudian beliau menerima beasiswa DAAD (German Academic Exchange Service) dan melanjutkan ke Royal Academy of Music sebelum menyelesaikan studinya di The Guildhall School of Music & Drama, London. Pengajar olah suara beliau merentang berbagai negara (Prof. Harry Gottschalk di Berlin; Joy Mammen, Walther Gruner and Lucie Manén di London; Cornelius L. Reid di New York, dan Pierre Bernac di England and France).

Dengan 2 kali berturut-turut memenangi “Das Podium Junger Solisten”, yang disponsori Deutscher Musikrat, Profesor Piernay membuka jalan ke lebih dari 100 penampilan recital dan oratorio (hanya untuk skala Jerman). Di luar Jerman dapat dikatakan Prof. Piernay telah tampil di seluruh belahan dunia (Siberia hingga Australia, Perancis hingga Kanada).

Musikalitas beliau semakin langgeng dengan terjun ke dunia pedagogi suara. Berturut-turut, tahun 1974 diangkat sebagai Profesor di almamater The Guildhall School of Music & Drama, Fellow di institusi yang sama (1981), Associate The Royal Academy of Music (1990), Profesor of Singing di Hochschule fur Musik Mannheim (1991), Profesor Tamu di Hochschule fur Musik Detmold (1992-1993). Di luar jadwal rutin di atas, pembelajaran seumur hidup beliau dapat rutin ditemui belahan Eropa (Wiener Meister Kurse – European Music Institute Wina dan Mozarteum Summer School Salzburg) dan juga Amerika (Ravinia Festival – Steans Institute, the Chicago Lyric Opera Centre for American Artists, the Houston Grand Opera Studio, the Lindemann Young Artist Development Program (Metropolitan Opera NY), dan the “Songfest” in Los Angeles). Beberapa dari muridnya termasuk Bryn Terfel, Kate Royal, dan Joseph Kristanto Pantioso yang merupakan pendiri dan pengampu senior olah suara di Studio Musicasa.  

Dengan rekam jejak yang sudah memenuhi siklus seimbang (pelajar musik, penampil musik, pembelajar musik) dan pencapaian wahid (akademis, karir, dan murid-murid gemilang), mendapatkan bimbingan dari Profesor Piernay adalah sebuah kesempatan emas untuk mengembangkan cakrawala pemahaman mengenai seni olah suara musik seni.

Intensitas Yang Menyeluruh

Dalam wawancaranya dengan La Scena Musicale Bryn Terfel menyinggung bagaimana Profesor Piernay “membelajarkan olah suara melalui komposisi-komposisi (worked on voice through songs)”. Dan persis demikianlah yang beliau tunjukkan pada kegiatan 1 Januari kemarin (penulis menghadiri sesi sore terakhir dengan tiga peserta aktif). Bukan hanya konsistensi kejelian titi nada, pemahaman lirik bahasa secara kontekstual menyeluruh, dan interpretasi pertunjukan panggung, namun atensinya kepada pribadi penyanyilah yang menarik perhatian penulis.

Secara intens Piernay mengkaji seluruh aspek komposisi dan juga penyanyi hingga di akhir setiap sesi Piernay membedah kekuatan dan kelemahan setiap penyanyi dan memberikan umpan balik yang bersifat pribadi. Umpan balik ini tidak melulu bersifat sesuatu yang teknis semacam ketepatan titi nada dan penguasaan interval, atau fonetik-fonologi (suku) kata; namun mencakup pemahaman kontekstual lirik lagu, sejarah komposisi dan komposer (termasuk penulis lirik), dan bahkan secara halus pengaruh latar psikis dengan penampilan penyanyi.

Misal saat mengupas Casta Diva karya Vincenzo Bellini, Profesor Piernay berbagi mengenai karakter suara yang tepat untuk membawakan tokoh Norma ini, yaitu “light, fast, but loud” (ringan dan lekas, namun lantang). Selanjutnya ia secara intens melatih bar 32 – 37 (Senza vel, Si. Senza vel.), salah satu bagian menantang dari karya ini; passagio panjang yang mengelindankan dukungan energi napas dalam not crotchet bertitik dan quaver bertitik dengan ketepatan dan kelenturan titi nada mengarungi turunan curam interval semi-tone dalam not demi-semi-quaver. Di akhir sesi Prof. Piernay berbagi bentuk-bentuk pemanasan interval semi-tone beserta referensi soprano-soprano yang dapat dijadikan acuan saat membawakan Casta Diva.

Pemahaman Kontekstual Lirik Lagu

Dari teknik dan karakter suara Prof Piernay menggeser fokusnya kepada pemahaman kontekstual komposisi, komposer, dan penulis lirik saat membedah Abends am Strand (“Wir sassen am Fischerhause”) karya Robert Schumann dengan penulis Heinrich Heine. Dengan penuh kedalaman bahkan Profesor Piernay berkomentar sebenarnya beliau tidak ingin membahas lagu ini karena

  1. secara nilai moral lagu ini dengan gamblang memuat pandangan pribadi Heine yang sangat sarkas (We talked of storm and shipwreck, of the sailor and how he lives, of his life between sky and water, between fear and joy / Wir sprachen von Sturm und Schiffbruch, Vom Seemann, und wie er lebt, Und zwischen Himmel und Wasser, Und Angst und Freude schweb), penuh prasangka (We talked of distant shores, Of South and of North, And of the strange people, And strange customs there/ Wir sprachen von fernen Küsten, Vom Süden und vom Nord, Und von den seltsamen Menschen Und seltsamen Sitten dort), dan rasis (In Lapland there are dirty people, Flat-headed, big-mouthed, small; They squat round fires, and fry Fish, and squeak and scream/ In Lappland sind schmutzige Leute, Plattköpfig, breitmäulig, klein; Sie kauern ums Feuer und backen Sich Fische, und quäken und schrein). Sebagai warga negara Jerman yang lahir dan tumbuh besar tepat setelah PD II lirik Heine ini justru bagi beliau membangkitkan perasaan-perasaan yang dekat dengan Nazisme dan Hitler.
  2. Secara artistik melodi gubahan Schumann bagaikan asam (“is like acid”) yang menjadikan lirik tajam, sarkas, dan rasis Heine terasa hambar (“sour”). Menarik, bahwa laman daring hyperion-records dalam resensinya mengenai lieder Schumann dari lirik Heine mengupas bahwa pertemuan keduanya terjadi ketika Schumann baru berusia 18 tahun, dan kepribadian Heine begitu memukau Schumann. Seolah mengamini analisis Profesor Piernay, maka kita dapat terjaga bahwa Schumann (sebagai seorang seniman dan intelektual muda) mungkin menggubah melodi Abend Am Strands sebagai ode kepada Heine dan bukan sebuah interpretasi musikal terhadap puisi. Di sinilah menurut Piernay “Am Abend Strand” menemukan kegagalan sebagai sebuah karya lieder, karena melodinya tidak “heightened the quality of the poem” (meninggikan kualitas lirik).

Dengan begitu bersayapnya makna yang dikandung Abend Am Strand tidak heran waktu panjang (30 – 35 menit) dihabiskan Profesor Piernay untuk membedah fonetik dan fonologi suku kata. Tidak berhenti di situ, saat bernyanyi tidak kurang dari tiga kali Profesor Piernay memberhentikan penyanyi untuk bertanya “What do you think happen?” (lebih kurang dimaknai, “ dalam bayanganmu apa yang terjadi?”). Kegigihan Piernay untuk menggali pemaknaan penyanyi terhadap lirik mengingatkan penulis akan pesan ahli linguistik FX Rahyono bahwa makna semantik atau penghayatan pengujar terhadap ucapan (dalam hal ini penyanyi terhadap lirik) memberikan kehidupan ke dalam bahasa, lebih daripada sekadar mengerti cara mengucapkan dan arti kalimat. Atau dalam konteks Piernay artikulasi fonetik dan fonologi penyanyi harus mencapai tingkat membuat penonton mampu membayangkan gambaran yang kontekstual dengan keadaan hidup penggubah lirik.

Sebagai tips untuk melatih lagu-lagu wordy (istilah beliau) seperti Am Abend Strand, Profesor Piernay menyarankan penyanyi melafalkan lirik dalam irama ketukannya dengan resonansi bagaikan khotbah pastur yang bergaung di gereja. Resonansi ini dapat dicapai dengan membayangkan bahwa terdapat paruh proyeksi suara di sekitar area hidung-mata. Beliau juga berulang kali mengingatkan bahwa “consonant is the catapult to shoot the vowel, especially the first one (consonant and vowel) of every word” (bunyi mati adalah ketapel untuk menembakkan bunyi hidup, terutama bunyi pertama (dari kedua jenis) dari setiap kata). Lantas beliau juga memberi tips bahwa untuk lebih membuka rongga resonansi penyanyi dapat melatih diri menggunakan nomor Apres Un Reve Gabriel Faure yang baik melodi dan tata-kata liriknya memungkinkan penyanyi mengeksplorasi paruh proyeksi suara.  

Citra Nada dan Bunyi

Usai dibombardir dengan pemahaman dan penghayatan lirik dalam lagu (sementara Piernay menghabiskan hanya 30-40 menit untuk Casta Diva, nomor Abend Am Strand dibahas hingga 75 menit, 18.05 – 19.10) , pada nomor terakhir Ach Ich Fuhl’s karya Wolfgang Amadeus Mozart Profesor Piernay kembali ke dalam ranah teknis, terutama penguasaan (dan penghayatan) titi nada. Beliau mengingatkan penyanyi bahwa “Pre-hear where you want to go, don’t sing if you don’t have the note” (Pranala arah [titi nada] mu, jangan bernyanyi jika kau tidak memiliki nadanya”). Tidak heran jika bagian yang cukup dikaji lama pada nomor ini adalah bar 33-34 (“so wird Ruh”) dengan kata “Ruh” menantang sang penyanyi melompat satu oktaf ke g’ dari kombinasi crotchet-quaver nada g dalam irama 6/8.

Dari tiga nomor di atas bukan hanya penyanyi yang terkena himbauan Profesor Piernay. Kepada para pianis beliau mengingatkan untuk selalu dapat mendengarkan irama dari penyanyi. Yang lebih menantang, Piernay juga menuntut pianis untuk memiliki bayangan dan visi mengenai resonansi bunyi yang dihasilkan dari akurasi waktu penekanan dan pelepasan tuts. Pesan ini perlu dilihat dalam lingkup lebih luas; instrumentasi dan kontrol. Piernay mengomentaso dua lagu berlatar belakang orkestra yang dimainkan pianis. Berbeda dengan orkestra yang dapat mengandalkan abaan pengaba, pianis hanya dapat mengandalkan dirinya sendiri di atas panggung. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pianis pengiring juga harus mampu memiliki pemahaman bunyi (panjang-pendek bunyi dan durasi gaung) sebagaimana pengaba, sehingga kualitas nada, ketukan, harmoni, dan irama yang dihasilkan tetap sama walau dengan intrumentasi yang berbeda. 

Menyanyi Sebagai Pemahaman Yang Seimbang Menyeluruh

Singing is a balance relation between flow and impediment of air through the vocal chord” (Menyanyi adalah sebuah hubungan seimbang antara aliran dan hambatan udara yang melalui pita suara). Definisi menyanyi di atas dari Prof. Piernay di atas tidak hanya menggambarkan tuntutannya yang mendetil terhadap aktifitas menyanyi itu sendiri. Dikaji lebih lanjut beliau juga menuntut keseimbangan yang sama antara keinginan kita untuk berekspresi melalui lagu (dengan kita menghadiri lokakarya musik seni berarti sedikit banyak kita ingin berekspresi melalui musik seni menurut beliau) dan penghargaan kita terhadap komposisi yang kita tampilkan dan potensi diri sendiri.

Menghargai potensi diri dan komposisi diantaranya dicapai melalui disiplin melatih diri dengan pemanasan yang terkait langsung dengan lagu yang akan kita bawa (Casta Diva dan Ach Ich Fuhl’s), mengeksplorasi kemungkinan produksi bunyi dan penghayatan makna lirik sementara menyeimbangkan antara interpretasi dan pengetahuan mendalam terhadap sejarah lagu (Abend Am Strand dan para pianis pengiring).

Dan berkaca dari sejarah dan pencapaian Profesor Piernaay, keseimbangan holistik dunia olah suara musik seni benar-benar sudah digapai beliau, baik sebagai penampil di atas panggung atau pembelajar di hadapan murid-muridnya.

Danke Schoen, Profesor Piernay.

~ JC Pramudia Natal adalah pendidik musik yang aktif mengajar di Jakarta dan Tangerang

Iklan
About mikebm (1225 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: