Kabar Terkini

Pudarnya Kolektivitas Bermusik


Dewasa ini, kolektivitas semakin menjadi sebuah komoditas yang mahal. Didorong oleh komunitas yang semakin individual dan dibebat kapitalisme, kolektivitas perlahan berubah menjadi ide yang irelevan dalam kehidupan. Kebersamaan menjadi hal yang semakin mahal termasuk dalam kegiatan bermusik.

Kolektivitas dalam bermusik pun kini terancam. Orkestra menjadi tidak feasible, gamelan pun juga perlahan ditinggalkan dan kegiatan bermusik dalam kelompok besar perlahan lenyap. Bermusik pun kini mengusung pemain yang lebih sedikit, band dengan lima bahkan tiga orang, bahkan seorang DJ bisa berdiri seorang diri bergoyang sembari menjadi ‘sang Tuhan’ dalam sebuah rave party. Teknologi pun tidak ayal mempercepat proses ini.

Teknologi dalam industri konvensional berperan memperketat dan meningkatkan sabuk kapitalisme. Demi alasan untung-rugi, teknologi memungkinkan hilangnya tenaga kerja dengan dalih sebuah efisiensi. Semuanya dimungkinkan dengan teknologi. Robotika perlahan menggantikan kerja tenaga ahli, mesin pengangkut menggantikan peran kuli angkat. Atomatisasi proses lelang menghilangkan peran pelelang. Semuanya perlahan menghilang dalam cakupan teknologi. ‘Repetisi mekanistik’ yang dicetuskan Adorno dan Horkheimer dalam menciptakan produk budaya semakin terasa dengan teknologi, teknologi yang kini semakin berkembang hingga proses repetisi semakin pendek dan tidak lagi teridentifikasi dengan gamblang. Pencetakan piringan hitam kini hanya sejauh koneksi streaming data yang waktu penyalinannya tidak lagi terasa.

Dalam bermusik, teknologi juga perlahan menggantikan manusia. Orkestra besar kini perlahan mulai tergantikan oleh rekaman sampling suara yang semakin beragam. Tidak perlu lagi bigband jazz, kini satu orang DJ dan perangkatnya bisa membuat satu arena sontak bergoyang. Kesukaan bermusik pun tersalurkan lewat utak-atik perangkat dan komputer di mana setiap insan kreatif bekerja. Dengan synthesizer digital beragam suara tercipta, menjadi kreatif tidak lagi menjadi proses bersama, setiap pribadi semakin terkotak dan terasing dalam dunia kreatif musikalnya sendiri.

Selain tidak dimainkan bersama, musik juga tidak lagi didengarkan bersama. Individu dan selera pribadi meraja lewat kuasa earphone dan musik yang awalnya dinikmati secara kolektif di tengah-tengah sahabat dan bahkan orang yang tak dikenal. Bahkan orang-orang setengah abad yang lalu yang masih nongkrong di depan radio mendengarkan bersama acara radio, kenikmatan menonton sudah menjadi monopoli pribadi.

together

Perlahan aspek komunal dari penciptaan dan penikmatan musik tertanggalkan dan ini tidak terlepas dari semangat kapitalisme. Dalam semangat individual yang tinggi, musik pun menjadi ladang yang harus meningkatkan efisiensi dengan mengorbankan kolektivitas. Hal serupa dapat dilihat perbandingannya dalam perkembangan teknologi pertanian. Menghilangnya pertanian tradisional ketika otomatisasi terjadi menyebabkan hilangnya semangat kolektif dalam dunia pertanian modern. Mesin yang difungsikan oleh satu orang petani akhirnya menggantikan puluhan pekerja yang sebelumnya ada. Di saat yang bersamaan, hilang juga gaya hidup kolektif para petani yang dahulu tinggal mengelilingi ladang bersama dengan budaya mereka. Otomatisasi dan artifisis seakan menjadi jawab atas ‘persoalan’ ekonomi yang terdorong oleh keserakahan ‘ekonomis’ pemilik modal.

Musik pun menjadi semakin individualistis yang dibayangi dengan iming-iming uang yang lebih menggiurkan. ‘Less is more’ menjadi slogan umum bahkan dalam dunia musik yang semakin mengerut. Pekerjaan proyek orkestra kini bisa digantikan oleh ragam sample suara. Berbekal sedikit uang dan satu orang staf penata suara ahli, hilanglah pekerjaan 50 orang lainnya. Honor sebuah band juga bisa diraup oleh satu orang saja tanpa terbagi berbekal perangkat yang tepat.

Mekanisme pasar terbuka akhirnya menggerus musik. Musik pun perlahan tertelan dalam dinamika prinsip ekonomi, ‘yang iritlah, yang meraja’. Persaingan bebas membuka kemungkinan, namun juga mematikan bagi kolektivitas yang ada. Sudah saatnya melihat aspek keindahan musik secara lebih utuh, efisiensi anggaran bukan menjadi jawab. Bukan hanya aspek keindahan yang akan diangkat karena akan ada saatnya keindahan pun terkejar dengan artifisis. Aspek kemanusiaan yang kini harus menjadi yang utama, dan kolektivitas manusia adalah hal yang integral dengannya. ‘Manusia sejatinya adalah makhluk sosial’ demikian Aristotles berkata, dan semoga sosial kolektif ini pun masih tercermin dalam praktek bermusik kita.

Iklan
About mikebm (1238 Articles)
An arts journalist, a conductor, an educator, a young arts manager whose passion drove him to leave a multinational IT cooperation to study Arts Administration and Cultural Policy in London and went back to Indonesia to build the scene there.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: